Rai Al-Youm: Perang Amerika Melawan Iran Perkuat Koalisi Moskow-Tehran-Beijing
https://parstoday.ir/id/news/world-i190324-rai_al_youm_perang_amerika_melawan_iran_perkuat_koalisi_moskow_tehran_beijing
Pars Today - Surat kabar Rai Al-Youm menyebut salah satu konsekuensi dari perhitungan keliru Amerika Serikat dalam perang melawan Iran adalah pendalaman kerja sama strategis Moskow dan Beijing di samping Tehran.
(last modified 2026-05-23T14:53:00+00:00 )
May 23, 2026 21:50 Asia/Jakarta
  • Koalisi Iran, Rusia, Tiongkok
    Koalisi Iran, Rusia, Tiongkok

Pars Today - Surat kabar Rai Al-Youm menyebut salah satu konsekuensi dari perhitungan keliru Amerika Serikat dalam perang melawan Iran adalah pendalaman kerja sama strategis Moskow dan Beijing di samping Tehran.

Menurut laporan Pars Today yang mengutip Tasnim, dalam kelanjutan analisis internasional dan regional tentang konsekuensi internasional perang dengan Iran bagi Amerika Serikat, surat kabar  Rai Al-Youm yang terbit di London, dalam sebuah artikel berjudul "Bagaimana Perang AS-Israel terhadap Iran Mendorong Moskow dan Beijing Menuju Kemitraan Strategis yang Lebih Dalam?", menulis: "Rusia dan Tiongkok sama-sama menyadari bahwa apa yang terjadi di kawasan ini tidak hanya tentang Iran, tetapi tentang masa depan keseimbangan kekuatan internasional. Bagi Rusia, setiap upaya untuk melemahkan Iran secara praktis berarti mengurangi salah satu poros pengaruh anti-Barat Moskow yang paling penting di Eurasia dan kawasan."

 

"Bagi Tiongkok juga, mendestabilisasi Iran secara langsung mengancam keamanan energi Tiongkok, jalur-jalur proyek Sabuk dan Jalan (Belt and Road), serta stabilitas Teluk Persia, yang secara ekonomi dan strategis sangat bergantung padanya."

 

"Oleh karena itu, kunjungan Putin ke Beijing tampaknya merupakan upaya untuk mengoordinasikan respons strategis terhadap fase baru eskalasi AS. Moskow tahu bahwa Washington, dalam kerangka pandangan komprehensif Amerika untuk menegakkan kembali hegemoni Barat atas tatanan internasional, berusaha menyusun ulang prioritas globalnya melalui pengereman Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik, melemahkan Rusia di Eropa, dan mengepung Iran di kawasan."

 

"Tetapi perang melawan Iran telah membuahkan hasil terbalik dalam banyak perhitungan Amerika; sehingga alih-alih menyebabkan runtuhnya poros Rusia-Tiongkok-Iran, tekanan-tekanan ini justru mendorong ketiga pihak menuju konvergensi yang lebih besar. Semakin intens tekanan Barat, semakin yakin Moskow dan Beijing bahwa konflik ini bukan lagi tentang kasus-kasus terpisah, tetapi tentang masa depan dunia multipolar dalam menghadapi sistem unipolar yang dipimpin oleh Amerika Serikat sejak akhir Perang Dingin."

 

"Moskow dan Beijing tidak lagi memandang kerja sama mereka sebagai koalisi taktis sementara, tetapi sebagai kebutuhan strategis jangka panjang untuk menghadapi tekanan AS yang semakin meningkat. Rusia, setelah sanksi Barat, membutuhkan Tiongkok secara ekonomi dan teknologi, sementara Tiongkok membutuhkan Rusia sebagai sumber energi dan mitra geopolitik serta militer yang mampu menyeimbangkan pengaruh AS."

 

"Yang lebih penting, baik Beijing maupun Moskow memiliki keyakinan bersama bahwa Barat menggunakan sanksi, lembaga-lembaga internasional, koalisi militer, dan bahkan isu hak asasi manusia serta demokrasi, sebagai alat untuk merekayasa ulang keseimbangan kekuatan global guna mempertahankan hegemoni AS."

 

"Di jantung persamaan ini, Iran menjadi titik persimpangan strategis antara Moskow dan Beijing. Rusia melihat Tehran sebagai garis pertahanan maju terhadap pengaruh AS di kawasan, sementara Tiongkok melihat Iran sebagai gerbang vital untuk energi dan rute perdagangan ke Asia Tengah dan kawasan." (MF)