Jan 14, 2019 16:08 Asia/Jakarta
  • perkembangan teknologi Iran
    perkembangan teknologi Iran

Tim peneliti di Universitas Michigan, Amerika Serikat dipimpin seorang ilmuwan perempuan keturunan Iran berhasil menciptakan sejenis perancah khusus untuk kultur sel jantung yang dapat memulihkan kinerja jantung dan menekan kemungkinan penolakan transplantasi (transplant rejection) hingga level terendah.

Jantung manusia dalam jangka waktu 70 tahun berdetak sekitar 2,5 juta kali. Terkadang pada masa kontraksi dan istirahat, otot jantung tidak dapat menahan tekanan dan kerenggangan yang melebihi batas dan mengalami cedera.

Jika sel otot jantung (kardiomiosit) dapat pulih dengan perantara sel-sel tubuh sendiri, maka proses penyembuhan pasien akan semakin cepat. Akan tetapi produksi sel-sel jantung membutuhkan persiapan yang akurat dan setiap pasien harus mendapat perlakuan khusus.

Dalam penelitian ini, para peneliti menunjukkan bagaimana kardiomiosit yang tumbuh di satu tempat mirip jantung dan lebih cepat berkembang, dapat memulihkan kinerja jantung dan pada akhirnya menekan kemungkinan penolakan transplantasi secara optimal dengan perantara tubuh pasien sendiri.

Para peneliti menggunakan sel induk pluripoten diinduksi atau Sel iPS untuk memproduksi kardiomiosit ini.

Dewasa ini biasanya kultur kardiomiosit dilakukan dalam satu set dua dimensi (wadah kultur sel eksperimen), namun poin pentingnya adalah tempat tumbuhnya sel pada sifat genetiknya, memiliki urgensi tinggi.

Dengan alasan tersebut, simulasi tempat asli jantung yang di dalamnya memberikan tekanan atau energi khusus pada kardiomiosit, berujung dengan peningkatan produksi kardiomiosit dewasa.

Salah satu keterbatasan utama sel-sel penyembuh jantung adalah tidak diproduksinya sel-sel punca dewasa dan sepenunya memiliki efektivitas.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan merancang struktur-struktur tiga dimensi dalam bentuk templat yang mensimulasi tempat tumbuhnya sel jantung di dalam tubuh.

Karakteristik kardiomiosit ini dari sisi tekanan atau ketahanan sepenuhnya mirip dengan lingkungan jantung. Struktur ini menyiapkan dengan baik kondisi untuk memproduksi kardiomiosit dewasa.

Para peneliti di Universitas Kharazmi, Iran dengan kerja sama seorang peneliti Iran di Universitas Nasional Singapura, NUS mengevaluasi kinerja empat partikel nano berbeda dalam rangka meningkatkan efektivitas membran-membran yang digunakan dalam industri susu.

Dalam beberapa tahun terakhir teknologi penggunaan membran mendapat perhatian besar dalam berbagai jenis industri karena memiliki banyak kegunaan.

Kemudahan operasional, efisiensi tinggi dan konsumsi energi yang rendah, termasuk di antara kegunaan utama teknologi ini untuk operasi pemisahan.

Hasil dari penelitian baru ini membuktikan efektivitas penggunaan teknologi nano untuk meningkatkan kinerja teknik membran.

Universitas Kharazmi, Iran

Menurut keterangan salah satu anggota staf pengajar Universitas Kharazmi, tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat efektivitas empat jenis partikel nano berbeda dalam upaya pemulihan kinerja membran polimer yang digunakan dalam industri susu.

Salah seorang pengajar Universitas Kharazmi Iran mengatakan, partikel nano ini karena memiliki karakteristik ramah air dari satu sisi dan pemulihan distribusi serta pengukuran porositas di sisi lain, menyebabkan efisiensi penyaringan membran-membran mengalami perbaikan secara signifikan.

Selain itu, partikel nano yang ditambahkan ke dalam struktur membran dengan menciptakan karakteristik anti-kram, menyebabkan usia nano-nano partikel tersebut bertambah secara signifikan.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Separation and Purification Technology pada tahun 2018.

Para peneliti Iran di sebuah pusat riset laboratorium menggunakan teknologi plasma untuk meningkatkan efisiensi pencelupan warna serat wol.

Pencelupan merupakan salah satu tahap penting dalam industri tekstil dan tidak mudah sebagaimana dibayangkan banyak orang, serta memiliki tingkat kesulitan teknis dan lingkungan hidup.

Ketidakmampuan sebagian serat dalam menyerap warna merupakan salah satu kesulitan yang dihadapi.

Saat ini untuk mengatasi kesulitan tersebut digunakan sejumlah metode yang memiliki beberapa kelemahan dan keterbatasan, oleh karena itu para peneliti berusaha menemukan metode alternatif untuk memperbaiki fungsi pencelupan serat.

Menurut keterangan salah satu peneliti, metode rak adalah sebuah metode tradisional, menimbulkan pencemaran dan berbahaya bagi perbaikan fungsi pencelupan warna serat wol.

Dengan memperhatikan rekam jejak industri pencelupan warna alami di Iran yang sangat tua, hasil penelitian dapat mengatasi salah satu masalah di bidang ini yaitu tingkat penyerapan warna yang rendah pada serat.

Tujuan penelitian adalah menemukan sebuah metode ramah lingkungan untuk menyingkirkan metode rak beracun dari proses pencelupan yang biasanya terdapat pada teknik tradisional.

Peningkatan daya serap serat wol, peningkatan kecepatan pencelupan dan penurunan tajam pencemaran lingkungan hidup terkait limbah industri warna, di antara keuntungan menggunakan hasil penelitian ini.

Penelitian ini dilakukan atas kerja sama tim peneliti Universitas Azad Eslami Birjand, Universitas Yazd, Universitas Shahid Bahonar Kerman dan Universitas Teknologi dan Seni Yazd.

Hasil penelitian dimuat oleh jurnal ilmiah International Journal of Biological Macromolecules pada tahun 2018.

Para peneliti di California Institute of Technology, Caltech berhasil memulihkan fungsi indera peraba pada lengan seorang laki-laki lumpuh, sehingga dengan cara ini ia bisa merasakan sentuhan orang lain pada tangannya.

Para peneliti menanam elektrode pada kortikal pria lumpuh tersebut sehingga dengan cara ini dan dengan simulasi aktivitas sistem saraf yang terhubung ke indera peraba,  terbuka kemungkinan baginya untuk mendeteksi alat indera lain dengan cara mengirim sinyal elektronik.

Menurut para peneliti, setelah penelitian ini disempurnakan, akan terbuka kesempatan untuk memproduksi prostesis dan tubuh buatan bagi pasien dan memulihkan kembali indera-indera yang tidak berfungsi akibat kelumpuhan.   

Menurut para peneliti, metode ini dapat menyebar ke bagian tubuh manusia lain yang lumpuh sehingga organ tubuh itu bisa merasa kembali.

Selain itu terbuka kemungkinan dengan semakin majunya metode pengobatan ini, kemampuan bergerak lengan yang lumpuh dapat pulih dengan berpikir.

Dalam uji coba pertama, sejumlah relawan lumpuh yang menggunakan metode ini mampu menggerakkan kaki mereka meski terbatas.

Dengan cara itu dua elektrode yang sangat tipis dipasang pada pembuluh darah otak pasien yang tersumbat sehingga menurunkan indera tekanan, peraba, getaran dan pengambilan keputusan seputar gerakan bagi manusia.  

Para peneliti berharap dengan bertambah luasnya uji coba, maka akan semakin banyak penderita lumpuh yang bisa mendapatkan kembali kemampuan bergeraknya yang sempat hilang terutama indera peraba.[]