Rencana Trump Berpotensi Picu Perang Nuklir
https://parstoday.ir/id/news/world-i63290-rencana_trump_berpotensi_picu_perang_nuklir
Salah satu ranah konflik antara Rusia dan Amerika Serikat selama kepresidenan Donald Trump adalah bidang militer dan persenjataan.
(last modified 2026-07-29T04:05:44+00:00 )
Okt 21, 2018 12:41 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump.
    Presiden AS Donald Trump.

Salah satu ranah konflik antara Rusia dan Amerika Serikat selama kepresidenan Donald Trump adalah bidang militer dan persenjataan.

Dengan melihat rekam jejak Trump yang menarik AS keluar dari beberapa perjanjian internasional, sekarang ada potensi besar bahwa Washington juga akan meninggalkan beberapa kesepakatan bidang senjata.

Mengingat konflik tajam Washington-Moskow dalam konteks Traktat Kekuatan Nuklir Jarak-Menengah (INF), para pejabat tinggi AS sekarang menyerukan penarikan diri dari perjanjian itu dengan dalih pelanggaran ketentuan oleh Rusia.

Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton menyarankan agar AS meninggalkan INF. Dia juga ingin mencegah pembicaraan lebih lanjut tentang pembaruan perjanjian START baru 2010 antara Washington dan Moskow.

Meskipun usulan Bolton ditentang keras oleh Departemen Luar Negeri AS dan Pentagon, namun menurut surat kabar The New York Times, pemerintahan Trump akan bersiap untuk meninggalkan INF pada pekan depan.

Trump beralasan bahwa Rusia telah melanggar perjanjian tersebut, dan INF akan mencegah AS untuk mengembangkan senjata barunya guna melawan arsenal rudal Cina di Asia Timur.

Bolton dalam kunjungan mendatang ke Moskow, akan memberi tahu Presiden Rusia Vladimir Putin tentang keputusan AS untuk mundur dari perjanjian itu.

Trump dan Putin.

Jika AS benar-benar keluar dari JNF, ini akan menjadi perjanjian penting pertama tentang kontrol senjata nuklir yang diruntuhkan oleh Trump. AS berulang kali menuduh Rusia melanggar perjanjian ini selama empat tahun terakhir.

Mantan Presiden AS Barack Obama tidak keluar dari INF meskipun kerap menuding Rusia melanggar perjanjian.

Rusia dan AS saling melemparkan tuduhan terkait pelanggaran terhadap Traktat Kekuatan Nuklir Jarak-Menengah (INF). Kedua negara menandatangani INF pada Juni 1987 di Washington, dan menerapkannya mulai 1988.

INF melarang kedua negara untuk menyebarkan rudal balistik dan rudal jelajah di Eropa. Berdasarkan perjanjian ini, rudal jarak menengah 1.000 hingga 5.500 kilometer dan rudal jarak pendek dengan jangkauan 500 hingga 1.000 kilometer harus dimusnahkan.

Dengan menuduh Moskow melanggar INF, AS telah memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia dan bahkan mengancam negara itu dengan serangan militer. Duta Besar AS untuk NATO, Kay Bailey Hutchison pada awal Oktober lalu mengatakan, Rusia harus menghentikan pengembangan rahasia dari sistem rudal jelajah terlarang atau AS akan berusaha menghancurkannya sebelum itu beroperasi.

Dia kemudian mundur dari pernyataannya setelah mendapat reaksi keras dari Rusia. Kementerian Luar Negeri Rusia menganggap statemen Hutchison dan ancamannya untuk melakukan serangan militer sebagai pernyataan yang berbahaya.

Dimensi konflik antara AS dan Rusia, tampaknya sedang bergerak ke arah yang berpotensi pecahnya konfrontasi militer langsung. Dengan kata lain, perang antara dua kekuatan nuklir.

"Jika sebuah negara meluncurkan serangan nuklir ke Rusia, mungkin ini akan mengakhiri kehidupan di muka bumi, tetapi agresor harus tahu bahwa pembalasan tidak dapat dihindarkan dan itu akan menghancurkan," tegas Putin dalam sebuah statemen baru-baru ini. (RM)