Epik Pembebasan Khorramshahr
Rezim Baats Irak dengan dukungan kekuatan dunia pada 21 September 1980 memulai agresi ke Iran. Salah satu tujuan terpenting mereka adalah menduduki provinsi Khuzestan dan juga kota pelabuhan strategis Khorramshahr.
Koran al-Qabas terbitan Kuwait mengutip keterangan para pejabat Irak pada April 1981 menulis, "Irak berniat melancarkan serangan luas ke Khuzestan dan tujuannya adalah menduduki wilayah kaya minyak itu dan sumur-sumur minyak, serta pengumuman independensi dan pembentukan pemerintahan sementara..."
Dalam pelaksanaan skenario tersebut, setelah 34 hari berjuang secara heroik warga setempat, akhirnya Khorramshahr diduduki pasukan rezim Baats Irak pada 2 Aban 1359 HS. Setelah penempatan pasukan militer Irak di Khorramshahr serta pendudukan kota tersebut, tampaknya beberapa wilayah dan kota sekitar juga akan bernasib sama.
Meski sejumlah pengkhianatan dan pelanggaran di dalam negeri serta penyusupan luas musuh untuk mendiktekan ketidakefektifan segala langkah militer untuk membebaskan Khorramshahr, namun dengan tekad Imam Khomeini dan kesiapan seluruh pasukan angkatan bersenjata dan pasukan relawan rakyat Basij, seluruh sarana dan kekuatan dikerahkan untuk mengusir pasukan penjajah.
Pada saat itu, menyusul kesuksesan sejumlah operasi termasuk Operasi Tsaminul Aimmah, Tariqul Quds dan Fathul Mubin, banyak wilayah yang diduduki pasukan Baats dapat terbebaskan. Tekad, semangat dan harapan untuk membebaskan Khorramshahr semakin bertambah besar.
Militer rezim Baats berusaha memfokuskan kekuatannya untuk mempertahankan Khorramshahr. Bahkan Saddam Husseein sampai berkoar bahwa jika Khorramshar berhasil direbut kembali oleh pasukan Iran, maka kunci kota Basrah akan diserahkan kepada pihak Iran.
Pendudukan Khorramshahr berlangsung selama 20 bulan akan tetapi pada pada tanggal 3 Khordad 1361 HS atau 24 Mei 1983, berhasil dibebaskan dalam sebuah operasi bersejarah Baitul Maqdis. Pembebasan kota Khorramshahr sedemikian menggemparkan sehingga mesin-mesin propaganda Barat terpaksa mengakui kemenangan besar bangsa Iran itu dan pukulan telak bagi kekuatan militer Irak.
Koran Liberation terbitan Perancis dalam hal ini menulis, "Pasca direbutnya kembali Khorramshahr oleh Iran, dengan cepat AS, Eropa dan sejumlah negara regional Teluk Persia, menggulirkan berbagai inisiatif untuk mengakhiri perang tersebut sehingga mencegah tumbangnya rezim Saddam."
Banyak analis menganggap pembebasan Khorramshahr sebagai hasil perjuangan dan resistensi epik bangsa Iran melawan agresor. Kemenangan besar ini mematahkan perhitungan militer yang rumit oleh musuh dan pendukungnya serta menciptakan situasi baru terkait nasib perang yang dipaksakan. Karena alasan ini, pembebasan Khorramshahr menjadi sebuah epik, yang memiliki efek jangka panjang pada bangsa Iran dan, tentu saja, pelajaran bagi musuh-musuh Republik Islam.
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam sebuah pidatonya pada 1 Khordad 1381 HS dalam hal ini mengatakan, "Tidak ada satu pihak pun di dunia yang percaya bahwa angkatan bersenjata kita mampu merebut kembali Khorramshahr; karena Khorramshahr sudah dianggap lenyap."
Selama satu setengah tahun pendudukan kota pelabuhan strategis itu, rezim Baats Irak melakukan sejumlah operasi teknis yang rumit sehingga mengubah kota itu menjadi benteng pertahanan terkuatnya.
Syahid Mohammad Ebrahim Hemmat, di antara komandan era Perang Pertahanan Suci, dalam operasi Baitul Maqdis, menjelaskan barisan pertahanan dan musuh di sekitar kota Khorramshahr dan mengatakan, "... ketika Irak menduduki Khorramshahr, para penasehat Rusia dan Amerika Serikat, atas usulan Saddam, merancang dan melaksanakan program pertahanan 20 tahun di Khorramshahr. Dalam program tersebut, dibentuk sebuah zona luas ranjau darat, pembangunan parit-parit besar di sekeliling kota, serta berbagai perencanaan untuk berlanjutnya pendudukan kota Khorramshahr."
Dari sisi sumber daya manusia, sesuai dokumen Pangkalan Pusat Karbala, kesiapan musuh di kawasan operasi mencakup 36.000 infantri, 41 brigade tank, 38 brigade logistik dengan perlengkapan berat dan mutakhir. Dalam kondisi tersebut, para pejuang Iran setelah sukses melancarkan Operasi Fathul Mubin, langsung menggulirkan Operasi Baitul Maqdis dengan tujuan pembebasan Khorramshahr.
Meski propaganda luas serta berbagai ancaman politik dan militer, para pejuang Iran maju selangkah demi selangkah dalam Operasi Baitul Maqdis, dan berhasil menuntaskan operasi itu dalam empat tahap dari mulai tanggal 10 Ordibehehst hingga 3 Khordad 1361 HS, atau sekitar 24 hari.
Dalam operasi tersebut, pasukan Iran berhasil membebaskan wilayah seluas 5.380 kilometer per segi, menewaskan dan melukai 16.000 pasukan Irak, menawan sekitar 19.000 personil musuh, serta menghancurkan 550 tank dan panser, 53 pesawat, 50 kendaraan, dan tiga helikopter. Tidak hanya itu, pasukan Iran juga merampas sekitar 50 tank dan panser, 300 kendaraan militer serta 30 artileri dan masih banyak lainnya.
Epik pembebasan Khorramshahr bagi bangsa Iran bukan hanya sebuah peristiwa dalam kalender perang yang dipaksakan, melainkan sejarah yang menunjukkan komitmen, pengorbanan, perlawanan dan keabadian bangsa Iran.
Sekarang bangsa Iran memperingati ulang tahun pembebasan Khorramshahr, di saat berbagai wilayah sekitar Iran adalah negara-negara yang setiap tahun membayar puluhan atau ratusan miliar dolar untuk membeli senjata dan menunjukkan kepada dunia sebagai kekuatan militer unggul. Sejumlah negara Arab di wilayah Teluk Persia yang mendukung perang yang dipaksakan terhadap Iran, sekarang adalah negara-negara yang berbelanja senjata hingga miliaran dolar dengan tujuan keamanan. Namun sejatinya mereka tidak memahami arti sebenarnya dari keamanan.
Negara-negara tersebut telah menggadaikan kedaulatan, kehormatan, martabat, dan reputasi mereka kepada Amerika Serikat dan Israel. Akan tetapi pembebasan Khorramshahr menunjukkan bahwa kehormatan dan kemuliaan sebuah negara tidak akan tercapai hanya dengan membeli senjata dan mengandalkan pihak asing. Kenyataannya, keberanian dan pengorbanan serta keyakinan untuk dapat mandiri, telah mencatat hasil akhir yang berbeda.
Rakyat Iran, mengandalkan keyakinan yang mendalam pada jihad sejati, berdiri melawan musuh selama delapan tahun, yang menikmati dukungan dari seluruh kekuatan dan senjata paling canggih.
Keberhasilan Operasi Baitul Maqdis selain membebaskan Khorramshahr, juga telah menutup kemungkinan tentara Irak menduduki wilayah Iran yang lain. Setelah hari ini, posisi Iran di medan perang kian menguat dan hingga kini bangsa Iran masih tetap mempertahankan semangat untuk tidak memberi peluang musuh melakukan agresi.
Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei terkait pembebasan Khorramshahr mengatakan, "Operasi militer Baitul Maqdis dan pembebasan Khorramshahr bukan hanya pukulan telak yang bersarang ke tubuh tentara Baath Irak tetapi juga pukulan mematikan yang menghantam sistem arogansi dunia yang bersembunyi di balik mesin-mesin perang rezim Saddam."
Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut Operasi Baitul Maqdis dan pembebasan Khorramshahr sebagai peristiwa yang menunjukkan kelemahan kekuatan materi di hadapan kekuatan iman, spiritual dan pengorbanan.
Rahbar menuturkan, sistem pemerintahan Republik Islam Iran mengusung pesan yang berbeda dari sistem-sistem politik yang lain. Ditegaskannya, "Pesan yang diusung oleh pemerintahan Islam adalah pesan norma, kemanusiaan, dan penyelamatan umat manusia dari cengkraman kekuatan ambisius. Bangsa-bangsa di dunia sekarang sangat mendambakan pesan-pesan seperti ini."
Rahbar lebih lanjut menyebut pesan itu sebagai faktor utama yang menyulut terjadinya konflik kaum arogan dan ambisius dunia melawan bangsa Iran. Beliau mengatakan, "Konfrontasi ini terjadi dan berlanjut dalam berbagai bentuk, mulai dari serangan militer, serangan politik, dan sanksi ekonomi sampai berbagai tekanan dan intimidasi. Namun berkat resistensi dan keteguhan bangsa Iran, bangunan sistem pemerintahan Islam yang layak disebut syajarah tayyibah (pohon yang baik) ini semakin membesar dan mengakar kuat."
Menyinggung ucapan Imam Khomeini (ra) yang mengatakan, "Allahlah yang membebaskan Khorramshahr", Pemimpin Besar Revolusi Islam menandaskan, "Kata-kata Imam Khomeini ini sangat teliti dan bijak untuk mengungkapkan sebuah peristiwa besar seperti ini. Sebab, dalam operasi militer Baitul Maqdis untuk membebaskan Khorramshahr kekuatan Allah Swt menjelma dalam kalbu, semangat baja, dan kekuatan kreativitas para pejuang Islam."