Ketika Dirjen IAEA Mengaku Netral terhadap Iran
-
Dirjen IAEA Rafael Grossi
Badan Energi Atom Internasioanl (IAEA) sebagai lembaga pengawasan PBB terhadap aktivitas dan instalasi nuklir, memainkan peran penting dalam menjamin langkah nuklir anggota dan menyebarkan pemanfaatan damai teknologi nuklir.
Dirjen IAEA Rafael Grossi dalam wawancaranya terkait pendekatan lembaga yang dipimpinnya menekankan, lembaga ini akan netral dan tegas dalam mengawasi aktivitas nuklir Iran. Grossi Ahad (22/12) saat diwawancarai Koran Der Standard Austria mengatakan, "Kami harus melakukan misi kita dengan netral. Lembaga ini tengah bernogesiasi dengan Iran, karena sebuah proses inspeksi terbaik harus disertai dengan dialog."
Saat menjawab pertanyaan mengenai pendekatan dirinya terhadap Iran, seraya mengisyaratkan berbagai laporan lembaga yang dipimpinnya, Grossi mengatakan, "Ketika kami tekankan, kami akan netral dan adil, yang Saya maksud adalah Saya tidak memiliki program dengan orientasi politik tertentu dan Saya harus bersikap netral tanpa penilaian pribadi."
Penekanan terbaru Grossi terkait sikap netral dirinya terkait program nuklir Iran ini dirilis mengingat ada sejumlah kekhwatiran terkait orientasi potensial IAEA di era kepemimpinannya demi pandangan Barat khususnya Amerika Serikat.
Mengingat posisi baru Grossi, sepertinya salah satu agenda penting dirinya adalah kesepakatan nuklri Iran (JCPOA) dan masa depannya. Republik Islam Iran berulang kali menegaskan pentingnya netralitas dan keadilan IAEA terkait program nuklir negara-negara anggota termasuk Iran. Grossi dalam wawancara terbarunya juga menekankan hal ini.
Dengan demikian diharapkan dirjen baru IAEA tidak akan tunduk pada represi dan pengaruh luar khususnya dari Amerika Serikat serta mengambil sikap dengan didasari keadilan dan netralitas. Mengingat bahwa sikap Grossi selama tiga tahun antara 2010 dan 2013, sebagai deputi bidang politik Yukiya Amano, mantan dirjen IAEA cukup keras terkait Iran, oleh karena itu, Tehran di sikapnya terkait penunjukan Grossi sebagai pengganti Amano dengan transparan mengungkapkan kekhawatirannya.
Wakil tetap Republik Islam Iran di organisasi-organisasi internasional di Wina. Kazem Gharib Abadi awal Desember 2019 saat merespon penunjukan Rafael Grossi sebagai dirjen baru IAEA menjelaskan bahwa Republik Islam senantiasa menekankan profesionalitas, independensi dan netralitas organisasi nuklir ini.
Ia mengingatkan, Tehran berharap IAEA dan pejabatnya untuk mempertahankan pendekatan ini dalam semua keadaan, dan bahwa Negara-negara anggota juga akan menahan diri dari memberikan tekanan pada organisasi ini. Menurut Gharib Abadi, mengingat tanggung jawab IAEA untuk menverifikasi implementasi JCPOA, dirjen baru juga harus seperti pendahulunya tetap mempertahankan peran penting organisasi ini dalam menjaga kesepakatan nuklir dengan benar.
Di saat ini, mengingat penurunan bertahap komitmen JCPOA Iran dalam empat langkah sebagai respon atas pelanggaran trioka Eropa tidak menjalankan komitmennya, Amerika menunjukkan sikap keras dan tekanan terhadap Eropa untuk menerapkan mekanisme serupa terhadap Tehran. Tak hanya itu, Amerika juga tetap melanjutkan kampanye besar-besaran represi maksimum terhadap Iran. Oleh karena itu, peran IAEA untuk saat ini sangat sensitif.
Sementara sikap zalim JCPOA Amerika menuai respon negatif anggota timur di Kelompok 4+1 khususnya Cina dan Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov hari Ahad dalam sebuah wawancara seraya mengisyaratkan standar ganda Amerika terhadap Iran dan menyebut omong kosong tuntutan Washington terhadap Tehran mengatakan, Washington tidak dapat melanjutkan metode interaksinya dengan Tehran, karena bukan saja dengan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB, AS menolak menjalankan resolusi mengikat 2231 Dewan Keamanan, tapi juga menggulirkan permintaan congkak kepada Iran.
Isyarat Lavrov adalah pendekatan AS yang melarang negara lain untuk melakukan perdagangan dengan Iran dan tuntutannya kepada Tehran untuk melanjutkan implementasi komitmen JCPOAnya. (MF)