Imigran Suriah, Sandera Erdogan Menekan Eropa
https://parstoday.ir/id/news/world-i79259-imigran_suriah_sandera_erdogan_menekan_eropa
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Bulgaria Boyko Borisov di Ankara, menolak usulan Uni Eropa dan menegaskan bahwa siapa pun tidak berhak mempermainkan kehormatan Turki.
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
Mar 05, 2020 10:01 Asia/Jakarta

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Bulgaria Boyko Borisov di Ankara, menolak usulan Uni Eropa dan menegaskan bahwa siapa pun tidak berhak mempermainkan kehormatan Turki.

Dia juga menuding negara-negara Eropa mengadopsi pendekatan standar ganda dalam hubungannya dengan pengungsi.

Statemen Erdogan ini menunjukkan bahwa ia sedang menekan Uni Eropa dan berusaha memperoleh konsesi yang lebih besar dari organisasi itu. Meskipun ia melakukan banyak upaya, namun sepertinya biaya petualangan pemerintahan Erdogan akan sangat mahal untuk masa depan rakyat Turki.

Seorang analis politik Arab, Javed El Hendawi dalam artikelnya di surat kabar Ray al-Youm menulis, “Erdogan telah kehilangan kepercayaan dari semua, sekutu dan musuh-musuhnya. Ia kehilangan kepercayaan dari Trump dan Putin serta dari seluruh pemimpin Eropa. Mereka menyadari pemerasan yang dilakukan Erdogan terkait masalah pengungsi Suriah.”

Sejak Turki melakukan intervensi dan menduduki wilayah Suriah, suara penentangan terhadap kebijakan pemerintahan Ankara mulai terdengar dari berbagai pelosok dunia. Kritik keras terhadap petualangan Erdogan bahkan terdengar di dalam Turki sendiri.

Namun, mimpi untuk menghidupkan kembali Imperium Ottoman tampaknya telah merasuki pikiran Erdogan. Langkah keliru dan petualangannya membahayakan kepentingan rakyat Turki.

Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Erdogan baru-baru ini berusaha menarik simpati rakyatnya dengan menyebut para tentara agresor Turki sebagai syahid dan menggunakan media untuk melegitimasi agresi militer Turki terhadap Suriah, yang bertentangan dengan Piagam PBB dan aturan hukum internasional.

Meski demikian, Erdogan dan pemerintahannya mulai pesimis karena tidak mendapatkan dukungan dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ia sepertinya terperangkap di jalan buntu dan tidak punya opsi lain untuk menghadapi Uni Eropa selain masalah pengungsi.

Banyak pengamat politik percaya bahwa mimpi-mimpi presiden Turki akan sirna dalam waktu dekat.

Erdogan berusaha meyakinkan para pejabat Eropa dalam pertemuan-pertemuan dengan mereka. Namun, sikap pemerintah Turki yang mengabaikan dua kesepakatan Sochi dan Astana serta kesepakatan dengan Iran dan Rusia, telah membuktikan bahwa presiden Turki bukan sosok yang dapat dipercaya sebagai mitra perundingan.

Dia sudah sering mengubah sikapnya dari posisi mengancam ke posisi meminta maaf kepada pihak lain. Sikap ini sebagai upaya mengulur-ngulur waktu sehingga militer Turki bisa menguasai lebih banyak daerah di Suriah.

Namun, Eropa dan Rusia akan berupaya menghentikan sikap ambisius Erdogan, sebuah sikap yang dapat menjadi bara api krisis yang lebih besar di wilayah Asia Barat dan Eropa. (RM)