Apr 06, 2019 05:11 Asia/Jakarta
  • 6 April 2019.
    6 April 2019.

Hari ini, Sabtu 6 April 2019 bertepatan dengan 30 Rajab 1440 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 17 Farvardin 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.

Ibnu Bari Meninggal Dunia 

941 tahun yang lalu, tanggal 30 Rajab 499 HQ, Ibnu Bari, seorang sastrawan dan linguis Arab berkebangsaan Mesir terlahir ke dunia.

Semasa hidupnya ia tinggal di Kairo. Di kota itulah ia menimba ilmu dari para ilmuwan zamannya. Dengan cepat, ia menjadi sastrawan besar di zamannya. Setelah itu, waktunya lebih banyak diluangkan untuk mengajar Quran dan sastra Arab.

Di akhir hayatnya, ia mulai menulis sejumlah kitab. Sampai saat ini, karya-karya tulisnya di bidang nahwu dan bahasa bisa dibaca.

Dimulainya Kebangkitan Syahid Mohammad Khiyabani di Tabriz

99 tahun yang lalu, tanggal 17 Farvardin 1299 HS, dimulainya kebangkitan Syahid Mohammad Khiyabani di Tabriz

Sheikh Mohammad Khiyabani sejak mudanya telah menyukai ilmu-ilmu agama dan dengan cepat beliau meraih derajat keilmuan yang tinggi. Pasca kebangkitan Revolusi Konstitusi, kehidupan Sheikh Mohammad Khiyabani memasuki babak baru. Beliau membentuk Komunitas Pejuang untuk menyukseskan Revolusi Konstitusi dan mengambil langkah-langkah penting di Tabriz. Dalam perjuangannya beliau mempublikasikan surat kabar Tajaddud (Pembaruan) yang isinya kebanyakan menuntut diterapkannya undang-undang hasil Revolusi Konstitusi.

Sheikh Mohammad Khiyabani kemudian terpilih sebagai pemimpin kelompok Demokrat Azerbaijan. Banyak aktivitas positif yang dilakukannya dan dengan memanfaatkan koran Tajaddud, beliau berhasil menyukseskan tujuan-tujuanya. Sheikh Mohammad Khiyabani menjadi tokoh paling berpengaruh pasca blokade Tabriz dalam periode penindasan kecil (Estebdad saghir).

Setelah Sheikh Mohammad Khiyabani dan lima orang sahabatnya terpilih menjadi anggota Parlemen Iran, Vusuq ad-Dowleh, Perdana Menteri Dinasti Qajar memutuskan untuk melenyapkan Sheikh Khiyabani. Untuk itu ia mengirimkan pasukan ke Tabriz.

Keputusan dan pengiriman pasukan itu memaksa Sheikh Mohammad Khiyabani bangkit melawan Vusuq ad-Dowleh dan pada 17 Farvardin 1299 Hs (6 April 1920) dalam waktu singkat beliau dan pasukannya berhasil menguasai seluruh kantor pemerintah Tabriz. Kemenangan yang disebut Kebangkitan Khiyabani ini berlanjut hingga lebih dari 5 bulan.

Sheikh berdiri di bangunan Tajaddud sambil menyampaikan pidatonya. Sementara masyarakat dengan penuh perhatian mendengarkan pidatonya. Sheikh menyampaikan pidatonya dalam bahasa Azari dan terjemah Persia-nya setiap hari dipublikasikan lewat surat kabar Tajaddud. Selama 5 bulan ini, Sheikh Khiyabani dan perjuangannya menghadapi banyak bahaya, tapi berhasil menyingkirkannya dan api konspirasi berhasil dipadamkan.

Sheikh Mohammad Khiyabani dalam perjuangannya senantiasa berusaha menuntun opini masyarakat dan meningkatkan kesadaran dan informasi mereka demi meraih tujuan yang dicanangkan. Oleh karenanya, Sheikh Khiyabani tidak pernah berusaha memperkuat dan memperbaharui kekuatan bersenjatanya untuk membela perjuangannya. Dalam perjuangannya, Sheikh pernah menghadapi tekanan pasukan Rusia di masa Perang Dunia I dan berhasil mencegah masuknya pengaruh komunis di Iran.

Ketika Mokhber al-Saltanah menjadi Gubernur Tabriz yang baru dan berhasil mengalahkan pertahanan perjuangan Sheikh Khiyabani pada 21 Shahrivar 1299 (12 September 1920), mereka menahannya dan akhirnya menggugursyahidkan Sheikh.

Syahid Mohammad Khiyabani.

Bentrokan Berdarah di Rwanda

25 tahun yang lalu, tanggal 6 April 1994, bentrokan berdarah antara dua suku besar di Rwanda, yaitu Suku Tutsi dan Hutu, dimulai.

Dalam waktu tiga bulan, kelompok ekstrimis Hutu membunuh secara massal sekitar 800 ribu orang Tutsi dan orang-orang moderat dari sukunya sendiri. Akibat perang besar ini, dua juta warga Rwanda terpaksa mengungsi ke tempat lain yang lebih aman.

Bentrokan antara dua suku besar di Rwanda ini memang memiliki akar sejarah sejak puluhan tahun lalu. Pada tahun 1994, sebenarnya sudah terjadi rekonsiliasi antara para pemuka suku. Disepakati bahwa mereka akan membentuk pemerintahan koalisi lewat pemilihan umum yang demokratis. Akan tetapi, pada bulan April tahun itu, terjadi insiden misterius berupa jatuhnya pesawat yang mengangkut Presiden Rwanda yang berasal dari Suku Hutu. Kelompok ekstrim Hutu menuduh Suku Tutsi berada di balik insiden tersebut dan langsung mengobarkan perang antar suku.

Suku Hutu yang merupakan kelompok mayoritas di Rwanda dikenal dekat dengan Perancis. Sedangkan Tutsi secara terang-terangan mendapatkan dukungan dari AS. Akhirnya, berkat dukungan AS, kelompok minoritas Tutsi berhasil meraih kemenangan dan hingga kini menjadi rezim yang berkuasa di Rwanda.