Melawan Trump dengan Buku
https://parstoday.ir/id/radio/world-i66024-melawan_trump_dengan_buku
Naiknya Donald Trump sebagai presiden AS hingga kini masih menjadi fenomena luar biasa, bahkan di negaranya sendiri. Sebagian warga AS seakan masih tidak percaya dipimpin oleh figur seperti Trump yang sulit diprediksi langkah-langkah politiknya, juga cuitan bombastisnya di Twitter. Bahkan politisi papan atas AS seperti Bernie Sanders, senator dari negara bagian Vermont, menyebut Trump memproduksi kebohongan masif.
(last modified 2026-03-03T12:22:08+00:00 )
Des 31, 2018 18:31 Asia/Jakarta
  • Buku terlaris \\\
    Buku terlaris \\\"Fire and Fury: Inside the Trump White House\\\"

Naiknya Donald Trump sebagai presiden AS hingga kini masih menjadi fenomena luar biasa, bahkan di negaranya sendiri. Sebagian warga AS seakan masih tidak percaya dipimpin oleh figur seperti Trump yang sulit diprediksi langkah-langkah politiknya, juga cuitan bombastisnya di Twitter. Bahkan politisi papan atas AS seperti Bernie Sanders, senator dari negara bagian Vermont, menyebut Trump memproduksi kebohongan masif.

Masalah ini menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai kalangan dengan motif yang beraneka-ragam. Ketika sebagian orang menggunakan aksi protes di jalan sebagai pilihannya, sebagian lain melakukan perlawanan dengan buku. Ada gelombang besar yang sedang mengalir deras; protes terhadap Trump!

Selama sekitar dua tahun berkuasa, berbagai buku terbit mengenai kehidupan Trump. Sebelumnya buku-buku tentang para pemimpin AS, dari Obama, Bush hingga Hillary Clinton meramaikan pasar buku di negara ini. Tapi yang menarik dari Trump dan pemerintahannya mengenai sambutan masyarakat AS terhadap buku-buku tersebut. Selama sembilan bulan di tahun 2018, penjualan tiga buku tentang Trump melampaui lima juta eksemplar.

Artikel ini akan menyoroti secara umum tiga buku tentang Trump yaitu: Fire and Fury: Inside the Trump White House karya Michael Wolff yang terbit awal tahun 2018, A Higher Loyalty: Truth, Lies, and Leadership yang ditulis James Comey; dan Fear: Trump in the White House garapan Bob Woodward.

Fire and Fury: Inside the Trump White House adalah buku yang terbit awal tahun 2018 hasil karya Michael Wolff. Menurut Wolff, bukunya merinci perilaku Presiden AS Donald Trump dan staf kampanye presiden 2016 serta pejabat Gedung Putih.

Judul buku mengacu pada kutipan oleh Trump tentang konflik dengan Korea Utara. Buku itu menjadi buku terlaris nomor satu menurut versi New York Times. Para kritikus buku pada umumnya menerima gambaran Wolff tentang administrasi Trump yang disfungsional, tetapi skeptis terhadap banyak klaim yang disodorkannya.

Buku ini menyoroti deskripsi perilaku Trump, interaksi kacau di antara staf senior Gedung Putih, dan komentar tendensius tentang keluarga Trump oleh mantan Kepala Strategi Gedung Putih Steve Bannon. Trump digambarkan kurang dihargai oleh para stafnya di Gedung Putih, Wolff menyatakan bahwa "100% orang di sekitarnya" percaya Trump tidak layak untuk menjabat sebagai presiden AS.

Mick Brown dalam resensi terhadap buku Wolff yang dimuat The Telegraph menggambarkan buku itu sebagai karya yang "terlalu panas, sensasional - dan sepenuhnya benar pada subjeknya." David Sexton dari London Evening Standard mengatakan buku itu adalah paparan politik yang layak dibaca dan "ditakdirkan untuk menjadi akun utama dari sembilan bulan pertama kepresidenan Trump".

Menurut Michael Wolff, ia sudah memberitahu Trump akan menulis buku tentang masa kepresidenannya, dan Trump setuju untuk memberinya akses ke Gedung Putih karena dia menyukai artikel yang ditulis Wolff tentangnya pada Juni 2016 untuk The Hollywood Reporter. Namun, Trump kemudian mengklaim bahwa ia tidak pernah mengizinkan akses untuk Wolff dan tidak pernah berbicara dengannya untuk buku tersebut.

Trump menilai buku tersebut dipenuhi berbagai kesalahan dan kebohongan. Dengan sangat kesal, Trump menyebut buku ini menggunakan sumber fiktif. Tapi Wolff membelanya dengan menegaskan bahwa dirinya memiliki rekaman dan data lapangan yang masih disimpan sebagai sumber acuan buku ini dari orang-orang dekat Trump sendiri dan pemerintahannya.

Berbagai masalah seperti isu perempuan yang disoroti Wolff berpijak dari pidato Trump sendiri yang cenderung meremehkan perempuan.

Michael Wolff dalam sebuah wawancara mengatakan, "Suatu hari saya pernah menengadah ke langit untuk menyampaikan syukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada Trump. Ya, bagaimanapun saya harus berterima kasih kepada presiden AS yang kehadirannya telah menyebabkan saya meraih 13 miliar dolar di tahun 2018, dan untuk pertama kalinya masuk jajaran 10 penulis tertinggi pendapatannya,".

Buku lain tentang Trump ditulis James Comey yang berjudul "A Higher Loyalty: Truth, Lies, and Leadership". Buku yang diterbitkan oleh Macmillan Publishers 'Flatiron Books pada 17 April 2018 ini ditulis oleh mantan Direktur Biro Penyelidikan Federal (FBI). Comey dalam bukunya membahas etika dan kepemimpinan dirinya, kariernya di kantor publik, dan hubungannya dengan Presiden Donald Trump, yang memecatnya pada Mei 2017.

Penulis buku berupaya menyodorkan fakta mengenai kondisi kepemimpinan politik di AS yang jauh dari etika, dan Trump lahir dari sistem politik tersebut. Sebagian ini buku menyinggung berbagai masalah seperti pemilu presiden, email Hillary Clinton dan intervensi Rusia dalam pilpres AS. Selain itu, Comey juga mengulas masalah skandal seksual Trump. Tampaknya, buku Comey menunjukkan bahwa Trump adalah produk struktur politik AS.

"Presiden AS tidak berkomitmen terhadap masalah moralitas, kebenaran, dan nilai yang dijunjung tinggi dalam pemerintahan. Kepemimpinannya hasil transaksi dan egoisme," tulis Comey.

Sebelum buku ini terbit, Trump sudah mempertanyakan isinya. Friksi antara Trump dan Comey dimulai dari investigasi kepolisian federal mengenai intervensi Rusia dalam pemilu presiden AS tahun 2016.

Buku ketiga mengenai Trump yang menjadi bestseller di tahun 2018 adalah karya Bob Woodward berjudul "Fear: Trump in the White House". Buku ini sebagian besar berisi laporan mengenai pengalamannya sebagai jurnalis investigatif yang menjalankan aktivitasnya di Gedung Putih.

Buku yang dirilis pada 11 September 2018 ini bertumpu pada ratusan jam wawancara Woodward dengan pejabat pemerintahan Trump. Penerbit buku Simon & Schuster mengumumkan buku ini terjual 1,1 juta kopi (di semua format) pada minggu pertama peluncurannya, dan menjadikannya sebagai penjualan tercepat dalam sejarah perusahaan penerbitan tersebut.

Woodward menyebut Trump sebagai manajer yang buruk. Dengan baik jurnalis investigatif AS ini merekam sikap orang-orang dekat Trump terhadap presiden AS. Misalnya, Menteri Pertahanan AS, James Mattis menilai sikap Trump dalam masalah semenanjung Korea terlihat kekanak-kanakan. Kepala Staf Gedung Putih, John Kelly menyebut Trump bodoh dan sia-sia untuk meyakinkannya dalam sebuah masalah.

Koran the Guardian dalam laporannya menulis, seorang tak dikenal memberikan beberapa buku perlawanan seperti buku "1984" yang ditulis George Orwell, maupun "In the Garden of Beasts" karya Erik Larson ditambah dengan coretan, "Bacalah, Lawan!". Buku tersebut disebar kepada masyarakat.

Sejak naiknya Trump sebagai presiden AS, gerakan perlawanan dengan buku semakin kuat yang ditandai dengan penjualan tinggi buku-buku kritik terhadap pemerintahan AS.

Salah satu sebab menguatnya penjualan buku "1984" dan perhatian kalangan seniman teater terhadap buku ini adalah pidato penasehat media Trump, Kellyanne Conway yang menyinggung buku tersebut. Conway dalam sebuah wawancara menyebut buku Orwell sebagai "Realitas Pengganti" dan "Pemikiran Dualistik".

Rekaman pidatonya tersebar luas di media sosial. Buku ini juga menginspirasi kelompok teater di AS yang menampilkannya dalam sajian seni teater yang mendapat sambutan hangat dari penontonnya.

Bagi masyarakat AS sendiri, Trump adalah fenomena, yang sebagian menilainya sebagai fenomena yang harus dilawan. Mereka melakukannya dengan banyak cara, termasuk dengan buku.(PH)