Sep 28, 2019 11:57 Asia/Jakarta
  • 28 September 2019
    28 September 2019

Hari ini, Sabtu 28 September 2019 bertepatan dengan 28 Muharam 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 6 Shahrivar 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.

Hudzaifah bin Yaman Wafat

1396 tahun yang lalu, tanggal 28 Muharam 45 HQ, Hudzaifah bin Yaman, sahabat Rasulullah Saw meninggal dunia.

Hudzaifah bin Yaman merupakan seorang sahabat besar Nabi Muhammad Saw dan sahabat khusus Imam Ali as. Ayah Hudzaifah meninggal di Perang Uhud oleh seorang muslim lainnya karena salah sangka.

Sejarahn

Hudzaifah merupakan satu dari tujuh orang yang melakukan shalat atas jenazah Sayidah Fathimah az-Zahra as. Ia mengetahui mana sahabat yang asli dan mana yang munafik.

Orang-orang Munafik pasca peristiwa Ghadir Khum berencana untuk membunuh Rasulullah Saw ketika akan melewati gunung sekembali dari Ghadir Khum. Di gunung itu mereka akan menakut-nakuti onta Nabi Saw agar tidak terkendali dan jatuh ke jurang, tapi Jibril memberitahu Nabi Saw akan rencana busuk ini.

Saat Nabi Saw tiba di gunung itu, orang-orang Munafik dengan muka tertutup membawa wadah yang dipenuhi dengan batu kerikil dari atas lalu menjatuhkannya ke arah Nabi Saw, sambil berteriak-teriak. Ammar bin Yasir dengan sigap memegang kendali onta Nabi Saw, sementara Hudziafah berada di sisi Nabi Saw. Akhirnya, rencana orang-orang Munafik gagal.

Setelah kejadian itu, Nabi Saw menyebutkan nama satu persatu orang-orang Munafik itu kepada Hudzaifah. Itulah mengapa setiap kali Hudzaifah tidak ikut melakukan shalat jenazah seorang Muslim, maka yang lain memahami bahwa orang itu adalah munafik.

Tanggal 28 Muharam 45 HQ, Hudzaifah bin Yaman meninggal dunia di kota Madain, 40 hari setelah Imam Ali as secara lahiriah diangkat sebagai khalifah. Sebelum meninggal, Hudzaifah berpesan kepada anaknya Shafwan dan Said agar senantiasa bersama Imam Ali as dan keduanya semasa hidupnya mengamalkan perintah ayahnya dan gugur syahid dalam perang Shiffin bersama pasukan Imam Ali as.

Resolusi PBB Pertama Soal Perang Irak-Iran

39 tahun yang lalu, tanggal 6 Mehr 1359 HS, PBB mengeluarkan resolusi pertama soal perang Irak-Iran.

Pada tanggal 3 Mehr 1359 HS, tiga hari pasca dimulainya perang yang dipaksakanan Irak terhadap Iran, Sekjen PBB menginformasikan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa sekalipun telah ada upaya untuk menghentikan agresi Irak, tapi perang antara Irak dan Iran di darat, laut dan udara masih terus berlanjut. Perang ini telah menimbulkan kerugian tidak hanya materi tapi juga jiwa. Oleh karenanya, Sekjen PBB mengusulkan agar DK-PBB segera menindaklanjuti masalah ini.

Gedung PBB

Akhirnya DK-PBB mengadakan sidang darurat dimulai dari tanggal 4 Mehr hingga 6 Mehr dan usulan dikeluarkannya resolusi diterima secara aklamsi oleh anggota DK-PBB. Resolusi 479 DK-PBB menjadi resolusi pertama akhirnya dikeluarkan pada 6 Mehr 1359 HS soal perang Irak dan Iran. Dalam resolusi ini, selain menyatakan kekhawatiran yang mendalam soal kondisi perang yang semakin meluas, kepada kedua negara diminta untuk menyelesaikan masalahnya lewat jalur diplomasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dan hukum internasional.

Sekaitan dengan dikeluarkannya resolusi ini, Iran menjelaskan bahwa Irak berulang kali melakukan pelanggaraan atas perjanjian 1975 Aljazair dan negara ini tampaknya justru berusaha meningkatkan agresinya terhadap Iran. Di sisi lain, Iran menyatakan bahwa agresi Irak ke daerah-daerah Iran merupakan pelanggaran dan untuk itu, Iran berkewajiban untuk membela kedaulatannya. Iran juga menyatakan bahwa selama Irak melanggar kedaulatan Iran, maka resolusi DK-PBB itu tidak dapat diterima oleh Iran. Sementara perundingan baik langsung maupun tidak juga tidak bermanfaat, bila pelanggaran masih terus dilakukan oleh pihak Irak.

Resolusi 479 tidak menyebutkan sama sekali siapa pemicu perang dan kedua pihak; Iran dan Irak disebutkan secara sejajar. Oleh karenanya, Iran menyebut resolusi itu sangat tidak adil dan zalim terkait agresi Irak terhadap Iran.

Intifadhah Al-Aqsa Dimulai

19 tahun yang lalu, tanggal 28 September 2000, gerakan intifadah Palestina kembali dimulai.

Intafadha Palestina

Sebelumnya, Ariel Sharon masuk ke Masjidul Aqsa dan melecehkan kehormatan masjid itu. Rakyat Palestina marah atas kejadian ini dan memulai kebangkitan mereka. Ariel Sharon adalah pemimpin Partai fanatis Yahudi, yaitu Partai Likud dan dalang pembunuhan massa di Shabra Satila. Kebangkitan rakyat Palestina ini disebut sebagai Intifadhah Masjid al-Aqsa.

Dalam melawan gerakan intifadhah ini, rezim Zionis melakukan represi dan serangan-serangan yang keji. Di antaranya, dengan menyerang rakyat Palestina dengan tank, helikopter, dan pesawat tempur. Namun demikian, rakyat Palestina tetap melanjutkan perjuangan mereka tanpa kenal menyerah.