Jul 19, 2017 10:27 Asia/Jakarta

Salah satu dampak berbahaya dari erosi tanah dan desertifikasi adalah fenomen Haze. Haze adalah Haze adalah kekaburan udara yang disebabkan oleh partikel-partikel kering yang sangat kecil dan melayang-layang di udara sehingga menyebabkan jarak pandang (visibility) berkurang. Haze ini sangat berpengaruh pada bidang-bidang yang membutuhkan jarak pandang panjang contohnya di bidang transportasi seperti penerbangan dan maritim.

Fenomena Haze biasanya muncul ketika partikel kecil berupa debu dan asap meningkat tajam di udara kering. Fenomena ini di satu kasus bisa menciptakan krisis dengan menimbulkan udara dingin ketika partikel debu atau asap menutupi sinar matahari sehingga suhu udara di bumi menurun drastis. Oleh karena itu, sejumlah ilmuwan berpendapat faktor kemusnahan dalam sejarah, seperti kepunahan dinosaurus adalah fenomena haze.

 

Fenonema nyata dari haze di sejarah umat manusia adalah peristiwa tahun 1816 akibat meletusnya Gunung Tambora di Sumbawa Indonesia. Letusan gunung berapi ini memuntahkan debu dan abu volkanik ke udara dan terbawa angin hingga ke Eropa dan Amerika. Pada musim semi dan musim panas tahun 1816, sebuah kabut kering terlihat di timur laut Amerika Serikat. Kabut tersebut memerahkan dan mengurangi cahaya matahari, seperti bintik pada matahari yang terlihat dengan mata telanjang. Baik angin atau hujan tidak dapat menghilangkan "kabut" tersebut. "Kabut" tersebut diidentifikasikan sebagai kabut aerosol sulfat stratosfer.

 

Pada musim panas tahun 1816, negara di Belahan Utara menderita karena kondisi cuaca yang berubah, disebut sebagai Tahun tanpa musim panas. Temperatur normal dunia berkurang sekitar 0,4-0,7 °C, cukup untuk menyebabkan permasalahan pertanian di dunia. Pada tanggal 4 Juni 1816, cuaca penuh es dilaporkan di Connecticut, dan dan pada hari berikutnya, hampir seluruh New England digenggam oleh dingin. Pada tanggal 6 Juni 1816, salju turun di Albany, New York, dan Dennysville, Maine. Kondisi serupa muncul untuk setidaknya tiga bulan dan menyebabkan gagal panen di Amerika Utara. Kanada mengalami musim panas yang sangat dingin. Salju setebal 30 cm terhimpun didekat Kota Quebec dari tanggal 6 sampai 10 Juni 1816.

 

1816  adalah tahun terdingin kedua di Belahan Bumi Utara sejak tahun 1400 Masehi, setelah letusan gunung Huaynaputina di Peru tahun 1600. Tahun 1810-an adalah dekade terdingin dalam rekor sebagai hasil dari letusan Tambora tahun 1815 dan lainnya menduga letusan terjadi antara tahun 1809 dan tahun 1810. Perubahan temperatur permukaan selama musim panas tahun 1816, 1817 dan tahun 1818 sebesar -0,51, -0,44 dan -0,29 °C, dan juga musim panas yang lebih dingin, bagian dari Eropa mengalami badai salju yang lebih deras.

 

Perubahan iklim disalahkan sebagai penyebab wabah tifus di Eropa Tenggara dan Laut Tengah bagian timur di antara tahun 1816 dan tahun 1819. Banyak ternak meninggal di New England selama musim dingin tahun 1816-1817. Suhu udara yang dingin dan hujan besar menyebabkan gagal panen di Kepulauan Britania. Keluarga-keluarga di Wales mengungsi dan mengemis untuk makanan. Kelaparan merata di Irlandia utara dan barat daya karena gandum, haver dan kentang mengalami gagal panen.

 

Krisis terjadi di Jerman, harga makanan naik dengan tajam. Akibat kenaikan harga yang tidak diketahui menyebabkan terjadinya demonstrasi di depan pasar dan toko roti yang diikuti dengan kerusuhan, pembakaran rumah dan perampokan yang terjadi di banyak kota-kota di Eropa. Ini adalah kelaparan terburuk yang terjadi pada abad ke-19.

 

Haze sejatinya partikel halus dan ringan baik itu berupa debu atau asap. Debu ini mayoritasnya dari jenis tanah liat dan pasir akibat erosi gurun atau tanah serta dibawah oleh angin. Partikel ini mengingkat beratnya yang ringan mampu terbang di ketinggian dan tetap berada di udara untuk beberapa waktu. Selanjutnya partikel tersebut turun ke bumi. Fenomena Haze muncul dari permukaan tanah serta kerap terjadi di berbagai gurun dunia termasuk di gurun pasir Arab Saudi, Irak, Kuwait dan wilayah selatan Iran.

 

Batas minimum partikel yang mengambang di udara berdasarkan standar internasional di kota-kota adalah antara 240-260 mikrogram di setiap satu meter kubik. Sementara itu, fenomena haze dan badai debu membuat volume partikel di udara bertambah dan bahkan melonjak hingga 15 kali lipat dari standar. Yang paling berbahaya dari pertikel halus ini adalah sisi kimianya yang sangat membahayakan lingkungan hidup dan khususnya keselamatan manusia.

 

Partikel debu halus ketika bergabung dengan polusi udara di perkotaan akan sangat berbahaya karena partikel ini akan memiliki karakteristik baru yakni kelengketan dan mudah merekat pada daun pepohonan, tanah dan bahkan permukaan benda-benda lain. Jika hal ini terjadi maka akan merusak alat-alat dan mesin industri serta elektronik serta menebarkan penyakit infeksi dan alergi.

 

Analisa terhadap partikel debu dan pasir di Irak dan Arab Saudi menunjukkan bahwa lebih dari 56 persen partikel tersebut sangat halus dan berukuran lebih kecil dari 250 mikron. Mengingat halusnya partikel ini maka dengan mudah melewati sistem pertahanan tubuh setelah dihirup oleh pernafasan manusia. Partikel halus ini kemudian menempel di paru-paru. Mengingat sistem pertahanan tubuh melemah, bahkan partikel ini tidak dapat dikeluarkan melalui bersin. Dalam waktu singkat partikel ini kemudian bercampur darah dan akan menimbulkan penyakit.

 

Risel ilmiah selama dua dekade terakhir menunjukkan bahwa setiap tahun sekitar 500 ribu meninggal dini karena menghirup partikel debu halus di udara. Fenomena ini sangat membahayakan, khususnya bagi penderita iritasi peranfasan. Debu dan partikel halus ini juga sangat merugikan tanaman. Debu yang menempel di daun sangat merugikan tanaman karena mempengaruhi proses fotosintesis sehingga menngganggu proses pertumbuhan tanaman.

 

Di sisi lain, haze atau partikel halus ini mengganggu proses penyerbukan bunga dan tanaman. Akibatnya tanaman tidak dapat berbuah dan tentu saja produksi pertanian akan menurun. Fenomena ini juga merusak ekonomi dan meningkatkan anggaran sosial. Menurut para pakar, erosi tanah di wilayah yang memiliki curah hujan cukup dan tingkat kelembabannya yang tepat, sangat jarang terjadi fenomena haze. Sementara di wilayah kering seperti Timur Tengah, fenomena haze kerap terjadi, khususnya ketika angin utara melanda kawasan.

 

Angin utara di Timur Tengah aktif sejak bulan Juni hingga September, bertiup dari utara Timur Tengah dan melewati pegunungan Turki dan utara Irak hingga ke arah Teluk Persia serta samudra bebas. Debu di kawasan luas gurun di Timur Tengah terbawa arus angin utara dan terbang di atas kota-kota di kawasan. Parahnya lagi partikel debu halus ini bukannya terus terbawa angin, malah menggantung di udara dan di atas kota. Di sisi lain, komposisi membahayakan partikel halus ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan warga yang berada di bawahnya.

 

Riset Lembaga Penelitian Atmosfer dan Kelautan Amerika (National Oceanic and Atmospheric Administration-NOAA) di Irak menunjukkan faktor utama yang memicu badai pasir di Timur Tengah, khususnya di Iran adalah meluasnya gurun di wilayah timur Irak khususnya daerah al-Jazirah. Daerah ini terletak di dekat Baghdad dan di antara sungai Furat dan Dajlah. Di masa lalu daerah ini memiliki banyak lahan basah dan rawa-rawa.

 

Keringnya lahan basah dan rawa-rawa di Irak selatan di dekade 1980 dan 1990 serta selama era perang yang dipaksakan kepada Republik Islam Iran di mana contoh nyata adalah perusakan sengaja ekosistem di wilayah ini, merupakan faktor utama pemicu fenomena haze dan badai pasir. Saat itu, atas instruksi Saddam Hossein, wilayah penting di tengah dan selatan Bain al-Nahrain di Irak menjadi terget kebijakan pembakaran bumi.

 

Saat itu, Saddam memberikan wewenang kepada militernya untuk membuat jalan dari gurun selatan Arab Saudi, selatan Irak hingga kota Najaf, Karbala dan Samarra. Atas intruksi Saddam tersebut, tim insinyur militer Irak kemudian membakar semak dan tanaman di Hur al-Azim hingga tidak memiliki peluang untuk tumbuh kembali. Ulah Saddam tersebut bahkan membuat burung tidak mungkin lagi hijrah ke rawa-rawa di tengah dan selatan Irak. Dengan dalih menciptakan penghalang serangan Iran, Saddam tak segan-segan memusnahkan 15 juta tunas pohon kurma di provinsi selatan negara ini.

 

Meski peran pemerintah Saddam di dekade 90-an dalam menciptakan tragedi musnahnya rawa-rawa dan lahan basah Hur al-Azim dan Bain al-Nahrain tidak dapat dipungkiri, namun laporan PBB menunjukkan pemerintah Turki yang selama beberapa tahun terakhir memiliki saham terbesar dalam membangun bendungan dan dam serta membendung aliran sungai Dajlah dan Furat juga memiliki peran signifikan di fenomena keringnya danau dan rawa-rawa di Irak serta Suriah dan maraknya fenomena sedimen di Timur Tengah.