Amerika Tinjauan dari Dalam 21 Oktober 2018
-
Presiden Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Dinamika Amerika Serikat pekan lalu diwarnai sejumlah peristiwa penting di antaranya sikap Presiden Donald Trump terkait pembunuhan wartawan Saudi, Jamal Khashoggi, AS sedang merayu Eropa agar meninggalkan kesepakatan nuklir Iran, Trump menolak kedatangan imigran ke Amerika, dan Trump digugat agar menghentikan serangan terhadap media.
Sikap Trump Soal Pembunuhan Khashoggi
Kasus pembunuhan wartawan kritis asal Arab Saudi Jamal Khashoggi, ikut menggemparkan Gedung Putih dan Amerika Serikat. Arab Saudi adalah salah satu sekutu strategis Barat di Timur Tengah dan pembeli utama senjata dari Amerika dan Eropa. Negara itu juga memainkan peran penting di bidang ekspor minyak dan investasi di negara-negara Barat.
Khashoggi dinyatakan hilang pada 2 Oktober lalu setelah memasuki gedung konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Tindakan brutal Riyadh membunuh Khashoggi telah mengundang reaksi dan kecaman dari seluruh dunia dan bahkan dari Presiden AS Donald Trump.
Trump dalam sebuah komentar kepada wartawan pada Kamis (18/10/2018), mengakui bahwa Khashoggi sudah tewas. Saat menjawab pertanyaan tentang peran Saudi dalam kematian Khashoggi dan konsekuensinya bagi Riyadh, Trump menuturkan, "Ini sangat buruk, mari kita tunggu apa yang akan terjadi."
Arab Saudi secara resmi mengakui pembunuhan itu untuk pertama kalinya, namun menyisakan banyak pertanyaan yang tak terjawab tentang kematian jurnalis di konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.
Pada Jumat lalu, Trump menuturkan bahwa ia percaya penjelasan Arab Saudi atas kematian Khashoggi dan menyebut penangkapan 18 warga Saudi sebagai "langkah pertama yang baik."
Dia mendorong Saudi untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang Khashoggi setelah Riyadh mengubah ceritanya dan mengakui bahwa wartawan itu tewas dalam sebuah cekcok di gedung konsulat. Dalam wawancara dengan The Washington Post, Trump mengatakan bahwa jelas ada penipuan dan kebohongan.
Trump menambahkan bahwa dia tidak puas dengan penjelasan Riyadh tentang kasus pembunuhan wartawan dan kritikus pemerintah, Jamal Khashoggi di Istanbul.
Sebelum ini, sejumlah petinggi Eropa dan bahkan menteri keuangan AS menyatakan bahwa mereka tidak akan menghadiri konferensi investasi The Future Investment Initiative (FII) Conference di Riyadh pada 23-25 Oktober 2018. Menteri Perdagangan Inggris, Liam Fox dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, bergabung dengan yang lain dalam memboikot forum ekonomi di Riyadh.
Mereka bergabung dengan mitra utama Eropa dalam memboikot forum ekonomi terpenting di Arab Saudi, yang dijuluki Davos Padang Pasir sebagai respon atas dugaan pembunuhan Khashoggi.

AS Bujuk Eropa untuk Tinggalkan Kesepakatan Nuklir
Pemerintah AS sedang mendorong Eropa agar meninggalkan kesepakatan nuklir Iran. Trump selalu menyerang kesepakatan nuklir yang dicapai antara Iran dan kelompok 5+1, termasuk AS pada Juli 2015, dan menganggapnya sebagai perjanjian yang paling buruk.
Akhirnya, Trump pada 8 Mei 2018 menarik Amerika keluar dari kesepakatan nuklir dan mengembalikan sanksi-sanksi nuklir terhadap Iran pada Agustus dan November nanti. Sebaliknya, Eropa bertekad untuk mempertahankan kesepakatan nuklir dan telah melakukan pembicaraan panjang dengan Tehran dalam beberapa bulan terakhir.
Uni Eropa dilaporkan sedang bekerja untuk membangun sistem pembayaran langsung dengan Iran dan segera diterapkan. Saat ini, pemerintah AS memfokuskan upayanya untuk melaksanakan tahap kedua sanksi terhadap Iran mulai 4 November mendatang.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini mengatakan Eropa akan menjalankan rencananya untuk membangun sebuah jaringan perbankan demi menjaga hubungan bisnis dengan Iran dan menghindari sanksi AS. "Mekanisme Special Purpose Vehicle (SPV) akan memfasilitasi perdagangan dengan Iran dan akan diberlakukan sebelum November," tambahnya.
SPV bertujuan untuk menjaga arus perdagangan bahkan jika ada sanksi AS terhadap Iran.
Ternyata, langkah Eropa ini membuat Washington tidak senang. Duta Besar AS untuk Uni Eropa, Gordon Sondland mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan pendekatan Uni Eropa dalam berurusan dengan Republik Islam, dan cara-cara yang bertujuan untuk menjaga kesepakatan nuklir tetap utuh setelah Washington keluar dari perjanjian itu.
"Mekanisme khusus yang mereka siapkan untuk menghindari sanksi, tidak akan bekerja, karena kebanyakan perusahaan tidak akan memanfaatkan struktur itu. Mereka bisa membuat pilihan, mereka dapat melakukan bisnis dengan AS, mereka dapat melakukan bisnis dengan Iran. Tetapi mereka tidak dapat melakukan bisnis dengan keduanya," tegasnya.
Situs Spiegel Online baru-baru ini mengabarkan upaya bersama para menteri keuangan Jerman, Perancis, dan Inggris untuk membangun sebuah lembaga keuangan independen Eropa guna menghindari sanksi AS. Para ahli ekonomi menekankan penggunaan euro untuk transaksi dan memperkuat mata uang itu dalam menghadapi dolar AS.
Trump Menolak Kedatangan Imigran di AS
Presiden Donald Trump mencerca para imigran yang melakukan perjalanan ke perbatasan Amerika, dan mengatakan kepada para pendukungnya di kota perbatasan Mesa, Arizona bahwa negara ini tidak menginginkan mereka. "Ada beberapa orang jahat dalam kelompok itu. Negara ini tidak menginginkannya," ujarnya.
Pada Kamis lalu, Trump mengancam akan menutup perbatasan Amerika jika Meksiko gagal menghentikan arus imigran. Dia menekankan akan menindaklanjuti kebijakan pemisahan keluarga di perbatasan Meksiko. Dengan dalih efektivitas langkah pertama pemerintahnya untuk memisahkan anak-anak imigran dari orang tua mereka di perbatasan AS-Meksiko, Trump menandaskan dia sedang mempertimbangkan kebijakan baru.
Menurutnya, peningkatan jumlah penyeberang ilegal di perbatasan telah menciptakan "situasi yang sulit," dan argumen kami adalah bahwa memisahkan keluarga dapat mengurungkan rencana sebagian imigran gelap untuk masuk ke Amerika. "Jika imigran berpikir mereka akan terpisah, mereka tidak akan datang," tambahnya.
Sementara itu, mantan kepala CIA Michael Hayden mengatakan, "Kebijakan imigrasi AS yang memisahkan anak-anak dari orang tua mereka, mengingatkan pada kejahatan Nazi Jerman dan kamp konsentrasi Auschwitz. Jika proses ini tidak dihentikan, sejarah Nazi Jerman akan terulang di Amerika."

LSM AS Ajukan Tuntutan terhadap Trump
Organisasi pembela media AS, PEN America dan Protect Democracy mengajukan gugatan terhadap Presiden Donald Trump atas pernyataan, ancaman, dan tindakan yang membatasi kebebasan pers. Kelompok itu dalam gugatannya mengatakan bahwa tindakan Trump melanggar perlindungan konstitusional yang diberikan oleh Amandemen Pertama Konstitusi AS. PEN America menuduh presiden melanggar sumpah jabatan.
Gugatan itu meminta pengadilan untuk mencegah presiden memanfaatkan pemerintah dengan cara apapun untuk membalas, mengintimidasi, atau dengan kata lain membatasi ucapan kritis terhadap dirinya atau pemerintahannya. Secara khusus mereka membeberkan ancaman nyata Trump terhadap media seperti, The New York Times, The Washington Post, televisi CNN, dan NBC News.
PEN America didirikan pada tahun 1922 dan bertujuan untuk membela kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia.
Sejak memimpin AS pada 20 Januari 2017, Trump selalu menggunakan kata-kata kasar untuk menyerang lawan-lawannya dan media. Dari sudut pandang Trump, media adalah pembohong dan para jurnalis adalah orang-orang yang paling curang di muka bumi.
Pada Februari 2017, Trump menulis di akun Twitter-nya bahwa media berita palsu seperti, The New York Times, NBC News, ABC, CBS, dan CNN, bukan musuh saya, tetapi mereka musuh rakyat Amerika. Sejak kampanye pemilu presiden AS, Trump sudah terlibat konflik dengan media dan perseteruan ini terus berlanjut setelah dia berkantor di Gedung Putih.
Komisioner Tinggi HAM PBB, Zeid Ra'ad Al Husein mengatakan, "Presiden AS memiliki tanggung jawab yang berat untuk keselamatan para jurnalis di seluruh dunia. Upaya Trump menggambarkan anggota pers sebagai musuh rakyat Amerika mengkhawatirkan. Untuk memberi label pers dengan cara ini sangat mengkhawatirkan." (RM)