Feb 10, 2018 13:32 Asia/Jakarta

Surat al-Qashash ayat 22-25.

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ (22) وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23)

Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi), “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.” (28: 22)

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab, “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” (28: 23)

Di pertemuan sebelumnya kami telah jelaskan bahwa bahwa salah satu penghuni istana Firaun memberi kabar kepada Musa terkait keputusan istana untuk membunuh kamu wahai Musa, oleh karena itu, secepatnya kamu keluar dari kota. Ayat ini menyatakan, “Musa memutuskan untuk keluar dari Mesir yang berada di bawah kontrol Firaun dan menuju Madyan yang terletak di selatan Syam, karena wilayah ini bukan termasuk kekuasaan Firaun. Namun perjalanan ini juga memiliki bahaya yang mengintai, di antaranya ancaman tersesat jalan dan tertangkap oleh para prajurit. Oleh karena itu, Musa memohon kepada Tuhan untuk ditunjukkan jalan yang lurus dan benar.”

Ayat selanjutnya menyatakan, sebelum memasuki kota Madyan, Musa menyaksikan sekawanan domba yang berkumpul di sekitar sumur dan para pengembala sibuk memberikan air untuk hewan ternak mereka. Wajar jika Musa yang tengah kelelahan karena menempuh perjalan jauh, juga menuju sumur untuk meminum air serta membersihkan wajahnya. Ternyata Musa menyaksikan pemandangan aneh di sekitar sumur yang menarik perhatiannya.

Musa menyaksikan dua perempuan di sisi sumur seperti pengembala lainnya yang mengumpulkan binatang ternaknya untuk diberi minum, tapi ternyata kedua perempuan ini hanya berdiri di samping sumur dan mengawasi hewan ternaknya supaya tidak bercampur dengan kelompok lainnya. Musa yang menyaksikan pemandangan ini merasa takjub. Musa kemudian mulai mencari jawaban atas keberadaan kedua perempuan ini dan mengapa memisahkan diri dari para pria.

Kedua perempuan ini berkata, “Ayah kami sudah tua dan kami dua bersaudara terpaksa mengembalakan kambing, namun karena kami tidak ingin berdesak-desakan dan bercampur dengan pria, kami terpaksa bersabar hingga mereka memberi minum kambingnya. Ketika para pria sudah selesai, maka giliran kami memberi minum kambing-kambing kami.”

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Persiapan untuk berhijrah dari satu kota atau rumah merupakan salah satu program para reformis besar, sehingga mereka dapat memiliki kemampuan untuk menanggung kesulitan di masa mendatang.

2. Doa hanya memiliki arti setelah seseorang bergerak dan berusaha, bukannya diam dan hanya berdoa mengharapkan sesuatu.

3. Menjaga kehormatan dan jarak antara pria dan wanita serta menghindari percampuran antara pria dan wanita di lingkungan kerja, merupakan sebuah nilai. Hal ini seperti yang dicontohkan oleh anak perempuan Syuaib yang tidak memberi minum kambingnya hingga para pria menyelesaikan pekerjaan mereka.

4. Jika terpaksa, anak perempuan para nabi pun akan menjadi pengembala, namun mereka tidak akan pernah bersedia menyerah pada kehinaan dan meminta-minta.

فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24) فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (25)

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (28: 24)

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syuaib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syuaib berkata, “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” (28: 25)

Musa yang meninggalkan Mesir karena takut kepada Firaun dan tiba di Madyan dalam kondisi letih dan tidak berdaya berhasil melupakan kesulitannya. Musa pun melindungi dua perempuan anak Nabi Syuaib dan memberi minum hewan ternak mereka. Setelah melakukan pekerjaannya dan tanpa meminta upah, Musa duduk dan berteduh di bawah pohon melepas lelah. Namun demikian rasa laparnya tak dapat ia tahan dan Musa mulai mencari makanan. Musa adalah orang asing di Madyan dan tidak memiliki kenalan sehingga dapat bertamu dan mendapat makanan. Oleh karena itu, ia memohon kepada Tuhan supaya kebutuhannya dipenuhi, baik makanan maupun tempat tinggal.

Di sisi lain, anak-anak Nabi Syuaib lebih dahulu tiba di rumah mereka dari hari biasanya. Syuaib yang menyaksikan hal tersebut bertanya kepada mereka, apakah kalian tidak memberi minum kambing kalian dan lebih cepat tiba di rumah? Anak Nabi Syuaib kemudian mulai menceritakan peristiwa yang terjadi dan bantuan Musa kepada mereka. Nabi Syuaib yang mengetahui peristiwa sebenarnya berkata kepada anaknya, “Pergilah kalian dan cari orang tersebut serta undanglah ia ke rumah kita, sehingga kita dapat mengucapkan terima kasih atas bantuannya dan memberinya balasan yang sepantasnya?

Salah satu anak Nabi Syuaib dengan malu-malu mendatangi Musa dan berkata, “Ayah kami mengundang Anda ke rumah dan datanglah ke rumah bersama kami, sehingga kami dapat membalas kebaikan Anda.” Musa yang menyaksikan perilaku perempuan tersebut merasa bahwa ia dari keluarga suci dan terpandang serta ayah mereka adalah orang yang tahu berterima kasih serta tidak mensia-siakan bantuan orang lain.

Oleh karena itu, Musa menerima undangan tersebut dan apa yang ia perkirakan sebelumnya sepenuhnya benar. Dengan demikian ia berangkat ke rumah Nabi Syuaib, salah satu utusan Tuhan. Setibanya di rumah Nabi Syuaib, Musa mulai menceritakan kehidupannya mulai dari awal hingga kedatangannya ke kota Madyan. Nabi Syuaib berkata kepada Musa, kamu telah diselamatkan Tuhan dari penguasa zalim dan kamu dapat tinggal di sini selama kamu inginkan.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Ketika kita memiliki kesulitan, jangan melupakan kesulitan orang lain dan semampunya kita berusaha meringankan kesulitan orang lain.

2. Mintalah kepada Tuhan untuk menyelesaikan kesulitan dan kebutuhan kita, sehingga Allah Swt akan mempersiapkannya bagi kita sebaik-baiknya.

3. Di ajaran para nabi, kehadiran perempuan di masyarakat tidak ada maknanya, kecuali dengan menjaga kesucian dan privasi antara perempuan dan pria dijaga.

4. Kita harus membalas budi dan kebaikan orang lain dengan sebaik-baiknya.