Reuters: Ekonomi Global dalam Bahaya
https://parstoday.ir/id/news/world-i186626-reuters_ekonomi_global_dalam_bahaya
Pars Today – Reuters dalam sebuah laporan yang membahas kenaikan harga solar berkali-kali lipat akibat agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dengan mengutip para ahli menulis, “Ekonomi global berisiko karena peningkatan bahan bakar vital ini.”
(last modified 2026-03-11T10:43:46+00:00 )
Mar 11, 2026 17:41 Asia/Jakarta
  • Truk pengangkut solar
    Truk pengangkut solar

Pars Today – Reuters dalam sebuah laporan yang membahas kenaikan harga solar berkali-kali lipat akibat agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dengan mengutip para ahli menulis, “Ekonomi global berisiko karena peningkatan bahan bakar vital ini.”

Menurut laporan Pars Today, kantor berita Reuters dalam sebuah laporan menyoroti tentang  situasi yang terjadi di Selat Hormuz dan penutupannya oleh Iran, yang menyebabkan penurunan pasokan 3 hingga 4 juta barel atau mendekati 5 hingga 12 persen dari total konsumsi global.

Para pedagang dan analis mengatakan, “Kenaikan harga solar merupakan ancaman bagi aktivitas ekonomi global. Karena perang di Asia Barat juga memberikan tekanan pada pasokan bahan bakar industri ini dan jenis minyak mentah yang cocok untuk produksinya.”

Reuters mengingatkan, “Pasokan solar telah menurun dalam beberapa tahun terakhir karena gangguan akibat serangan Ukraina terhadap kilang-kilang Rusia dan sanksi Barat terhadap ekspor Moskow. Sekarang, agresi militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran telah memperburuk kekhawatiran tentang pasokan.”

Dalam hal ini, Shahro Zukhirtdinov, pendiri perusahaan Nitrol Trading yang berbasis di Dubai mengatakan, “Solar secara struktural paling terkena dampak perang Amerika dan rezim Zionis terhadap Iran. Solar adalah bahan bakar utama untuk sektor transportasi, pertanian, pertambangan, dan aktivitas industri, dan ini menjadikan posisinya sebagai bahan bakar paling sensitif di sektor makro.”

Sementara itu, ekonom energi Philip Verleger mengatakan, “Dengan penutupan Selat (Hormuz), Iran telah mengurangi ekspor minyak mentah kaya distilat Asia Barat (Timur Tengah), bahan bakar jet, dan solar. Dalam permainan catur untuk situasi saat ini, ada istilah: skakmat.” Akibatnya, harga solar telah meningkat lebih cepat dibandingkan dengan harga minyak dan bensin sejak dimulainya perang, dan jika Selat Hormuz tetap ditutup untuk waktu yang lama, harganya dapat hampir dua kali lipat di tingkat ritel."

Menurut laporan, harga solar berjangka di Amerika Serikat dari 28 Februari hingga 10 Maret telah meningkat lebih dari 28 dolar per barel, sementara harga minyak mentah berjangka di Amerika mengalami kenaikan lebih dari 16 dolar per barel.

Aktivitas Ekonomi Terancam Terganggu

James Noel Bezwick, seorang analis dari perusahaan teknologi keuangan dan data Sparta Commodities, juga mengatakan dalam hal ini, “Kenaikan harga solar dan bahan bakar jet, dalam setiap periode waktu, akan menyebabkan penurunan permintaan dan perlambatan aktivitas ekonomi.”

Dean Leolkin, CEO Cardiff (pemberi pinjaman kepada usaha kecil yang berbasis di Amerika Serikat), juga mengatakan, “Biaya transportasi telah meningkat untuk hampir semua hal, yang tak terhindarkan akan segera tercermin dalam harga pangan dan konsumen. Jika harga solar tetap tinggi, risiko terbesar adalah gelombang kedua inflasi yang disebabkan oleh tekanan biaya.

Menurut ahli ini, kenaikan harga solar dapat menyebabkan petani Amerika mengurangi penanaman pada awal musim, sehingga menyebabkan kenaikan harga pangan.(sl)