Manifestasi Al-Quran dalam Kebangkitan Imam Husein (6)
Setiap hari di Karbala terdengar suara azan dari dua sisi. Dua kelompok sama-sama menghadap kiblat dan menunaikan shalat. Menariknya, pasukan Umar bin Saad, dalam shalat mereka, menyampaikan salam sejahteran kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarganya tanpa berpikir bahwa putra Rasulullah Saw berada di kelompok yang mereka anggap lawan. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang memerangi pemimpin kebenaran.
Ketiadaan makrifat telah membuat Umar bin Saad mengerahkan 30 ribu pasukan yang setiap hari mandi dengan air sungai Furat, untuk menyembelih Imam Husein as dan para sahabatnya, dengan tujuan pendekatan diri kepada Allah Swt dan mendapatkan sorga dan keridhoan-Nya.
Pada kelompok lain, terdapat para sahabat Imam Husein as dengan makrifat yang sangat tinggi dan tidak akan tergoyahkan. Mereka mengetahui dengan baik dari mana mereka datang, mengapa mereka berada ke tempat itu, dan siapa yang mereka iringi dan jaga. Mereka mengenal dengan baik siapa pemimpin dan musuh mereka.
Ketika Imam Husein as dalam perjalanan hingga ke Karbala melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, semangat perjuangan dan cinta semakin berkobar. Seseorang bernama Bishr bin Ghalib Asadi, berpapasan dengan Imam Husein as dan menyatakan bahwa kondisi Kufah sedang bergejolak. Imam Husein as membenarkan ucapannya.
Setelah itu, Bishr bin Ghalib Asadi menanyakan tafsir ayat 71 surat Al-Usara' yang artinya; (Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.
Imam Husein as menjawabnya dengan menyinggung dua ayat Al-Quran tentang dua kelompok yang saling bertentangan dan juga jenis kepemimpinan di mana masing-masing kelompok bersandar pada satu pemimpin dan mengambil aspirasi dari opininya.
Dalam kehidupan, selalu ada kelompok dan pemimpin seperti itu. Para pemimpin tersebut harus dikenal dan seluruh program dan rencananya harus ditelaah, serta pemimpin yang menyeru manusia pada kebahagiaan yang harus diikuti.
Imam Husein as berkata, "Pemimpin itu terbagi dalam dua kelompok. Imam dan pemimpin yang menyeru masyakarat menuju jalan kebenaran, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta ada sekelompok masyarakat yang memenuhi seruannya dan mengikutinya. Pemimpin lainnya adalah yang menyeru masyarakat menuju penyimpangan dan kesengsaraan. Sekelompok masyarakat juga memenuhi seruannya. Kelompok pertama menuju sorga dan kelompok kedua menuju neraka."
Kemudian Imam Husein as menjelaskan makna lain bagian dari ayat:
فَرِیقٌ فِی الْجَنَّةِ وَفَریقٌ فِی السَّعیرِ
Gubernur Kufah, Ibnu Ziyad, mengirim surat resmi melalui wakilnya Hur yang bersama sebuah pasukan besar memblokir jalan Imam Husein as. Ketika Hur bertemu dengan rombongan Imam Husein, ketika itu tengah hari dan pasukan Hur terlihat kelelahan dan kehausan. Imam yang penuh kasih sayang itu memerintahkan sahabatnya untuk memberi air kepada pasukan Hur dan kuda-kuda mereka.
Hur menyerahkan surat kepada Imam Husein as. Imam Husein as membacakan surat Qisas ayat 41 dan mengumpamakan Yazid seperti Firaun yaitu pemimpin yang akan mengantarkan pada kesesatan dan api neraka.
وَ جَعَلْناهُمْ أَئِمَّةً یَدْعُونَ إِلَى النّارِ وَ یَوْمَ الْقِیامَةِ لایُنْصَرُونَ
Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.
Ditengah keberingasan dan kekerasan oleh pasukan Yazid, Sukainah, putri Imam Husein as bersedih dan menangis. Imam Husein as memeluknya dan membacakan ayat yang menjelaskan tentang kekerasan hati dan penyimpangan mereka dan berkata;
اسْتَحْوَذَ عَلَیْهِمُ الشَّیْطانُ فَأَنْساهُمْ ذِکْرَ اللّهِ أُولئِکَ حِزْبُ الشَّیْطانِ أَلا إِنَّ حِزْبَ الشَّیْطانِ هُمُ الْخاسِرُونَ
"Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi."
Gerakan penyadaran Imam Husein as dan gerakan besar Asyura, telah menyingkap seluruh kebenaran dan menjelaskan perbedaan antara kebenaran dan kebatilan.