Sep 22, 2019 07:58 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 22 September 2019

Hari ini, Minggu 22 September 2019 bertepatan dengan 22 Muharam 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 31 Shahrivar 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.

 

Syeikh Thusi Meninggal Dunia

981 tahun yang lalu, tanggal 22 Muharram 460 HQ, Syeikh Muhammad bin Hasan al-Thusi yang mendapat gelar kehormatan Sheikh al-Thaifah, seorang muhaddis dan salah satu ulama terbesar sepanjang sejarah Islam meninggal dunia.

Beliau lahir pada tahun 385 hijirah di Thus, kota di kawasan timur laut Iran. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, beliau bertolak ke Irak untuk menimba ilmu agama. Di sana Thusi berguru kepada para ulama besar di antara Sheikh Mufid dan Sayid Murtadha 'Alamul Huda. Berkat kecerdasan dan ketekunannya yang besar, Mohammad al-Thusi berhasil mencapai derajat keilmuan yang tinggi. Kedalaman ilmunya dengan cepat dikenal secara luas.

Syeikh Thusi selanjutnya mendirikan lembaga pendidikan agama di kota Najaf, Irak. Lembaga pendidikan itu dengan berjalannya waktu semakin marak dan Najak menjelma sebagai pusat keilmuan sampai zaman ini.

Syeikh Thusi meninggalkan banyak karya penulisan di berbagai cabang ilmu seperti tafsir al-Quran, fiqh, usul fiqh, dan hadits. Salah satu karyanya yang terkenal adalah tafsir al-Quran, al-Tibyan yang terdiri atas sepuluh jilid.  Di awal kitabnya ini, Syeikh Thusi membahas tentang Ulumul Quran.

Para mufassir mengakui bahwa kitab tafsir al-Tibyan adalah karya yang langka karena menjelaskan berbagai ilmu dalam kitab suci al-Quran. Karya beliau yang lain adalah al-Tahdzib dan kitab al-Istibshar, yang memuat hadits dan riwayat dari Rasulullah Saw dan Ahlul Bait as tentang syariat dan fiqih. Dua kitab ini menjadi buku rujukan utama Syiah Imamiah, bersama dengan al-Kafi karya Syeikh Kulaini dan Man Laa Yahdluruhul Faqih karya Syeikh Shaduq.

 

Perang Rakyat Cina Melawan Inggris

159 tahun yang lalu, tanggal 22 September 1860, dimulailah Perang Peking yang terjadi antara rakyat Cina melawan tentara Inggris dan Perancis.

Dalam perang ini, tentara Cina yang kekurangan senjata dan fasilitas militer, terpaksa menelan kekalahan. Cina kemudian dipaksa menandatangani surat perjanjian yang berisi penyerahan berbagai kekuasaan kepada Inggris dan Perancis. Selain itu, pelabuhan-pelabuhan Cina menjadi terbuka untuk orang-orang asing.

 

Ayatullah Khamenei (arsip)

Presiden Ayatullah Ali Khamenei Berpidato di PBB

32 tahun yang lalu, tanggal 31 Shahrivar 1366 HS, Presiden Ayatullah Ali Khamenei menyampaikan pidato di markas PBB.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Presiden Republik Islam Iran waktu itu ikut dalam Sidang Umum PBB Ke-42. Dalam sidang ke-42 itu, Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyampaikan pidato bersejarahnya pada 31 Shahrivar 1366 HS. Dalam pidatonya beliau menyampaikan pandangan Republik Islam Iran terkait pelbagai masalah dan mengritik keras kinerja pemerintah Amerika yang berkhianat terhadap bangsa Iran selama setengah abad lalu, khususnya pasca kemenangan Revolusi Islam Iran.

Dalam pidatonya beliau juga menjelaskan sebab dan tujuan rezim Baath, Irak untuk memulai perang dan melakukan kejahatan yang tak terbilang. Rezim Baath disebut melakukan perilaku anti kemanusiaan dan membantai rakyat tidak berdosa Iran.

Beliau menyampaikan pidatonya ketika beberapa waktu sebelumnya Dewan Keamanan PBB meratifikasi resolusi bernomor 598. Sementara rezim Irak sendiri dalam keadaan lemah dan kebingungan, sehingga mereka terpaksa menerima resolusi tersebut.

Pidato bersejarah Ayatullah Sayid Ali Khamenei di PBB itu sangat berperan penting dalam menggagalkan propaganda busuk musuh terhadap Republik Islam Iran, sekaligus mencerahkan opini dunia akan masalah yang sebenarnya terjadi.