Perselisihan AS dan Cina Mencegah Ratifikasi Resolusi Global Gencatan Senjata
Wabah virus Corona dan penyakit Covid-19 serta keadaan darurat saat ini telah menggandakan kebutuhan untuk meningkatkan solidaritas global. Untuk ini, PBB telah menyerukan diakhirinya konflik di berbagai belahan dunia.
Karena perbedaan pendapat antara Amerika Serikat dan Cina, Dewan Keamanan PBB gagal mengeluarkan resolusi yang menyerukan gencatan senjata kemanusiaan 90 hari di seluruh dunia karena berlanjutnya wabah virus Corona. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres sejak lebih dari sebulan lalu telah memaksa agar diselenggarakannya voting untuk resolusi ini. Ia percaya bahwa semua perang di seluruh dunia harus dihentikan untuk melawan virus Corona.
Menurut Guterres, "Dunia sekarang menghadapi musuh bersama yang disebut Corona, yang tidak peduli tentang kebangsaan, etnis, faksi atau kepercayaan apa pun, dan segera menargetkan semua orang." Ia menyerukan gencatan senjata sesegera mungkin di berbagai belahan dunia.
Ada ketidaksepakatan antara Amerika Serikat dan Cina mengenai penyebutan nama Organisasi Kesehatan Dunia dalam resolusi tersebut, yang tidak memberi kemungkinan ratifikasi cepat resolusi ini kepada Dewan Keamanan. Cina menegaskan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia disebutkan dalam resolusi tersebut, sedangkan Amerika Serikat menentangnya.
Resolusi yang dirancang oleh Perancis dan Tunisia dan telah diperdebatkan selama beberapa minggu terakhir, menyerukan gencatan senjata kemanusiaan 90 hari yang bertujuan membantu orang-orang rentan yang terlibat dalam perang di seluruh dunia, termasuk Afghanistan dan Yaman. Dalam hal ini, seorang diplomat mengatakan, "Ini adalah jalan buntu besar dan tidak ada pihak yang mundur. Kami berjalan di tempat."
Menyebutkan nama Organisasi Kesehatan Dunia hanyalah satu sisi masalah dalam rancangan resolusi yang berfokus pada mendukung gencatan senjata untuk sekitar 20 zona perang di seluruh dunia. Saat ini, resolusi mengabaikan bagian yang menyebutkan nama badan internasional ini, dan tugasnya akan ditentukan pada akhir negosiasi. Meskipun mereka yang mengusulkan resolusi ini dapat mengabaikan penyebutan nama organisasi internasional ini di dalamnya, Cina dapat terus menggunakan kekuatan veto terhadapnya dengan dukungan Rusia. Secara khusus, Beijing telah berulang kali memuji peran positif Organisasi Kesehatan Dunia dalam memerangi Corona, sementara Washington memiliki pendekatan yang sama sekali berbeda.
Presiden AS Donald Trump mengritik kinerja Organisasi Kesehatan Dunia terhadap wabah virus Corona dan mempertanyakan transparansi organisasi ini dalam menghadapi Covid-19 lalu menghentikan kelanjutan bantuan negaranya kepada organisasi ini. Trump, yang saat ini menghadapi kritik luas karena menganggap remeh wabah virus Corona dan kurangnya persiapan untuk menghadapi penyakit ini, telah menuduh Organisasi Kesehatan Dunia lambat dalam mengumumkan informasi yang tepat waktu untuk mengendalikan prevalensi coronavirus, terselubung dan tidak efektif.
Namun, klaim ini tidak digubris dan rakyat Amerika menganggapnya bertanggung jawab atas krisis saat ini. Trump juga mengarahkan jari tuduhan ke Cina dalam konteks epidemi Corona. Trump, yang memiliki sejarah panjang melarikan diri dari tanggung jawab dan menyalahkan orang lain agar dirinya tidak dituduh, sekarang berusaha keras untuk meluncurkan kampanye anti-Cina di dunia Barat dengan menyalahkan Beijing atas semua kemalangan yang sekarang terjadi di dunia. Barat, terutama Amerika Serikat, akan memaksa Beijing untuk membayar mahal kerugian yang terjadi.
Sekalipun Sekjen PBB Antonio Guterres mendukung terciptanya gencatan senjata global untuk memfasilitasi perang melawan Corona dan meminta pihak-pihak yang terlibat dalam konflik regional untuk menahan diri dari tindakan bermusuhan serta untuk menepis rasa tidak percaya dan permusuhan, tetapi ada banyak kendala dalam hal ini, terutama karena aksi destruktif AS.
Dengan demikian, meskipun diharapkan dalam beberapa hari terakhir dilakukan voting tentang resolusi gencatan senjata global, tampaknya melakukan voting dalam jangka pendek tidak akan terjadi karena perselisihan antara Amerika Serikat dan Cina terus berlanjut.