Epik Kepahlawanan di Medan Perang
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i62278-epik_kepahlawanan_di_medan_perang
Tanggal tujuh Mehr yang bertepatan dengan 29 September diperingati sebagai hari epik kepahlawanan para komandan martir perang pertahanan suci. Momentum yang diperingati setiap tahun ini untuk mengingatkan insiden yang terjadi tahun 1981.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Sep 25, 2018 16:52 Asia/Jakarta
  • Perang Pertahanan Suci
    Perang Pertahanan Suci

Tanggal tujuh Mehr yang bertepatan dengan 29 September diperingati sebagai hari epik kepahlawanan para komandan martir perang pertahanan suci. Momentum yang diperingati setiap tahun ini untuk mengingatkan insiden yang terjadi tahun 1981.

Ketika itu, pasca operasi besar Saman Al-Aimah, dan jebolnya blokade Abadan, pesawat C-130 yang mengangkut puluhan orang, termasuk lima komandan senior yang akan kembali ke Tehran mengalami kerusakan dan jatuh di sekitar Tehran.

 

Peristiwa tersebut menyebabkan sebanyak 49 orang dari penumpang, termasuk lima orang komandan senior di antaranya: Menteri Pertahanan Seyyed Mousa Namjou, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata, Javad Fakouri, Kepala Angkatan Udara, Valiollah Falahi, dan Komandan Sepah Pasdaran Khoramshahr, Mohammad Ali Jahanara.

Mereka merupakan orang-orang yang selama ini berperan penting dalam perang pertahanan suci dan masuk barisan pendukung setia Imam Khomeini. Mereka mengawal kemenangan Revolusi Islam dan memberikan dukungan sejak awal di jajaran militer terhadap perjuangan Imam Khomeini.

Kelima martir ini memiliki karakteristik khusus dengan berbagai keahliannya yang disumbangkan untuk Republik Islam hingga akhir hayat mereka. Syahid Fakouri misalnya, merupakan pilot mahir Iran yang menempuh jenjang pendidikan hingga tingkat tinggi. Setelah menyelesaikan studinya di luar negeri, Syahid Fakouri kembali ke Iran dan ditugaskan di bandara Mehrabad.

Selain memiliki sertifikat izin menerbangkan pesawat, Fakouri juga memiliki sertifikat pilot untuk menerbangkan  pesawat tempur F-4. Di tahun 1977, ia melanjutkan studi ke AS dan kembali ke Iran tahun 1979.

Fakouri memiliki berbagai keterampilan yang membuatnya berbeda dari orang lain di antaranya: pengajar calon pilot, kemampuan penembakan udara di malam hari dan kepemimpinan militer dengan jam terbang 3.340 jam menggunakan F-4. Oleh karena itu, Fakouri disebut sebagai salah satu pilot terbaik yang pernah dimiliki Iran sebelum kemenangan Revolusi Islam 1979.

Segudang keterampilan dan pengalaman yang dimiliki Syahid Fakouri tidak bisa dilepaskan dari karakternya sebagai nasionalis sekaligus religius yang mencintai tanah airnya, dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam yang dianutnya.

Fakouri termasuk perwira tinggi yang mendambakan kemerdekaan dan independensi Iran. Oleh karena itu, ketika kembali dari AS setibanya di bandara Mehrabad langsung mencium tanah dan menangis.

Fakouri juga dikenal sangat taat dalam menjalankan aturan agama seperti shalat tepat waktu dan puasa di bulan suci Ramadhan. Ia juga tidak lepas dari membaca al-Quran. Kesyahidan Fakouri menimbulkan kesedihan di kalangan militer Iran secara khusus dan bangsa Iran pada umumnya.

Salah satu pernyataan Syahid Fakour mengenai perang pertahanan suci, "Perang ini akan berakhir ketika kita bisa membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang tidak akan pernah menyerah, dan siap untuk menebusnya dengan pengorbanan diri,".

Syahid Fakouri dan Imam Khomeini

Figur kedua yang syahid dalam insiden kecelakaan pesawat tersebut adalah Menteri Pertahanan Iran, Seyed Mousa Namjou. Putra daerah Bandar Anzali ini menempuh pendidikan perwira dan masuk jajaran pejabat militer Iran. Di era shah, Ia pernah ditangkap karena memperjuangkan revolusi Islam di kalangan militer. Jika Revolusi Islam tidak mencapai kemenangan, maka syahid Namjou termasuk orang yang akan dihukum mati oleh rezim Shah.

Selama masa pendidikannya, Syahid Namjou dikenal sebagai orang yang cerdas dan tangkas. Di kalangan militer, Namjou juga dikenal sebagai orang yang sangat taat beribadah dan tekun menuntut ilmu. Selain itu, beliau di masa sebelum kemenangan Revolusi Islam memiliki hubungan sangat erat dan gerakan Islam.

Sebelum kemenangan Revolusi Islam, Namjou terlibat aktif dalam penyebaran kaset dan pamflet. Setelah kemenangan Revolusi Islam pernah menempati berbagai posisi. Setelah kesyahidan Mostafa Chamran, Namjou menempati posisi sebagai menteri pertahanan Iran.

Syahid Namjou memainkan peran penting dalam manajemen perang dan memegang kendali komando perang sebelum akhir hayatnya. Meskipun seorang perwira, tapi tingkat keislamannya tidak diragukan dan dikenal sebagai orang yang taat beribadah.

Syahid Namjou

 

Figur ketiga dari jajaran komandan perang pertahanan suci yang menjadi korban insiden kecelakaan pesawat C-130 tahun 1981 adalah Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Iran, Valiollah Falahi.

Karir perjalanan politik dan aktivitas keagamaannya menimbulkan kepercayaan dari pemimpin besar Revolusi Islam yang mengangkatnya menjadi komandan angkatan darat Iran.

Sebelum kemenangan Revolusi Islam pernah menjabat berbagai posisi di militer hingga akhirnya diangkat menjadi kepala staf gabungan angkatan bersenjata Iran.

Falahi dikenal sebagai orang yang memiliki komitmen tinggi terhadap agama Islam dan tingkat kecakapan sebagai pemimpin dengan kharisma yang besar. Keberadaannya memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan angkatan bersenjata Iran dan universitas militer negara ini

Setelah Bani Sadr dicopot dari jabatannya sebagai presiden sekaligus pemimpin seluruh angkatan bersenjata Iran, posisi tersebut diamanatkan kepada Falahi.

Syahid Falahi

 

Syahid Falahi menjadikan kecintaan terhadap tanah airnya sebagai bagian dari keyakinan keagamaannya. Oleh karena Itu Imam Khomeini memberikan kepercayaan penuh kepada Falahi.

Figur keempat yang syahid dalam kecelakaan pesawat C-130 di tahun 1981 adalah Yousuf Kolahdouz. Meskipun menjalin hubungan tidak langsung dengan Imam Khomeini, tapi Kolahdouz dengan kecerdasan dan kejeliaannya bisa menembus jajaran pasukan garda kerajaan rezim Shah.

Syahid Kolahdouz

 

Dengan posisinya tersebut, Kolahdouz berhasil menggagalkan sejumlah aksi yang menargetkan Imam Khomeini, di antaranya  malam 10 Februari 1979 dengan merusak tank yang akan dipakai untuk menyerang pemimpin besar Revolusi Islam.

Pasca kemenangan Revolusi Islam, Kolahdouz memainkan peran penting di antaranya membentuk Sepah Pasdaran atas instruksi langsung Imam Khomeini. Beliau juga berkontribusi besar dalam menyusun anggaran dasar Sepah. Jabatan terakhirnya sebagai komandan Sepah.

Figur terakhir yang gugur dalam kecelakaan pesawat tahun 1981 adalah komandan termuda, yang baru berusia 27 tahun bernama Mohammad Jahanm Ara. Jabatan terakhir yang dipegangnya sebagai komandan Sepah Pasdaran Khoramshahr.

Syahid Jahan Ara

Selama hidupnya, Jahan Ara dikenal sebagai orang yang penuh pengabdian, dan berdedikasi tinggi. Di bawah komandonya, pasukan Iran berhasil menghentikan gerak maju pasukan Baath Irak di perbatasan Khoramshahr selama 34 hari.

Imam Khomeini dalam pesan duka yang disampaikan menyikapi insiden kecelakaan pesawat tahun 1981 mengatakan, "Mereka para abdi bangsa yang mengorbankan hidupnya selama Revolusi dan setelahnya, dengan kemulian dan keberaniannya menempuh jalan ini demi mengabdi kepada negara Islam yang berada dalam naungan rahmat ilahi".(PH)