Motif Safari Menlu AS dari India ke Indonesia
https://parstoday.ir/id/news/world-i86641-motif_safari_menlu_as_dari_india_ke_indonesia
Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo kemarin tiba di New Delhi, ibu kota India, pada safari pertama tur Asia selama lima hari.
(last modified 2026-04-05T23:44:38+00:00 )
Okt 26, 2020 21:59 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo kemarin tiba di New Delhi, ibu kota India, pada safari pertama tur Asia selama lima hari.

Menteri Luar Negeri AS berencana melanjutkan tur Asia ke Sri Lanka dan Maladewa, kemudian ke Indonesia. Kunjungan Menteri Luar Negeri AS ke Asia dilakukan kurang dari dua pekan sebelum pemilu presiden AS.

Pertanyaannya, apa yang dicari Trump dengan mengirimkan menteri luar negerinya ke beberapa negara Asia? Apa misi Menteri Luar Negeri AS dalam kunjungan yang berlangsung di tengah penyebaran pandemi Covid-19 ?

Menurut banyak ahli, Cinafobia menjadi strategi utama pemerintah AS di Asia Timur. Tentu saja, kebijakan ini mengalami peningkatan sejak Trump memegang kunci Gedung Putih. Selama empat tahun terakhir, Trump telah mengintensifkan kebijakan Cinafobia dengan fokus pada konfrontasi terhadap Beijing di berbagai bidang.

Dengan menekankan pengaruh destruktif Cina dalam urusan dalam negeri AS dan interaksi global, Trump berupaya memobilisasi opini publik Amerika dan dunia, terutama di negara-negara Asia  supaya melawan Cina.

Pada saat yang sama, Trump melancarkan serangkaian upaya untuk menekan Cina. Namun pertanyaannya, mengapa para pejabat AS masih mengusung isu Cinafobia di kawasan itu? Apa yang memotivasi pejabat Gedung Putih menempuh langkah tersebut.

 

Xi Jinping dan Donald Trump

 

Tampaknya, dimulainya perjalanan lima hari Pompeo ke beberapa negara Asia merupakan bagian dari upaya baru AS untuk memperkuat hubungan dengan sekutu Asia melawan Cina.

Namun, sejalan dengan upaya ini, Presiden Cina, Xi Jinping pada peringatan 70 tahun masuknya negara itu ke dalam Perang Korea memperingatkan Amerika Serikat bahwa jalur intimidasi dan tekanan maksimum akan menemui jalan buntu.

Peringatan itu muncul ketika kandidat presiden AS berulangkali mengkritik Cina dalam debat terbarunya, dan mengatakan mereka akan meminta pertanggungjawabannya.

Tentu saja, penekanan Xi Jinping terhadap orang-orang Cina yang tidak menyerah kepada Amerika Serikat dipandang beberapa ahli sebagai peringatan serius bagi para pejabat AS. "Ini adalah pesan yang sangat jelas kepada Amerika Serikat yang dipimpin oleh pemerintahan Trump, karena semua istilah ini mencerminkan simbolisme dan karakter kebijakan luar negeri pemerintahannya," kata Lu Xiang, seorang peneliti di Pusat Studi Amerika di Akademi Ilmu Sosial Cina di Beijing. 

"Ketika keamanan, kedaulatan, dan kepentingan Cina dipertaruhkan, apakah hal ini berlangsung 70 tahun yang lalu atau sekarang, rakyat Cina tidak akan ragu untuk melawan penjajah dan mengalahkan mereka," kata Xi Jinping dikutip China Global Times.

Memahami situasi ini, beberapa ahli percaya bahwa kelanjutan Cinafobia yang dilancarkan Washington tidak akan konstruktif bagi Amerika Serikat sendiri. Xinhong, pakar politik Cina mengungkapkan, "Amerika Serikat ditantang oleh strateginya sendiri. Cina terlibat dalam berbagai masalah dengan Amerika Serikat, dan hal ini tidak konstruktif,"

Secara keseluruhan, pesan utama yang disampaikan Xi Jinping ditujukan kepada calon presiden Amerika Serikat, yang berarti bahwa siapapun yang akan menjadi presiden Amerika Serikat di masa depan, baik Trump atau Biden, maka dia harus menghentikan tindakan permusuhan terhadap Cina.

Kini kemajuan Cina di berbagai bidang mulai dari ekonomi dan militer hingga ilmiah dan teknis telah membunyikan lonceng peringatan bagi Washington bahwa Cina, tanpa menembakkan satu pelurupun bisa menjadi kekuatan dan tantangan terbesar AS. Hal itu terjadi pada negara itu, dan upaya kontraterorisme AS untuk menghentikan Beijing tampaknya tidak akan membuahkan hasil.(PH)