Nov 08, 2017 10:56 Asia/Jakarta

Kerusakan lingkungan disebabkan oleh banyak faktor, terutama ulah manusia yang tidak bersahabat dengan lingkungan itu sendiri. Manusia seharusnya bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi mereka justru merusak lingkungan. Mereka cenderung mengambil kekayaan alam seenaknya sehingga menimbulkan kerusakan dan polusi.

Setelah kekayaan alam digunakan, mereka tidak peduli terhadap kebutuhan generasi mendatang yang juga memiliki hak untuk menikmatinya. Kebutuhan seringkali mendorong manusia untuk mengambil sumber daya alam secara besar-besaran tanpa mempedulikan dampaknya. Salah satu faktor utama penyebab rusaknya lingkungan adalah kemiskinan.

Banyak pakar mengemukakan pendapat bahwa kemiskinan adalah salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan di negeri ini. Tingkat kemiskinan di Indonesia masih cukup tinggi dan diperlukan waktu yang sangat lama untuk memecahkan masalah sosial ini. Kemiskinan bisa kita temui dengan mudah di kota-kota besar. Warga kota yang tidak mempunyai sumber penghasilan terpaksa beralih profesi menjadi pengemis atau gelandangan. Pedesaan juga rawan kemiskinan karena pertumbuhan ekonomi di desa tidaklah secepat kota. Selain itu, tidak ada minat untuk mengembangkan ekonomi perdesaan karena dinilai tidak bisa menghasilkan keuntungan besar.

Salah satu kendala paling merusak bumi adalah fenomena kemiskinan yang dampaknya dapat disaksikan dengan jelas bagi manusia atau pun lingkungan hidup di seluruh dunia. Sejak dekade 1970 dan selanjutnya muncul kesepakatan global bahwa antara kemiskinan dan lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan. Komisi Dunia Lingkungan Hidup dan Pembangunan terkait hal ini menyatakan, “Kemiskinan merupakan faktor utama dan signifikan bagi krisis lingkungan hidup. Oleh karena itu sia-sia setiap upaya mengkaji krisis lingkungan hidup tanpa adanya pendekatan komprehensif terkait faktor-faktor tersembunyi di kemiskinan global serta ketimpangan internasional.”

Hubungan antara kemiskinan dan lingkungan hidup untuk pertama kalinya digulirkan di konferensi PBB di Stockholm yang mengkaji lingkungan manusia di tahun 1974. Perdana Menteri India saat itu, Indira Gandhi menyebut polusi sebagai faktor kemiskinan dan keterbelakangan. Di laporannya, Indira Gandhi menjelaskan bahwa pertumbuhan penduduk dan tidak ada akses ke lahan pertanian telah menekan warga miskin dan memaksa mereka memanfaatkan secara berlebihan lingkungan hidup di sekitar kota dan desa, dimana hal ini menyebabkan kerusakan sumber alam.

Realita yang ada juga membenarkan hal ini. Dewasa ini, melonjaknya populasi manusia dan terbentuknya sebuah masyarakat konsumtif kian menambah beban yang ada dan menekan jaringan ekonomi di berbagai negara. Kondisi seperti ini dari satu sisi mempercepat domain kerusakan lingkungan hidup dalam jangka pendek dan dari sisi lain berujung pada musnahnya sejumlah sektor ekonomi dan sosial. Meski kerusakan lingkungan hidup dan dampaknya yakni meluasnya kemiskinan dapat disaksikan secara merata baik di negara miskin atau kaya, namun proses ini lebih tinggi di negara dunia ketiga.

Laporan yang dirilis Program Pembangunan PBB (UNDP) di tahun 2014 menunjukkan bahwa meski tingkat kemiskinan di dunia menurun, namun kini sepertiga penduduk dunia yakni 2,2 miliar orang di 91 negara hidup dalam kemiskinan. Sementara 800 juta lainnya mendekati kemiskinan. Mayoritas warga miskin hidup di belahan dunia yang menghadapi kerusakan lingkungan hidup dan di sejumlah kasus mereka justri memiliki saham utama dalam proses kerusakan lingkungan hidup. 

Untuk melangsungkan hidup, mereka tidak memiliki pilihan kecuali mengeskploitasi secara sembarangan sumber alam yang tidak tersedia. Dengan demikian hubungan antara kemiskinan dan perusakan lingkungan hidup oleh orang miskin dewasa ini kian mempercepat kerusakan lingkungan hidup.

Meskipun banyak pihak mengatakan bahwa kawasan perkotaan sebagai kantong kemiskinan, berbagai data statistik mempertegas bahwa kawasan pedesaan tetap sebagai kawasan yang paling banyak penduduk miskinnya. Hal inilah yang sangat mengkhawatirkan, karena tekanan terhadap kawasan hutan dan lingkungan hidup makin tinggi. Hal ini senada dengan kekhawatiran Komisi Dunia Untuk Lingkungan dan Pembangunan PBB (1988). Sebab, mereka yang miskin dan kelaparan acapkali menghancurkan lingkungan sekitarnya demi kelangsungan hidup. 

Mereka akan menebang hutan, ternaknya akan menggunduli padang-padang rumput, mereka akan menggunakan lahan merginal secara berlebihan. Mengapa hal seperti ini akan terjadi? Tanpa sumber penghidupan yang memadai, penduduk yang miskin sumberdaya akan tetap miskin. Mereka terpaksa memanfaatkan secara berlebihan basis sumberdaya yang ada demi kelangsungan hidup mereka. Sasaran yang paling dekat untuk memperoleh bahan pangan adalah hutan. Orang miskin itu disebut dengan kelompok the struggling.

Dewasa ini meski berbagai sumber perdagangan mengalami peningkatan, namun begitu masih banyak warga di berbagai negara miskin dan sedang berkembang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak atau pemanas ruangan. Hal ini dengan sendirinya mendorong perusakan lingkungan hidup. Misalnya di Nepal, 97 persen sumber energi yang dikonsumsi dari kayu. Ethiopia dan Burkinafaso juga memenuhi 90 persen kebutuhan energinya dari kayu.

Dengan demikian ketidakmerataan dalam akses sumber energi mendorong warga miskin tidak memiliki pilihan dan hasilnya adalah sumber-sumber alam mendasar mengalami kerusakan parah, dimana kelangsungan hidup mereka sebenarnya sangat bergantung pada sumber ini. Selain itu ketimpangan yang ada bagi minoritas warga dunia, di dalam negeri atau bahkan di tingkat masyarakat lokal mendorong sumber ini dimanfaatkan secara irrasional dan dengan demikian sumber alam ini sia-sia atau mengalami kerusakan parah, khususnya bagi lingkungan hidup.

Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh penduduk miskin cenderung dipengaruhi oleh pola pikir mereka. Karena mereka terhimpit oleh kemiskinan, pikiran mereka hanya terfokus pada makanan yang bisa mereka dapatkan untuk bertahan hidup hari ini. Pemikiran sempit inilah yang mendorong mereka merusak lingkungan dan merampas kekayaannya tanpa memberikan waktu bagi alam untuk memperbarui sumber dayanya. Lingkungan hanya dipandang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga tidak ada rencana apapun untuk memanfaatkan kekayaan lingkungan seefektif mungkin. Selama lingkungan masih bisa memenuhi kebutuhan mereka, mereka tidak peduli terhadap kerusakan lingkungan.

Ada beberapa solusi yang bisa kita terapkan untuk mencegah kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh desakan kebutuhan hidup. Penduduk miskin di pedesaan mungkin belum terlalu memahami pentingnya kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, mereka harus diberi penyuluhan dan pemahaman mengenai pentingnya lingkungan. Mereka juga perlu diberi pengarahan untuk melakukan rehabilitasi lahan. Tanpa rehabilitasi, kekayaan alam tidak bisa diperbarui dan akan habis seketika. Jika sudah tidak ada lagi yang bisa dimanfaatkan, mereka juga tidak akan bisa menggunakan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Pengentasan kemiskinan juga menjadi solusi yang sangat tepat untuk mengantisipasi kerusakan ini. Pemerintah harus memberikan lapangan pekerjaan atau bantuan pinjaman berbunga rendah kepada penduduk miskin. Dengan cara ini, diharapkan mereka bisa mencari sumber penghasilan sendiri tanpa perlu merampas kekayaan alam. Jika semua pihak mau berpartisipasi untuk menjaga kelestarian lingkungan, generasi masa depan masih punya kesempatan untuk menikmatinya.

Kerusakan lingkungan membuat perubahan pola sosial masyarakat berubah dan berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi. Hal ini misalnya terjadi pada masyarakat suku pedalaman, dimana hutan sudah dirambah sehingga kehidupan masyarakat berubah dan berpengaruh terhadap ekonomi karena makanan yang selam ini tersedia sudah berkurang. Kehidupan ini akhirnya mengubah kehidupan sosial dimana mereka harus mencari makanan di luar kebiasaan dan untuk mendapatkannya perlu untuk bekerja di luar kebiasaan yang ada. Jika tidak mampu untuk berubah maka terjadi kemiskinan. Bentuk lain hubungan ini yaitu kerusakan secara langsung mempengaruhi kesejahteraan masyarakat.

 Hal ini misalnya terjadi pada tempat yang mengalami bencana seperti longsor dan banjir karena kerusakan lingkungan. Akibatnya, masyarakat mengalami kerugian material dan berdampak pada kehidupan. Petani, misalnya tentu akan mengalami kerugian luar biasa apabila terjadi banjir dan akhirnya mengalami kesulitan ekonomi. Hubungan yang saling berpengaruh ini perlu dipelajari dengan baik sehingga dapat diambil kebijakan yang dapat mengakomodir antara ketersediaan lingkungan dan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitar lingkungan. Kekurangsadaran akan pentingnya lingkungan dan besarnya nilai ekonomi yang ada dalam keadaan lingkungan menjadi penyebab utama hubungan yang tidak baik ini. Lingkungan yang dikelola dengan baik dengan memperhatikan juga. kehidupan sosial masyarakat disekitarnya sehingga dapat diperoleh kesejahteraan bagi orang banyak.