Jun 01, 2017 10:36 Asia/Jakarta

Hari ini, Kamis tanggal 1 Juni 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 6 Ramadhan 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 11 Khordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.

Abu Ali Sallar Wafat

975 tahun yang lalu, tanggal 6 Ramadan 463 HQ, Hamzah bin Abdullah Sallar, seorang ulama muslim abad ke-5 Hijriah, meninggal dunia di kota Tabriz, barat daya Iran.

Hamzah bin Abdullah Sallar dijuluki dengan nama Abu Ali. Abu Ali merupakan salah satu murid terkenal dari Syeikh Mufid dan Sayid Murtadha Alamul Huda, dua ulama besar pada masa itu.

Karya Abu Ali Sallar yang paling terkenal adalah kitab berjudul "al-Marasim al-Alawiyah wal al-Ahkam an-Nabawiyah". Selain itu, dia juga menulis sepuluh jilid kitab fiqih berjudul "Jawami'ul Fiqih".

Abu Ya'la Ja'fari Meninggal Dunia

975 tahun yang lalu, tanggal 6 Ramadan 463 HQ, Abu Ya'la Ja'fari, seorang ulama terkemuka abad ke-5 Hijriah, meninggal dunia.

Abu Ya’la Ja’fari adalah seorang ahli di bidang fiqih dan teologi dan merupakan wakil dari Syekh Mufid. Beliau merupakan ulama yang sezaman dengan Syeikh Thusi. Karya-karya penulisan beliau, di antaranya berjudul "Miladu Shahibiz Zaman" dan "at-Takmilah".

Christopher Marlowe Lahir

424 tahun yang lalu, tanggal 1 Juni tahun 1593,  Sir Christopher Marlowe, penyair dan penulis terkenal Inggris meninggal dunia.

Christopher Marlowe dilahirkan pada tahun 1563 dan menempuh pendidikannya di Universitas Cambridge. Sejak usia muda, Marlowe sudah dikenal orang sebagai penyair yang sangat berbakat.

Di antara karya tulis Marlowe adalah sebuah kumpulan syair berjudul "Tragedy of Doctor Faustus". "Timur Leng" dan "Edward Kedua" juga termasuk karya Marlowe yang cukup terkenal.

KH. Abdul Wahid Hasjim Lahir

103 tahun yang lalu, tanggal 1 Juni 1914,  Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim lahir di Jombang, Jawa Timur.

Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim adalah pahlawan nasional Indonesia dan menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia. Pada tahun 1939, NU menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia), sebuah badan federasi partai dan ormas Islam di zaman pendudukan Belanda.

Saat pendudukan Jepang yaitu tepatnya pada tanggal 24 Oktober 1943 beliau ditunjuk menjadi Ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) menggantikan MIAI. Selaku pemimpin Masyumi beliau merintis pembentukan Barisan Hizbullah yang membantu perjuangan umat Islam mewujudkan kemerdekaan. Selain terlibat dalam gerakan politik, tahun 1944 beliau mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhannya ditangani oleh KH. A. Kahar Muzakkir. Menjelang kemerdekaan tahun 1945 ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI.Wahid Hasjim meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Kota Cimahi tanggal 19 April 1953.

Pembubaran Partai Jomhouri-e Eslami

30 tahun yang lalu, tanggal 11 Khordad 1366 HS, Partai Jomhouri-e Eslami dibubarkan.

Partai Jomhoiri-e Eslami sepekan pasca kemenangan Revolusi Islam Iran dibentuk oleh Ayatullah Sayid Mohammad Hosseini Beheshti, Sayid Ali Khamenei, Sayid Ali Abdolkareem Mousavi Ardebili, Akbar Hashemi Rafsanjani dan Doktor Mohammad Javad Bahanar dengan tujuan menciptakan sebuah organisasi yang kokoh dan mengkoordinasi sumber daya manusia aktif serta menciptakan keserasian dan disiplin. Partai ini selama berdirinya, selain berpartisipasi aktif di setiap peristiwa politik dan sosial Iran, juga memiliki peran menentukan dalam penentuan kebijakan negara lewat para pemimpinnya yang berada di jabatan-jabatan strategis pemerintah.

Aktivitas partai Jomhouri-e Eslami berlangsung hingga tahun 1363 Hs, tapi sejak saat itu secara perlahan-lahan cakupan kegiatannya mulai menurun dan pada 11 Khordad 1366 Hs, berdasarkan usulan Ayatullah Khamenei dan Hashemi Rafsanjani kepada Imam Khomeini ra tentang pembubaran partai ini. Imam Khomeini ra sendiri menyetujui pembubaran itu.

Dalam surat yang ditulis oleh para pemimpin partai ini disinggung mengenai pembubaran partai sebagai berikut, "Dirasakan bahwa keberadaan partai sudah tidak lagi bermanfaat seperti pada awal terbentuknya. Bahkan sebaliknya pembentukan partai politik di saat ini justru dapat menjadi alasan untuk terciptanya perselisihan dan keretakan yang merugikan persatuan nasional. Oleh karenanya, Dewan Pusat Partai dengan suara bulat sampai pada kesimpulan bahwa maslahat Revolusi Islam saat ini menuntut pembubaran secara menyeluruh Partai Jomhouri-e Eslami."