AS Melunak di Sanksi anti Minyak Iran, Mengapa?
https://parstoday.ir/id/news/world-i63773-as_melunak_di_sanksi_anti_minyak_iran_mengapa
Pemerintah Amerika setelah enam bulan mengumbar ancamannya dan menentukan ekspor minyak Iran, akhirnya delapan negara konsumen utama minyak mendapat pengecualian sanksi dari Amerika Serikat.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 03, 2018 15:52 Asia/Jakarta
  • Trump dan Sanksi Minyak Iran
    Trump dan Sanksi Minyak Iran

Pemerintah Amerika setelah enam bulan mengumbar ancamannya dan menentukan ekspor minyak Iran, akhirnya delapan negara konsumen utama minyak mendapat pengecualian sanksi dari Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo bersamaan dengan pengumuman pemulihan seluruh sanksi yang telah dicabut karena kesepakatan nuklir dengan Iran (JCPOA), menyatakan, delapan negara untuk waktu yang terbatas dapat membeli minyak dari Iran.

 

Padahal sebelumnya, petinggi Amerika mengancam akan membuat ekspor minyak Iran ke titik nol hingga sehari setelah pelaksanaan sanksi periode kedua pada 5 November. Meski demikian kini bukan saja ekspor minyak Iran gagal mencapai titiknol, bahkan Tehran setiap hari hampir mengekspor minyak sebesar dua juta barel.

 

Bjornar Tonhaugen, Ketua bidang riset pasat minyak di lembaga Rystad Energy mengatakan, sangat kecil kemungkinan ekspor minyak mentah Iran mencapai titik nol. Penyebabnya adalah Cina. Beijing menolak permintaan Washington untuk menghentikan ekspor minyak dari Tehran dan juga memiliki jalan untuk mengesampingkan sanksi finansial Amerika.

Minyak Iran

 

Tak diragukan lagi mengingat perilaku penindasan dan intimidasi Amerika, ekspor minyak Iran di banding dengan era sebelum keluarnya negara ini dari JCPOA akan berkurang. Namun demikian, kenaikan harga minyak dunia akan menutupi kekurangan ini dan pendapatan Tehran akan sebanding dengan tahun sebelumnya.

 

Bahkan diprediksikan harga minyak untuk beberapa pekan ke depan akan melampaui harga saat ini. Riset lembaga yang aktif di pasar minyak global sepakat bahwa negara-negara produsen minyak termasuk Arab Saudi tidak memiliki kemampuan menutupi 2,5 juta barel minyak Iran. Oleh karena itu, pemerintah Amerika untuk mencegah kenaikan cepat harga minyak dunia, bersedia memberikan pengecualian kepada delapan negara konsumen utama minyak Iran.

 

Selain itu, Republik Islam Iran selama 40 tahun telah belajar berbagai jalan untuk mengabaikan sanksi dan dengan demikian Tehran saat ini juga mampu memasarkan minyaknya di pasar global tanpa intervensi Amerika Serikat. Sepanjang sejarah bahkan jual beli produk dan barang selundupan serta terlarang belum pernah mencapai titik nol. Apalagi produk strategis seperti minyak di mana kekurangan dan kelangkaannya akan memicu krisis besar ekonomi dan sosial di seluruh dunia.

 

Oleh karena itu, pemerintah Amerika bahkan sebelum dimulainya periode kedua pemulihan sanksi anti Iran, terpaksa mundur dari sikap sebelumnya. Presiden AS Donald Trump ketika negaranya keluar dari JCPOA menyatakan akan melumpuhkan perekonomian Iran dan John Bolton, Penasehat Keamanan Nasional AS beberapa hari lalu menggunakan istilah "menghancurkan" ekonomi Iran.

 

Mereka berulang kali mengaku optimis dengan terputusnya pendapatan Iran dari penjualan minyak, akan meletus pemberontakan dan demo di jalan-jalan Iran  serta Republik Islam pada akhirnya akan menerima tuntutan Washington.

 

Meski demikian selama ini bukan saja tidak terjadi kerusuhan dan aksi demo di jalan-jalan Iran serta juga Tehran tunduk pada tuntutan Washington. Kedepannya juga ambisi pemerintah Trump tidak akan terlaksana mengingat kesiapan ekonomi di dalam negeri Iran, rencana mekanisme finansial antara Iran dan Uni Eropa serta ekspor minyak Iran masih tetap berjalan. (MF)