Selat Hormuz Kembali Bergejolak, Cadangan Minyak Global di Ambang Penipisan
-
Cadangan minyak dunia
Pars Today - Dana Moneter Internasional (IMF) dalam sebuah laporan menyatakan bahwa kondisi cadangan minyak akibat perang melawan Iran masih dalam keadaan kritis.
Sebagaimana dilaporkan Tasnim News mengutip IMF, 16 Juli 2026, perang terhadap Iran merupakan gangguan terbesar di pasar minyak dunia dalam beberapa dekade terakhir, yang secara drastis menaikkan harga. Namun, lonjakan awal berhenti di kisaran 90 hingga 100 dolar.
Para ahli menyebutkan kombinasi faktor seperti penurunan permintaan, peningkatan produksi di luar Teluk Persia, dan penarikan cadangan strategis sebagai alasan stabilitas relatif ini. Namun, mereka memperingatkan bahwa kapasitas-kapasitas ini hampir habis, dan jika ketegangan di Selat Hormuz meningkat kembali, pasar akan menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Penurunan Pasokan Minyak Mentah hingga 20 Juta Barel
Perang terhadap Iran secara efektif telah menjadikan Selat Hormuz sebagai jalur berisiko tinggi, dan sekitar 20 juta barel minyak mentah serta produk-produk minyak per hari, setara dengan seperlima konsumsi dunia, telah hilang dari akses pasar.
Produsen di Teluk Persia berupaya mengkompensasi sebagian kekurangan ini melalui jalur alternatif, seperti pipa minyak Arab Saudi ke Pelabuhan Yanbu dan peningkatan kapasitas Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab. Namun, solusi-solusi ini hanya menutupi sebagian kecil dari volume besar yang hilang dan tidak dapat dijadikan sebagai solusi jangka panjang.
Data menunjukkan bahwa hingga akhir Mei, lebih dari 1,1 miliar barel minyak mentah, setara dengan 10 hari konsumsi dunia, telah tidak sampai ke pasar. Jumlah defisit ini dalam periode waktu yang sama bahkan melampaui krisis-krisis besar seperti guncangan minyak 1973, perang Iran-Irak, dan Perang Teluk Persia.
Lalu bagaimana sistem global mengelola gangguan besar ini? Menurut para analis, tiga faktor kunci berperan dalam mengendalikan krisis ini:
Pertama, penurunan permintaan, yang sebagian besar terjadi di Asia. Dengan naiknya harga, konsumen beralih ke bahan bakar alternatif seperti batu bara dan energi terbarukan. Meskipun permintaan transportasi menunjukkan fleksibilitas yang lebih rendah karena subsidi dan batas harga.
Kedua, peningkatan produksi di luar Teluk Persia, yang mencapai hampir 2 juta barel per hari di atas level tahun 2025. Amerika memimpin peningkatan ini, dan Venezuela, Guyana, serta Rusia juga memberikan kontribusi signifikan.
Ketiga, penarikan dari cadangan, yang menutupi defisit harian sekitar 4 juta barel selama bulan Maret hingga Mei. Penarikan ini mencakup stok komersial Tiongkok dan cadangan strategis global.
Kondisi Masih Kritis
Namun, para ahli memperingatkan bahwa kapasitas-kapasitas ini kini sebagian besar telah habis. Sebelum putaran terakhir eskalasi ketegangan, kesepakatan kerangka antara Iran dan AS untuk membuka kembali selat tersebut telah menurunkan harga secara signifikan. Namun, kini ada ketidakpastian serius mengenai waktu pemulihan lalu lintas bebas di jalur perairan vital ini.
Perkiraan industri menunjukkan bahwa bahkan jika Selat Hormuz dibuka sepenuhnya, dibutuhkan waktu dua hingga tiga bulan agar aliran minyak kembali ke tingkat yang dapat diterima. Ada juga kekhawatiran tentang hilangnya produksi secara permanen di ladang-ladang yang sulit mendapatkan pembiayaan untuk memulai kembali operasi.(Sail)