Bulan Perjamuan Tuhan (1)
Harumnya jamuan makan selalu membuat kita senang dan hanya sedikit orang tahu apa sebab di baliknya, tapi kita tahu perjamuan adalah hal yang baik karena kita bisa saling bertemu dan bersilaturahmi.
Menghadiri undangan akan selalu menyenangkan apabila tuan rumah yang kita datangi baik dan bersahabat. Saat ini kita kembali diberi kesempatan menghadiri jamuan yang paling menyenangkan dan membahagiakan karena tuan rumahnya Maha Pengasih dan Penyayang yaitu Allah Swt. Maha Pencipta yang Esa yang nama-Nya menenangkan jiwa-jiwa.
Sekali lagi pintu-pintu langit dibukakan untuk orang Mukmin sehingga mereka bisa memasuki benteng aman Ilahi dan terbebas dari segala hiruk pikuk keseharian, dan tenggelam dalam makrifat Tuhan dan dirinya. Dewasa ini, peluang untuk merenungkan diri telah dirampas dari setiap orang oleh dunia yang serba modern.
Dunia semacam ini telah mengubah manusia menjadi makhluk materialistis dan teralienasi dari dirinya sendiri, akan tetapi bulan suci Ramadhan adalah bulan menyelamatkan manusia dari kegaduhan dunia materi hari ini dan mengajak untuk merenungi kedalaman lubuk hatinya.
Sebuah tempat yang memungkinkan manusia untuk berbicara dengan dirinya sendiri dan memikirkan kehidupan yang lebih baik. Merenungkan Sang Pencipta dan meminta hanya kepada-Nya. Ramadhan, sebagaimana dijelaskan oleh Al Quran dan Rasulullah Saw, adalah bulan yang paling mulia dan paling baik.
Sedemikian mulianya Ramadhan sehingga ia disebut sebagai Shahrullah atau bulan Allah. Tentunya seluruh bulan adalah milik Allah Swt, namun hanya Ramadhan yang disebut bulan Allah, dan semua malam adalah milik Allah, namun hanya satu malam yang disebut malam Qadr.
Laitatul Qadr hanya terdapat di bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan perjamuan yang tuan rumahnya adalah Pencipta Semesta sendiri dan semua orang diundang menjadi tamunya.
Tidak seperti haji yang hanya diwajibkan bagi orang-orang yang mampu, tidak seperti khumus dan zakat yang diwajibkan atas penghasilan lebih dari beberapa jenis barang tertentu dan tidak seperti shalat yang diwajibkan bagi setiap Muslim lima waktu sehari semalam.
Mungkin sebagian orang bertanya, perjamuan seperti apa yang tamunya tidak diperkenankan makan dan minum. Harus dikatakan bahwa Allah Swt tidak mengundang kita pada perjamuan jasmani, karena tubuh fisik sebagaimana wujud lainnya, selalu dijamu oleh Tuhan dan mendapat rezeki dari-Nya.
Dalam perjamuan Ramadhan, jiwa-jiwa manusia yang dilayani dan tubuh beristirahat serta mencapai puncak kesehatannya. Adab dan program spiritual sepanjang bulan Ramadhan adalah untuk mengatur dan menyeimbangkan dorongan materi manusia, sehingga ia mampu menumbuhkan substansi asli wujudnya.
Pada kenyataannya, tujuan utama bulan suci Ramadhan adalah ruh dan jiwa manusia. Di bulan ini, berpuasa, munajat dan membaca Al Quran, berderma dan berbuat baik, membantu sesama dan amal-amal terpuji lainnya, bisa mensucikan jiwa manusia dan membuka peluang penyempurnaan spiritualitasnya.
Perjamuan ini nilai agungnya tidak dipahami siapapun kecuali oleh Allah Swt. Penyebutan Ramadhan sebagai bulan perjamuan, disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw yang memahami secara sempurna tentang hakikat semesta.
Beliau di awal khutbah Sya'baniahnya berkata, Huwa Shahrun Duiitum fihi ilaa Dziafatillah, bulan yang di dalamnya kalian diundang untuk menikmati jamuan Ilahi. Oleh karena itu, kita harus mencermati penyebutan ini dengan baik dan memanfaatkannya untuk lebih memahami Ramadhan.
Nabi Muhammad Saw di akhir bulan Sya'ban menyampaikan khutbah dan mengabarkan datangnya bulan Ramadhan kepada Muslimin. Di dalam khutbah ini, Rasulullah Saw berkata, wahai kaumku, bulan Tuhan dengan keberkahan, rahmat dan pengampunan mendatangani kalian.
Beliau melanjutkan, bulan terbaik di sisi Tuhan yang di dalamnya kalian diundang untuk menikmati jamuan-Nya dan kalian terhitung orang-orang mendapat kemuliaan. Nafas kalian dihitung sebagai dzikir dan tidur kalian, ibadah, dan amal perbuatan kalian di bulan ini diterima dan doa-doa kalian diijabah.
Oleh karena itu, mohonlah kepada Tuhan dengan niat yang benar dan hati yang bersih karena di bulan ini, kalian diberi kesempatan untuk berpuasa dan membaca kitab suci-Nya.
Umatku, sesungguhnya di bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, maka dari itu mohonlah kepada Tuhan agar pintu-pintu itu tidak ditutup dan pintu-pintu neraka ditutup, mohonlah kepada Tuhan agar pintu-pintu neraka tidak dibuka. Di bulan ini, setan dibelenggu, maka mohonlah kepada Tuhan agar kalian dikuatkan dalam menghadapinya.
Seperti disampaikan Nabi Muhammad Saw, di bulan ini amal manusia sekecil apapun akan diperhatikan dan mendapat pahala, dan Allah Swt akan menganugerahkan nikmat terbaik bahkan atas ibadah meski sangat kecil.
Taubat manusia, sekecil apapun itu akan menghapus dosa yang besar dan di bulan ini kesempatan beribadah, penghambaan kepada Allah Swt dan pencapaian kesempurnaan hakiki serta kebahagiaan abadi, terbuka selebar mungkin. Artinya, terbuka peluang terbaik bagi setiap orang untuk menghadiri perjamuan agung spiritual Ilahi di bulan Ramadhan.
Jika seseorang yang berpuasa, jujur dan memenuhi seluruh syaratnya, maka dapat dipastikan ia sedang melangkah menuju perjamuan Tuhan dan dengan bantuan-Nya ia meraih puncak kesempurnaan dan kedudukan spiritual tertinggi.
Dalam sebuah hadis disebutkan, suatu hari Nabi Musa as berkata, Tuhanku sungguh berbahagia diriku karena bisa begitu dekat dan berbicara tanpa perantara dengan-Mu. Apakah ada yang merasakan kebahagiaan sepertiku? Allah Swt berfirman, saat ini engkau berbicara dengan-Ku lewat 70 ribu tirai hati, namun kelak di akhir zaman, ada orang-orang yang berpuasa di hari-hari yang panjang dan sulit untuk mendapatkan ridha-Ku dan ketika tiba waktu berbuka, mereka begitu dekat dengan-Ku tanpa perantara 70 ribu tirai hati itu.
Allah Swt mengundang umat manusia ke perjamuannya, Dia menjauhkan mereka dari kehidupan materi dan menempatkan mereka di sisi-Nya. Para pemuka agama menganjurkan agar kita menjadi tamu yang baik di bulan Ramadhan.
Kita harus menghormati perjamuan Tuhan ini dengan menghindari dosa. Kita harus memahami puasa yang hakiki sehingga sampai pada derajat takwa yang sebenarnya sebagaimana difirmankan Tuhan dalam Surat Al Baqarah ayat 183,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa"
Begitu indah dan menawan serta menakjubkannya bulan Ramadhan. Sesungguhnya bulan suci Ramadhan bagi orang-orang yang mengenal kedalaman lubuk hati, memiliki ribuan makna yang lebih tipis dari rambut.
Sebuah bulan yang membakar seluruh kegundahan jiwa manusia dan mengepakkan sayap-sayap maknawinya yang patah. Ramadhan mendatangi kita layaknya hujan rahmat.
Selamat datang wahai Ramadhan, bulan pengampunan dan berkah Ilahi, bulan perjamuan Tuhan. Selamat datang waktu sahur dan berbuka, saat diijabahnya seluruh doa.
Selamat datang malam-malam Qadr dan rintihan permohohan ampun setiap hamba, dan selamat datang Idul Fitri, saat-saat dikabulkannya doa, puasa dan munajat tulus hamba-hamba Ilahi.