Lintasan Sejarah 25 Mei 2017
Hari ini, Kamis tanggal 25 Mei 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 28 Sya'ban 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 4 Khordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Hajib Wafat
808 tahun yang lalu, tanggal 28 Sya'ban 630 HQ, Ibnu Hajib, seorang ahli hadis dan sejarawan Islam meninggal dunia.
Ibnu Hajib dilahirkan pada tahun 593 Hijriah di Damaskus. Untuk menuntut ilmu-ilmu hadis, Ibnu Hajib melakukan perjalanan ke berbagai kota untuk belajar dari ulama-ulama besar pada masa itu. Ibnu Hajib meninggalkan tiga karya yang dicetak dan dua karya lagi yang ditulis tangan.
Pelaut Perancis Tiba di Teluk Guinea
657 tahun yang lalu, tanggal 25 Mei tahun 1360, sekelompok pelaut Perancis tiba di Teluk Guinea Afrika.
Sebelumnya, perairan Guinea di Afrika sejak tahun 1460 telah didatangi oleh pedagang Portugis. Sejak tahun 1849, penguasa Perancis mendeklarasikan kawasan di tepi Teluk Guinea yang saat itu diberi nama oleh Perancis dengan nama Rivieres Du Sud, menjadi kawasan koloninya yang disatukan dengan Senegal.
Penduduk pribumi Guinea berusaha melawan kolonialisme ini, namun akhirnya kalah. Pada tahun 1891, Rivieres Du Sud dipisahkan dari Senegal dan menjadi koloni terpisah yang diberi nama Guinea. Guinea akhirnya merdeka dari penjajahan Perancis pada tahun 1958.
Mulla Hosseinqoli Hamedani Wafat
127 tahun yang lalu, tanggal 28 Sya’ban 1311 HQ, Mulla Hosseinqoli Hamedani meninggal dunia dan dimakamkan di Karbala.
Akhond Mulla Hosseinqoli Hamedani, seorang arif, faqih dan filsuf. Beliau lahir di kota Shavand, Hamedan. Akhond Mulla Hosseinqoli juga dikenal sebagai guru besar akhlak. Beliau pernah berguru kepada Syaikh Abdolhossein Tehrani (Sheikh al-Iraqiain, Syeikh Murtadha Anshari dan Agha Sayid Ali Shoshtari.
Akhond Mulla Hosseinqoli Hamedani juga banyak mendidik murid-murid yang dikemudian hari menjadi ulama besar seperti Sheikh Mohammad Bahari, Sayid Ahmad Karbalai, Sheikh Musa Syarareh, Sayid Mahdi Hakim, Mirza Javad Agha Maleki Tabrizi dan Sayid Jamaluddin al-Afghani.
Menurut Syahid Muthahhari, Akhond Hamedani lebih banyak mendidik, ketimbang mengajar.
Organization of Africa Unity Berdiri
54 tahun yang lalu, tanggal 25 Mei 1963, 32 kepala negara-negara Afrika menandatangani pendirian Organization of Africa Unity di kota Addis Ababa, Ethiopia.
Penggagas Organisasi Persatuan Afrika ini adalah Gamal Abdul Naser dari Mesir, Kwame Nkrumah dari Ghana, dan Ahmad Sekouture dari Guinea. Organisasi ini bertujuan untuk mempersatukan negara-negara Afrika, menyelesaikan perselisihan di antara anggota, dan memperjuangkan kemerdekaan ngara-negara Afrika yang masih terjajah.
Pada tahun 2002, dalam konferensi kepala-kepala negara Afrika di Afrika Selatan, organisasi itu berubah nama menjadi Africa Union yang bertujuan untuk memperluas kerjasama ekonomi di Afrika. Saat ini Africa Union dianggotai oleh 53 negara dan bermarkas di Ethiopia.
Peresmian Museum Al-Quran di Masjid Saheb Al-Amr Tabriz
16 tahun yang lalu, tanggal 4 Khordad 1380 HS, museum al-Quran dan kalifgrafi diresmikan di lokasi masjid Saheb al-Amr.
Masjid Saheb al-Amr merupakan masjid kuno kota Tabriz yang terletak di tengah-tengah kota ini. Bangunan ini didirikan oleh Shah Tahmasib I dan sejak awal memang menjadi miliknya. Namun setelah beberapa waktu ketika pasukan Dinasti Ottoman menyerang Iran, masjid Saheb al-Amr dihancurkan rata dengan tanah.
Dalam buku Chalabi tertulis, di bagian timur bundaran Saheb Abad tersambungkan dengan Jame Soltan Hassan, sebuah masjid berukir indah lainnya. Karena bangunan ini didirikan oleh Shah Tahmasib, pasukan Ottoman meratakannya dengan tanah.
Setelah pasukan Ottoman menarik pasukannya dari Tabriz, masjid ini kembali dibangun oleh Mirza Mohammad Ibrahim, Menteri Azerbaijan di masa pemerintahan Shah Soltan Hossein. Masjid Saheb al-Amr kembali mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi tahun 1193 Hs dan pada tahun 1266 Hs masjid ini direnovasi oleh Mirza Ali Akbar Khan, penerjemah Konsuler Rusia di Tabriz, sekaligus membangun madrasah Akbarieh di salah satu halaman masjid.
Masjid Saheb al-Amr memiliki sebuah kubah dan dua menara yang bentuknya berbeda dari masjid-masjid lainnya. Sejak masa Shah Tahmasib I, hanya dua kamar yang dibangun dari marmer yang masih ada hingga kini dan memiliki nilai sejarah. Di atas kamar ini tertulis surat al-Jin.