Pembangkangan Turki terhadap Sanksi AS atas Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i59362-pembangkangan_turki_terhadap_sanksi_as_atas_iran
Menteri Ekonomi Turki, Nihat Zeybekci mengatakan Ankara tidak akan mengikuti permintaan Washington agar menghentikan pembelian minyak dari Iran.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 28, 2018 12:48 Asia/Jakarta
  • Turki memenuhi bagian penting dari kebutuhan gas dan minyaknya dari Iran.
    Turki memenuhi bagian penting dari kebutuhan gas dan minyaknya dari Iran.

Menteri Ekonomi Turki, Nihat Zeybekci mengatakan Ankara tidak akan mengikuti permintaan Washington agar menghentikan pembelian minyak dari Iran.

Dalam konferensi pers di Ankara, Rabu (27/6/2018), Zeybekci mengatakan permintaan AS untuk menghentikan transaksi minyak dengan Iran tidak mengikat bagi Turki.

Dia menambahkan bahwa Turki hanya akan mengikuti keputusan PBB mengenai masalah tersebut.

"Kami akan memperhatikan agar teman dan saudara kami Iran tidak akan menghadapi perlakuan yang tidak adil," tegas Zeybekci.

Pada 26 Juni lalu, AS telah memperingatkan sekutunya bahwa mereka harus mengakhiri impor minyak Iran pada 4 November atau mereka akan menghadapi hukuman di bawah sanksi yang diterapkan Washington terhadap Tehran.

Demi menerapkan tekanan terhadap Tehran, AS akan berupaya menghentikan penjualan minyak mentah Iran secara penuh.

Turki senantiasa menentang sanksi Amerika terhadap Iran dan menolak mengikuti tindakan sepihak itu. Keputusan Turki ini kembali pada hubungan bersejarah kedua negara dan perselisihan antara Barat dan Ankara.

Iran merupakan salah satu dari 10 mitra utama perdagangan Turki dan kedua negara secara historis memiliki hubungan perdagangan yang sangat kuat. Data menunjukkan bahwa dalam 3 tahun terakhir, hubungan bisnis Iran-Turki mencapai lebih dari 9 miliar dolar per tahun.

Presiden Iran, Hassan Rouhani dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Volume perdagangan antara kedua negara turun drastis selama periode penerapan sanksi internasional yang tidak adil terhadap Iran. Angka perdagangan Turki dan Iran rata-rata mencapai 21 miliar dolar pada tahun 2012. Namun, angka itu turun ke level 14 miliar dolar setelah penerapan sanksi internasional pada 2014.

Pengamat dari Carnegie Endowment for International Peace, Ali Bakeer mengatakan, penerapan sanksi baru terhadap Republik Islam Iran akan menambah biaya impor energi bagi Turki.

"Terlepas dari upaya Ankara untuk mendiversifikasi impor energinya, Turki masih sangat bergantung pada Iran dan Rusia untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan minyak dan gasnya. Pada 2017, Iran menyediakan sekitar 44,6 persen dari total pasokan minyak dan 17 persen dari total impor gas Turki; sisanya sebagian besar berasal dari Irak, Rusia, Kuwait dan Arab Saudi," ujarnya.

Jika mengurangi impor minyak dari Iran, berarti Turki harus meningkatkan impornya dari tempat lain, yang akan lebih mahal karena biaya transportasi yang lebih tinggi.

Menurut Ali Bakeer, sanksi baru terhadap Tehran berpotensi meningkatkan harga energi di dunia.

Dari sisi lain, Turki terlibat ketegangan dengan Barat sejak tahun 2016 dan turut merasakan sanksi sepihak Amerika. Selama masa itu, Ankara berkali-kali berselisih dengan Washington dan mereka menolak mengikuti kebijakan Amerika.

Masalah ini telah mendorong Turki untuk mempertahankan hubungan perdagangan dengan Iran dan melawan sanksi sepihak Amerika. (RM)