80 Tahun Israel Menyulut Perang Berkat Kantong AS
-
Serangan rezim Zionis ke Lebanon
Pars Today - Jaringan Al Jazeera dalam laporan analisisnya mengungkapkan bahwa sebagian besar biaya militer rezim Zionis selama beberapa dekade terakhir berasal dari bantuan keuangan dan militer Washington.
Menurut laporan Pars Today mengutip IRNA, Minggu, 12 April 2026, sekitar delapan puluh tahun telah berlalu sejak rezim Zionis, dalam rangka tujuan ekspansionisnya, melancarkan berbagai perang di Gaza, Lebanon, dan Iran. Gelombang ketegangan regional pun tercipta. Sementara itu, dukungan Amerika Serikat terhadap rezim ini terus meningkat. Israel, dengan mengandalkan dukungan persenjataan AS, telah membakar perdamaian dan stabilitas Timur Tengah.
Berdasarkan laporan ini, total bantuan AS kepada Israel sejak Perang Dunia II hingga kini telah melampaui 300 miliar dolar. Jumlah ini mencakup bantuan militer dan ekonomi, menjadikan Tel Aviv sebagai penerima bantuan luar negeri AS terbesar dalam sejarah modern. Padahal, Tel Aviv dan Washington tidak terikat pakta pertahanan timbal balik resmi seperti perjanjian Washington dengan NATO atau Jepang.
Dari Kennedy hingga Biden: Bagaimana Bantuan AS Berubah Bentuk
Al Jazeera menelusuri akar hubungan istimewa dan strategis ini. Prosesnya dimulai pada 1960-an, ketika Presiden John F. Kennedy pada 1962 menyetujui penjualan rudal pertahanan ke Israel. Langkah ini melanggar embargo tidak resmi penjualan senjata ofensif besar ke Tel Aviv. Motivasi utama Washington saat itu disebutkan untuk menyeimbangkan penjualan senjata Soviet ke Mesir.
Pada fase awal, transaksi dilakukan dalam bentuk pinjaman berbunga. Namun, sifat bantuan ini berubah secara fundamental pada dekade-dekade berikutnya.
1973: Titik Balik dari Pinjaman ke Hibah
Laporan ini menyebut tahun 1973 sebagai titik balik. Golda Meir, Perdana Menteri Israel saat itu, setelah kekalahan awal dalam perang Oktober, meminta bantuan darurat. Kongres AS, atas rekomendasi Presiden Richard Nixon, mengesahkan paket bantuan darurat senilai 2,2 miliar dolar serta ribuan ton peralatan militer.
Setelah perang usai, Kongres memutuskan mengubah 1,5 miliar dolar dari paket tersebut menjadi hibah. Sebagian besar bunga pinjaman yang tersisa juga dibebaskan.
1980-an: Krisis Ekonomi dan Kelahiran "Hibah Penuh"
Pada 1980-an, krisis ekonomi parah Israel dengan inflasi 400 persen membawa babak baru bantuan AS. Pemerintahan Ronald Reagan mengubah bantuan militer dari pinjaman menjadi hibah penuh. Pada 1976, kerangka hukum dukungan ini dibuat melalui program "Foreign Military Financing" yang dibiayai dari pajak warga AS.
Hak Istimewa yang Tak Dimiliki Negara Lain
Al Jazeera menulis bahwa dalam program bantuan AS, awalnya ditegaskan dana tersebut harus digunakan untuk membeli peralatan dan layanan Amerika. Namun, Israel mendapat pengecualian luar biasa: diizinkan menggunakan sekitar 26,3 persen bantuan finansial AS di dalam Wilayah Pendudukan untuk mengembangkan industri militer. Israel juga diizinkan menandatangani kontrak besar, seperti pembelian jet tempur F-35, berdasarkan jaminan bantuan masa depan. Hak istimewa ini belum pernah diterima negara mana pun.
Pakai bantuan, kontrak di tangan sendiri, itulah Israel.
1990-an hingga Kini: Perjanjian 10 Tahun dan Peningkatan Bertahap
Pada 1990-an, kedua pihak beralih ke "perjanjian sepuluh tahun" yang disusun melalui nota kesepahaman politik. Proses ini dimulai pada 1999 era Bill Clinton dengan nilai 21,3 miliar dolar. Angka itu naik menjadi 30 miliar dolar di era Barack Obama. Dalam perjanjian saat ini, nilainya mencapai 38 miliar dolar (3,8 miliar dolar per tahun hingga 2028).
Tambahan 14,1 Miliar Dolar Selama Perang Gaza
Dengan dimulainya agresi Israel ke Gaza pada 2023, Kongres AS mengesahkan anggaran tambahan 14,1 miliar dolar. Total bantuan Washington ke Tel Aviv selama dua tahun perang pun mencapai sekitar 21,7 miliar dolar.
Akhir dari Dukungan Tanpa Syarat?
Di akhir laporannya, Al Jazeera menyebutkan bahwa Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, kini berupaya merevisi perjanjian yang ada dan memperpanjangnya menjadi 20 tahun, bukan 10 tahun. Namun, pertanyaan yang semakin menguat adalah: Apakah era dukungan tanpa syarat AS terhadap Israel akan berubah?(sl)