Empat November, Batu Ujian Keseriusan Eropa
https://parstoday.ir/id/news/world-i63731-empat_november_batu_ujian_keseriusan_eropa
Beberapa hari menjelang implementasi babak kedua sanksi AS terhadap Iran, Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani menyerukan supaya negara-negara Eropa mewujudkan komitmennya terhadap JCPOA dengan menentang dikte Washington.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Nov 02, 2018 17:17 Asia/Jakarta
  • Pihak penandatangan JCPOA
    Pihak penandatangan JCPOA

Beberapa hari menjelang implementasi babak kedua sanksi AS terhadap Iran, Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani menyerukan supaya negara-negara Eropa mewujudkan komitmennya terhadap JCPOA dengan menentang dikte Washington.

Presiden Rouhani dalam tulisannya yang dimuat Finansial Times menegaskan urgensi langkah pihak Eropa bersama dengan Rusia dan Cina menyampaikan paket tawarannya untuk menghadapi sanksi Washington sebelum tanggal implementasi babak kedua sanksi AS. Presiden Iran mengingatkan bahwa "kesepakatan bersejarah ini akan berlanjut hanya melalui pemanfaatan potensi bangsa Iran terhadap capaian JCPOA".

Presiden Iran, Hassan Rouhani

Pasca keluarnya AS dari JCPOA pada 8 Mei 2018, Iran memberikan kesempatan kepada pihak Eropa bersama Rusia dan Cina untuk memberikan mekanisme demi menjaga kesepakatan nuklir internasional ini tanpa kehadiran Washington. Oleh karena itu, Iran dan Eropa melanjutkan dialog intensif dan akhirnya pihak Eropa berjanji akan memberikan mekanisme finansial khusus untuk melanjutkan hubungan ekonomi dan perdagangan sebelum 4 November.

Mekanisme khusus finansial yang ditawarkan Eropa, SPV bertujuan untuk menjaga kelanjutan hubungan perdagangan dengan pemerintah Iran  di tengah gencarnya sanksi AS. SPV berbeda dengan Swift yang berlaku di tingkat dunia, hanya untuk regional Eropa saja. Oleh karena itu, AS tidak bisa merusak kesepakatan kawasan itu. Dollar AS dalam sistem SPV tidak berlaku dan seluruh pembayaran dilakukan dengan mata uang euro.

Keputusan Eropa yang tidak bersedia mengikuti dikte AS menunjukkan efektivitas diplomasi aktif Republik Islam Iran setelah AS mengumumkan keluar dari kesepakatan nuklir internasional ini. Implementasi program ini bersama dengan langkah Cina dan Rusia yang melakukan transaksi dengan Iran menggunakan mata uang nasional menunjukkan gelombang baru perlawanan terhadap unilateralisme AS. Koran AS, New York Times menilai langkah AS menekan Iran menghadapi kesulitan besar.

Selain itu, kerja sama ekonomi dan perdagangan antara Rusia dan Cina dengan Iran, dan berlanjutnya pembelian minyak Iran oleh India, Korea Selatan dan Cina mengindikasikan sanksi AS mulai kehilangan taringnya. Bersamaan dengan itu, Ketua Komisi Finansial Duma Rusia, Anatoly Aksakov hari Kamis mengabarkan dimulainya pembicaraan antara Moskow dan Tehran mengenai bergabungnya Iran dalam sistem finansial Rusia, SPFS.

Rangkaian langkah negara-negara dunia ini membuat AS mengubah kebijakannya, termasuk memberikan pengecualian kepada beberapa negara untuk melanjutkan pembelian minyak mentah dari Iran.  

Media AS, The Washington Free Beacon menulis, tersambungnya Iran dengan SWIFT tidak akan terputus, AS mengambil langkah mundur dan memberikan pengecualian untuk melanjutkan perdagangan dengan Iran akibat tekanan Eropa.

Sejatinya, dinamika global menunjukkan sikap konsisiten Iran untuk tetap tegar di tengah gencarnya tekanan AS, dan kini Washington sendiri mulai mengoreksi langkahnya dengan memberikan pengecualian terhadap sejumlah negara untuk melanjutkan kerja sama dengan Iran. Iran juga senantiasa siaga dengan setiap kemungkinan yang akan diambil pihak lain, karena yang diperjuangkan adalah kepentingan bersama dan nasionalnya yang harus dipertimbangkan dalam implementasi JCPOA.(PH)