Jul 02, 2018 12:39 Asia/Jakarta

Surat Fatir ayat 18-21.

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى إِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِهِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (18)

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu). (35: 18)

Ayat ini mengisyaratkan salah satu prinsip keyakinan muslim yakni keadilan Tuhan. Ayat tersebut menyatakan, di hari Kiamat tolok ukur azab dan pahala adalah amal perbuatan seseorang, sementara hubungan duniawi seperti pertemanan dan kekerabatan tidak akan bermanfaat. Saat menghitung amal perbuatan seseorang, Allah Swt tidak akan melimpahkan dosa seseorang kepada orang lain. Di hari Kiamat, setiap orang harus menjawab pertanyaan soal amal perbuatannya. Saat itu, manusia tidak akan mampu menjustifikasi dosa dan perbuatan maksiatnya dengan menyalahkan lingkungan dan masyarakat sekitarnya.

Yang pasti, jika seseorang mengajak orang lain berbuata dosa, maka ia juga turut andil dalam perbuatan maksiat yang dilakukan orang tersebut serta akan mendapat bagian siksaan. Sama seperti orang yang mengajak kebaikan, maka ia juga akan mendapat bagian pahala dari perbuatan baik orang yang menjawab seruannya tersebut.

Selanjutnya ayat ini mengisyaratkan akar perbuatan dosa, yakni polusi jiwa (ruh). Kelanjutan ayat ini menyatakan, hanya orang-orang yang mencari kebenaran yang bersedia mendengarkan kebenaran dan menghindari perbuatan buruk, serta mereka mengejar kebersihan jiwa dan keselamatan mental. Jika tidak demikian, bahkan ucapan nabi pun tidak akan berpengaruh pada mereka serta orang-orang ini tidak akan sadar.

Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Di hari Kiamat, dosa merupakan beban berat di pundak manusia.

2. Jangan terkecoh dengan tipuan orang lain di dunia yang mengajak kita berbuat maksiat dengan mengatakan, jika memang ada siksaan, kita nanti yang akan menanggung dosa kalian.

3. Dosa setiap manusia berada di pundaknya sendiri dan kita tidak akan disiksa karena dosa orang lain. Tapi jika kita tidak mengamalkan amar makruf nahi munkar, dan kita tidak mencegah orang lain melakukan perbutan dosa dan maksiat, maka kita juga akan disiksa karena diam menyaksikan perbuatan dosa orang lain.

4. Di hari Kiamat, setiap orang menanggung akibat amal perbuatannya dan manusia tidak dapat melakukan apapun untuk meringankan orang lain, meski mereka adalah keluarga dan familinya.

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ (19) وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ (20) وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ (21)

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. (35: 19)

Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. (35: 20)

Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas. (35: 21)

Ayat ini menyebutkan perbedaan antara orang kafir dan mukmin melalui kiasan. Ayat di atas mengatakan, apakah menurut kalian orang buta sama dengan orang yang tidak buta? Jelas bahwa itu tidak sama dan pengertian mereka tentang hakikat dunia ini pun tidak sama. Karena salah satunya hanya merasakan kegelapan, dan yang lainnya menyaksikan segala sesuatu dengan jelas. Seakan-akan orang buta hidup dalam bayang-bayang, sementara orang yang tidak buta hidup di bawah sinar matahari yang terang.

Namun begitu, buta dan tidak buta adalah dua hal takwini (penciptaan), di mana manusia tidak memiliki andil di dalamnya. Namun iman dan kekufuran adalah dua hal pilihan. Setiap orang dapat memilih jalan kekufuran dan hasilnya adalah mereka tenggelam dalam kegelapan kekufuran dan mereka tidak mampu melihat hakikat maknawi dan ghaib, atau sebaliknya mereka hidup di bawah cahaya keimanan serta meraih pencerahan dan mendapat hidayah Ilahi.

Ayat selanjutnya juga menekankan bahwa Allah Swt mengirim para nabi dan kitab samawi untuk memberi hidayah dan menuntun manusia dari jalan kegelapan menuju cahaya hidayah Ilahi. Sementara para pemimpin kafir dan dan taghut berusaha mengeluarkan manusia dari cahaya keimanan ke ara kegelapan kekufuran.

Di alam, kehidupan makhluk hidup mulai dari tumbuhan, hewan dan manusia bergantung pada cahaya matahari. Jika cahaya dan panas matahari tidak sampai ke bumi dan kegelapan menyelimuti planet ini, maka seluruh makhluk hidup akan mati. Ruh manusia juga demikian, yakni kehidupan ruh manusia tergantung pada cahaya Ilahi. Cahaya Ilahi ini diraih melalui akal, fitrah dan seruan para nabi.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Membandingkan kebaikan dan keburukan, atau kehidupan orang mukin dan kafir akan membantu kita menemukan jalan kebenaran dan menyelamatkan kita dari kekufuran serta kesyirikan.

2. Agama memberi pencerahan dan cahaya kepada manusia, sehingga ia memiliki pengatahuan dan wawasan yang diperlukan untuk selamat dari kegelapan.

3. Di ayat ini cahaya (nur) dijelaskan dalam bentuk tunggal (mufrad), sementara kegelapan (dhulumat) dalam bentuk jamak. Ini artinya jalan kebenaran hanya satu, sementara jalan menyimpang sangat banyak.