Jalan Pedang Turki di Suriah
-
Menteri Luar Negeri Turki, Mevlüt Çavuşoğl
Di saat invasi militer Turki ke wilayah utara Suriah semakin meluas dan mengancam kehidupan jutaan warga Kurdi di negara ini, pemerintah Ankara menyatakan tidak akan bernegosiasi dengan Kurdi Suriah.
Menteri Luar Negeri Turki, Mevlüt Çavuşoğlu menanggapi usulan AS supaya menghentikan operasi militernya di Suriah, dengan mengatakan bahwa Turki akan bernegosiasi dengan teroris hanya jika senjata mereka dilucuti.
Presiden AS, Donald Trump menyampaikan harapannya dapat memediasi konflik antara Kurdi dan pemerintah Ankara untuk mengakhiri invasi militer Turki di wilayah utara Suriah. Trump baru-baru ini menanggapi pernyataan tentang koalisi Kurdi Suriah dengan AS dalam menghadapi kelompok teroris Daesh, dengan mengatakan, "Kurdi Suriah telah menerima upah dan penghargaan mereka dari setiap bantuan militer AS." Dengan pernyataan ini, presiden AS tampak menurunkan bekas sekutunya, milisi Kurdi, menjadi sebatas tentara bayaran AS. Di sisi lain, statemen ini menunjukkan tidak adanya keseriusan Trump untuk memediasi konflik kedua pihak, justru yang dilakukannya berupaya mengail ikan di air keruh.
Tampaknya, Masalah sentral dari invasi militer ini bukan mengenai tawaran AS untuk memediasi konflik, tapi justru berpusat di poros kepentingan politik pemerintah Ankara. Meskipun di dalam negeri Turki sendiri terjadi banjir protes, para pemimpin oposisi dan akademisi serta tokoh masyarakat negara ini berulang kali mendesak pemerintah Ankara untuk membuka pintu perundingan dengan Kurdi Suriah, tapi diabaikan oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan.
Murat Nazlı, analis politik terkemuka Turki Rabu (13/10) mengatakan, "Pemerintah Ankara bersikeras mengulang kesalahannya terhadap pemerintah dan rakyat Suriah selama bertahun-tahun. Alih-alih melancarkan operasi militer, Ankara seharusnya memperbaiki hubungan dengan pemerintah Damaskus. Sebab, memperbaiki hubungan akan menguntungkan kedua negara dan bangsa Muslim ini".
Meskipun muncul gelombang kritik terhadap pemerintah Ankara atas petualangan barunya di Suriah, tetapi pengalaman bertahun-tahun telah membuktikan bahwa pemerintah Erdogan tidak berhasil membangun dialog dalam penyelesaian konflik dengan kelompok oposisi di negara ini.
Misalnya, dalam penyelesaian masalah Kurdi sebelum 2015, dengan dalih ledakan di Suruc yang tidak pernah diidentifikasi dengan jelas, negosiasi jangka panjang ini gagal. Oleh karena itu banyak ahli menganggap ledakan di Suruc disengaja untuk merusak proses perdamaian Turki dengan Kurdi.
Pejabat Ankara ingin menunjukkan bahwa mereka tidak dapat menyelesaikan masalah domestik dan regional Turki secara damai. Tapi selalu menyelesaikannya dengan jalan militer. Oleh karena itu, langkah yang diambil Ankara dengan menghukum milisi Kurdi seperti PKK melalui pengerahan seluruh kemampuan militernya yang canggih. Tampaknya, apa yang dilakukan Ankara di wilayah utara Suriah juga tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, karena Erdogan memilih jalan pedang.(PH)