Sep 25, 2019 07:05 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 25 September 2019

Hari ini, Rabu 25 September 2019 bertepatan dengan 25 Muharam 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 3 Shahrivar 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.

 

Imam Sajjad Gugur Syahid

1346 tahun yang lalu, tanggal 25 Muharam 95 HQ, menurut sebuah riwayat, Imam Ali Zainal Abidin as, imam keempat kaum Muslimin dan generasi kedua keturunan Rasulullah Saw, gugur syahid.

Imam Ali Zainal Abidin as adalah putra dari Imam Husein as, cucu Rasulullah. Beliau dikenal amat rajin beribadah dan bersujud di hadapan Allah, sehingga dijuluki as-Sajjad yang berarti banyak bersujud.

Imam Sajjad lahir tahun 38 Hijriah di Madinah. Pada tahun 61 Hijriah, Imam Sajjad turut menyertai ayah beliau yang berjuang melawan kezaliman pemerintahan Yazid, di Padang Karbala. Atas kehendak Allah, saat itu beliau jatuh sakit sehingga tidak bisa ikut bertempur. Setelah Imam Husain gugur syahid, tampuk imamah diemban oleh Imam Sajjad.

 

Gedung Sate Bandung

Hari Jadi Kota Bandung

209 tahun yang lalu, tanggal 25 September 1810, diperingati sebagai hari jadi kota Bandung.

Bandung (kota madya) merupakan ibu kota Provinsi Jawa Barat. Kota itu pada zaman dahulu dikenal sebagai Parijs van Java (bahasa Belanda) atau Parisnya Jawa. Bandung terkenal akan Gedung Sate dan hawanya yang sejuk.

Tepat pada 25 September 1810, Gubernur Jenderal ke-36 Hindia Belanda Daendels mengeluarkan surat keputusan pindahnya ibu kota Bandung dan sekaligus pengangkatan Raden Suria sebagai Patih Parakanmuncang. Sejak peristiwa tersebut, 25 September dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Bandung dan RA Wiranatakusumah sebagai the founding father.

Kini nama tersebut diabadikan menggantikan Jalan Cipaganti, wilayah itu menjadi rumah tinggal bupati sewaktu ibu kota berpindah ke alun-alun sekarang.

 

Ghumam Hamedani Meninggal Dunia

77 tahun yang lalu, tanggal 3 Mehr 1321 HS, Mohammad Yusuf Zadeh, yang terkenal dengan nama Ghumam Hamedani, seorang sastrawan dan penyair Iran, meninggal dunia.

Mohammad Yusuf Zadeh amat manguasai bidang logika, filsafat Islam dan sastra Persia. Selain menggeluti bidang sastra, dia juga aktif dalam perjuangan Revolusi Konstitusional Iran. Namun, ketika akhirnya revolusi ini menyimpang dari tujuannya semula dan tokoh-tokoh despotik naik menjadi pemimpin, Hamedani memilih keluar dari aktivitas politik dan berkonsentrasi di bidang pendidikan sosial dan sastra.

Satu-satunya karya peninggalan Hamedani adalah Diwan-e Asy'ar yang hanya memuat kurang dari sepertiga karya-karya syair Hamedani sepanjang hidupnya.