Sanksi Zarif; Pertunjukan Keputusasaan AS Menghadapi Kekuatan Diplomasi Iran
-
Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran
Pemerintah Trump, dalam mengejar kebijakan tekanan maksimum, telah memprakarsai sanksi sepihak dan sangat luas terhadap Iran. Namun, pemerintah Trump belum puas dengan sanksi terhadap Iran ini dan sekarang telah mulai mempersonalisasi sanksi.
Dalam hal ini, Kementerian Keuangan Amerika Serikat pada hari Kamis, 1 Agustus menambahkan nama Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif ke daftar sanksi. Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kantor Pengawasan Aset Asing Kementerian Keuangan AS, alasan boikot Menteri Luar Negeri Iran adalah kepatuhannya langsung atau tidak langsung dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam.
Menanggapi sanksi pemerintah AS, Zarif menulis dalam tweet Kamis pagi, "Terima kasih telah menempatkan saya sebagai ancaman besar dalam mengimplementasikan tujuan dan rencana Anda. Amerika Serikat mengatakan telah mensanksi saya sebagai "juru bicara utama Iran di seluruh dunia"; apakah kenyataan begitu menyakitkan?
Zarif menjelaskan bahwa dia dan keluarganya tidak memiliki properti atau rekening bank di luar Iran dan menegaskan bahwa Iran adalah seluruh hidupnya dan satu-satunya komitmen. Menurut Menteri Luar Negeri Iran, satu-satunya efek, dan mungkin satu-satunya tujuan menempatkan namanya di daftar sanksi AS, adalah membatasi kemampuannya untuk berkomunikasi.
Langkah sanksi Washington terhadap Zarif benar-benar bertentangan dengan hukum internasional dan norma-norma diplomatik. Pemerintah AS melalui sanksi tehradap Zarif, berupaya mencegah kunjungan dan konsultasinya dengan para pejabat senior negara-negara dan lembaga-lembaga internasional, sehingga mencegah sikap Iran yang menuntut kebenaran untuk didengar dan semakin jelasnya langkah tidak manusiawi dan ilegal Washington.
Namun, sanksi terhadap Zarif telah menerima banyak reaksi negatif. Menurut para kritikus, langkah pemerintahan Trump menandai puncak keputusasaan Washington dalam menghadapi sikap Tehran yang kokoh dan kuat. Karena sekalipun pelbagai tekanan dan bahkan permohonan Trump dan para pejabat seior Amerika Serikat, Iran tidak sudi untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat.
Menyusul sanksi terhadap menteri luar negeri Iran, Reuters mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya menulis, "Trump ingin bernegosiasi dengan Iran, tetapi pemerintahnya menginginkan pihak yang berunding adalah pembuat keputusan nyata, dimana Zarif tidak demikian." Argumen pejabat Amerika ini disambut dengan antusiasme para pengamat.
Mantan Penasihat Internasional Kementerian Luar Negeri AS Robert Hunter merujuk pada klaim pejabat AS yang mengatakan Zarif bukan "pembuat keputusan," mengatakan, "Jika menurut pemerintah Trump, Zarif benar-benar orang yang tidak memiliki wewenang dan bukan mewakili kekuatan utama di Iran, lalu mengapa mensanksinya? Ini tindakan yang tidak bermakna."
Sejatinya, sanksi Washington terhadap Zarif dilakukan karena para pejabat Amerika mengetahui dengan tepat ia memiliki kemampuan untuk menciptakan hubungan dengan negara-negara lain dan menjelaskan sikap Iran yang menuntut kebenaran di komunitas-komunitas internasional. Amerika menganggap upayanya menjatuhkan sanksi terhadap Zarif berhasil mengurangi kemampuannya di bidang ini secara signifikan.
Sekalipun demikian, sebagian politisi Amerika masih beranggapan sanksi terhadap Zarif berarti melemahkan diplomasi dan kemungkinan terjadi perundingan dengan Iran. Wendy Sherman, mantan pejabat di kementerian luar negeri Amerika dalam tweetnya menyinggung klaim Trump soal perundingan tanpa syarat menulis bahwa keputusan pemerintah Trump untuk menjatuhkan sanksi terhadap Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran tidak membantu upaya diplomasi.
Selain itu, sebagian mantan pejabat Amerika Serikat menilai sanksi terhadap menteri luar negeri Iran sebagai langkah yang berimplikasi berbahaya. Jared Blank, mantan Koordinator Implementasi JCPOA di Kementerian Luar Negeri AS selain mengritik sebagian pejabat di pemerintahan Trump yang menjatuhkan sanksi kepada Zarif menyebut mereka bodoh, pembohong dan berbahaya.
Tampaknya, pemerintah Trump dengan menerapkan sanksi terhadap Zarif telah melakukan langkah yang tidak diperhitungkan secara matang yang menunjukkan puncak kepasifan Amerika Serikat dalam menghadapi perlawanan historis Iran menghadapi kebijakan arogan Washington.