Lintasan Sejarah 15 Juli 2020
Hari ini, Rabu, 15 Juli 2020 bertepatan dengan 23 Zulkaidah 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 25 Tir 1399 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.
Nabi Memerintahkan Umat Islam Perangi Yahudi Bani Quraidhah
1436 tahun yang lalu, tanggal 23 Dzulqadah 5 HQ, Nabi Muhammad Saw memerintahkan umat Islam perangi Yahudi Bani Quraidhah.
Orang Yahudi dari Bani Quraidhah memiliki perjanjian damai dan pertahanan bersama dengan umat Islam Madinah. Tapi saat terjadi perang Khandaq atau yang dikenal dengan nama Ahzab, karena pihak musuh terdiri dari kelompok-kelompok seperti Yahudi, Musyrik dan kabilah-kabilah Arab lainnya, orang-orang Yahudi Bani Quraidhah bergabung dengan musuh. Sikap mereka bergabung dengan musuh berarti telah melanggar perjanjian yang telah dilakukan dengan umat Islam di Madinah.
Bergabungnya orang-orang Yahudi Madinah dengan sendirinya memperkuat pasukan musuh dan sebaliknya, melemahkan semangat umat Islam. Oleh karenanya, pasca kemenangan umat Islam dalam perang Khandaq ini lewat Imam Ali as, Rasulullah Saw pada 23 Dzulqadah 5 HQ memerintahkan umat Islam segera bersiap-siap menuju daerah Bani Quraidhah.
Daerah tempat tinggal Yahudi Bani Quraidhah dikelilingi oleh benteng yang kokoh dan mampu bertahan dari blokade umat Islam selama 15 hari (menurut riwayat lain 25 hari). Akhirnya, Yahudi Bani Quraidhah menyerah setelah melihat tidak ada jalan lain. Mereka rela diperlakukan seperti apapun, tapi dengan syarat Saad bin Mu'adz, seorang sahabat Nabi yang memutuskan. Permintaan mereka itu dipenuhi oleh Nabi Muhammad Saw.
Saad bin Mu'adz ternyata memutuskan agar mereka dijatuhi hukuman yang berat bagi mereka. Setiap pria yang berperang harus dibunuh yang kemudian diterima oleh Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, fitnah dan pengkhianatan yang dilakukan Yahudi Bani Quraidhah tercerabut dari akarnya.
Doktor Mosaddegh Mengundurkan Diri dari PM
68 tahun yang lalu, tanggal 25 Tir 1331 HS, Doktor Mosaddegh mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri Iran.
Peristiwa pengunduran Doktor Mosaddegh diawali dari hari itu juga ketika ia mengadakan pertemuan dengan Shah dan menyerahkan daftar kabinetnya kepada Mohammad Reza Pahlevi. Dalam pertemuan ini, Mosaddegh meminta kepada Shah agar posisi kementerian pertahanan dipilih olehnya. Ia beralasan bahwa tentara tidak mendengar ucapannya dan banyak melakukan aksi-aksi merusak. Dengan kondisi yang seperti ini, pemerintah tidak dapat melanjutkan aktivitasnya.
Ternyata Shah tidak setuju untuk menyerahkan kementerian pertahanan kepada Mosaddegh. Keputusan ini sangat menyakitkan bagi Mosaddegh dan ia kembali ke rumahnya. Tanpa melakukan musyawarah dengan seorangpun, Mosaddegh mengirimkan surat pengunduran dirinya kepada Shah. Shah menerima pengunduran dirinya dan mengangkat Qiwam Saltanah sebagai Perdana Menteri. Di awal pengangkatannya, Qiwam Saltanah mengeluarkan pengumuman bahwa pemerintah akan bersikap tegas terhadap para oposan.
Langkah-langkah yang diambil oleh Qiwam Saltanah mendapat dukungan total Shah. Hal ini membuat rakyat dan ulama tidak puas dan melakukan aksi protes. Perlahan-lahan situasi ini menarik rakyat untuk hadir lebih luas, hingga terjadi kebangkitan bersejarah 30 Tir 1331 dan kembalinya Mosaddegh ke tampuk kekuasaan.
Jean Bertrand Aristide Lahir
67 tahun yang lalu, tanggal 15 Juli tahun 1953, Jean-Bertrand Aristide, mantan Presiden Haiti, terlahir ke dunia.
Aristide menuntut ilmu di bidang psikologi dan kemudian belajar teologi di Roma dan Israel. Pada tahun 1983, Aristide kembali ke Haiti sebagai pendeta Katolik yang aktif menentang rezim Duvalier yang berkuasa di Haiti saat itu.
Pada tahun 1990, Aristide terpilih sebagai Presiden Haiti dengan suara mayoritas dalam pemilu. Namun setahun kemudian, dia dikudeta oleh militer dan terpaksa mengungsi ke AS. Pada tahun 1994, atas bantuan AS, Aristide berhasil merebut kembali kekuasaannya.
Namun, akhirnya di tahun 2004, AS pulalah yang mendukung gerakan pemberontakan rakyat Haiti melawan Aristide. Akibatnya, pada tanggal 29 Februari 2004, Aristide terpaksa mengungsi ke Republik Afrika Tengah ketika pemberontakan dan kekacauan politik di negaranya tak terbendung lagi.
Meskipun telah merdeka dari Perancis selama 200 tahun, namun Haiti tidak pernah luput dari pertikaian politik dalam negeri yang terkadang diwarnai dengan pertikaian berdarah. Negara dengan penduduk 8,3 juta orang itu dikategorikan sebagai negara miskin karena pendapatan perkapita rakyatnya sekitar 100 dolar AS/tahun. Tingkat penganggguran mencapai 70 persen dan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan sekitar 80 persen.