Hormuz Tertutup, Amerika Pun Terimpit: Tiga Skenario Ekonomi Pasca-Perang
-
Selat Hormuz
Pars Today - Seorang anggota Dewan Pengurus Kamar Dagang Iran memaparkan tiga skenario potensial bagi kondisi ekonomi pasca-perang. Ia menegaskan bahwa dua bulan pasca-agresi militer koalisi Amerika-Zionis ke wilayah Iran, seluruh negara kini merasakan dampaknya. Selat Hormuz membuktikan bahwa titik strategis ini tidak hanya memengaruhi negara-negara kawasan, tetapi juga seluruh rantai energi global, bahkan Amerika Serikat sekalipun.
Keivan Kashfi, dalam wawancara dengan IRNA, hari Jumat, 8 Mei 2026, menyoroti kerugian yang ditanggung ekonomi global akibat agresi militer koalisi Amerika-Zionis terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz telah menimbulkan dampak serius bagi konsumen energi, khususnya di Eropa dan Asia Timur. Awalnya, negara-negara yang bergantung pada minyak Teluk Persia dan memasok kebutuhan energi mereka dari negara-negara seperti Qatar, Irak, Kuwait, bahkan Iran, yang paling terdampak.
Kashfi menambahkan bahwa spektrum negara yang mengalami kesulitan dalam dua bulan terakhir sejak dimulainya perang terhadap Iran sangat luas, mencakup Tiongkok, Korea, dan Jepang di Timur, serta sejumlah negara Eropa di Barat. Masalah ini tidak hanya terbatas pada negara-negara yang secara langsung mengimpor minyak dan energi dari Timur Tengah; negara-negara lain pun kini terkena imbas kenaikan harga minyak global.
Aktivis ekonomi ini menekankan, kinerja Selat Hormuz hingga saat ini menunjukkan bahwa setiap gejolak di titik strategis ini tidak hanya berdampak pada negara-negara pemasok minyak, tetapi juga memicu kelangkaan di seluruh rantai energi dunia.
Dalam konteks ini, Kashfi menyinggung harga bensin dan solar di Amerika Serikat. Ia menjelaskan bahwa pada minggu-minggu awal perang, Trump berpendapat bahwa karena Amerika tidak bergantung pada minyak Teluk Persia, negara tersebut tidak akan terdampak kenaikan harga minyak. Namun, realitas kini menunjukkan bahwa seluruh dunia terpengaruh, meskipun intensitasnya bisa berbeda-beda di tiap negara. Dapat dikatakan bahwa posisi strategis Selat Hormuz dalam ekonomi global telah menjadikannya salah satu isu paling krusial dalam negosiasi antara Iran dan Amerika.
Eskalasi Ketegangan Memicu Lonjakan Harga
Menanggapi pertanyaan tentang prospek ekonomi global bila Selat Hormuz tetap tertutup, Kashfi menyatakan bahwa pasar minyak kini sangat bergantung pada dinamika politik. Pada puncak konflik, harga minyak per barel bahkan melampaui 120 dolar AS. Sebaliknya, setiap pembukaan kecil bagi lalu lintas kapal di selat tersebut langsung memicu penurunan harga secara bertahap.
Kashfi menegaskan bahwa setiap ketegangan di Teluk Persia dan Selat Hormuz akan mendorong kenaikan harga di pasar minyak dan energi global. Ia memprediksi bahwa penguatan posisi Iran, berkat ketahanan rakyatnya dalam menghadapi perang yang dipaksakan ini, berpotensi menghilangkan "bayangan sanksi" dari negeri tersebut.
Rekonstruksi Unit yang Terdampak Sudah Dimulai
Mengenai prioritas ekonomi utama Iran pasca-perang, Kashfi menjelaskan bahwa banyak instansi telah memulai pekerjaan rekonstruksi. Kamar Dagang Iran pun telah meluncurkan penelitian dan kajian lapangan untuk mengukur tingkat kerusakan unit-unit produksi, estimasi waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan, serta sejauh mana dampak kerusakan tersebut terhadap rantai produksi. Hasil kajian ini akan menjadi dasar penyusunan kebijakan perdagangan dan ekonomi negara.
Kashfi menekankan perlunya peninjauan ulang dan penentuan prioritas dalam kebijakan moneter dan fiskal. "Harus jelas industri dan unit mana yang menjadi prioritas dalam proses rekonstruksi," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa data yang dikumpulkan Kamar Dagang Iran akan dibagikan dengan instansi pemerintah, agar solusi komprehensif dapat dirumuskan untuk mengembalikan ekonomi ke kondisi optimal dan meminimalkan dampak perang.
Tiga Skenario untuk Era Pasca-Perang
Mengenai proyeksi kondisi ekonomi dalam bulan-bulan mendatang, Kashfi menyatakan: "Hanya ada tiga skenario. Skenario pertama, yang kemungkinan terwujudnya rendah adalah kembalinya perang. Situasi ini tidak menguntungkan siapa pun, hanya akan memperkeruh keadaan, dan bahkan berpotensi mendorong harga minyak di pasar global melampaui 150 dolar AS per barel."
Kashfi melanjutkan, "Skenario kedua terkait negosiasi yang sedang berlangsung: bahwa perundingan mencapai hasil definitif untuk menyelesaikan sengketa antara Iran dan Amerika, sehingga perbedaan pandangan berakhir. Dalam kondisi demikian, investor dari berbagai negara dapat kembali hadir dalam ekonomi Iran, seperti yang kita saksikan saat pelaksanaan JCPOA."
Ia menggambarkan skenario ketiga sebagai kondisi terburuk: situasi "tidak perang, tidak damai". Dalam skenario ini, sanksi akan tetap berlaku, dan Iran harus melakukan rekonstruksi dampak perang di bawah tekanan sanksi.
Anggota Dewan Pengurus Kamar Dagang Iran ini menambahkan bahwa stabilitas dalam ekonomi global di bawah kondisi "tidak perang, tidak damai" hanya dapat tercapai bila Selat Hormuz dibuka kembali bagi lalu lintas kapal. "Selama hal ini belum terwujud, ketegangan akan tetap ada, dan ekonomi global akan terus terdampak," ujarnya.
Kashfi menekankan bahwa ketidakpastian dalam ekonomi, inflasi, dan peningkatan pengangguran merupakan dampak dari berlanjutnya kondisi "tidak perang, tidak damai". "Gejolak pasca-perang harus mereda agar pasar dapat perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan kondisi baru," pungkasnya.(Sail)