Hari Aids Sedunia 2019 dan Kesadaran Global
-
Hari AIDS Sedunia 2019
Pada tahun 1988, PBB menetapkan tanggal satu Desember sebagai "Hari Aids Sedunia". Sejak itu hari aids sedunia diperingati setiap tahun dengan mengusung tema yang berbeda-beda.
Tahun ini mengusung slogan "Communities Make the Difference”. Tema ini dipilih karena komunitas dipandang bisa memberikan kontribusi yang sangat besar bagi penanggulangan penyebaran AIDS.
Prakarsa penetapan hari aids sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss. Selanjutnya, setiap tanggal satu Desember diperingati sebagai hari aids sedunia untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.
Kasus aids pertama kali dilaporkan oleh Gottleib dan sejawatnya di Los Angeles pada tanggal 5 Juni 1981. Ketika itu Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya kasus ini pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.
Beberapa tahun kemudian, CDC Amerika serikat yang mengamati kasus HIV dan aids melihat peningkatan kasus infeksi yang tidak lazim berupa Infeksi yang merusak sistem kekebalan tubuh. Semula para dokter tidak mengetahui penyebab rusaknya kekebalan tersebut. Sebelum infeksi ini hanya dilaporkan terjadi pada orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya rusak oleh kanker atau oleh obat-obat penekan sistem kekebalan tubuh, misalnya: mereka yang menjalani pencangkokan organ tubuh. Kondisi ini kemudian disebut dengan aids.
Sementara itu HIV ditemukan oleh Luc Montagnier dkk dari institut Pasteur Perancis. Mereka berhasil mengisolasi virus penyebab aids. Kemudian pada Juli 1994, DR Robert Gallo dari lembaga kanker Nasional menyatakan bahwa dia menemukan virus baru dari penderita aids yang diberi nama HTLV – III. Virus itu terus berkembang dengan nama HIV.

UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa aids telah membunuh lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui tahun 1981. Pada tahun 2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang terinfeksi, dan antara 2,4 dan 3,3 juta orang dengan aids meninggal dunia, peningkatan dari 2003 dan jumlah terbesar sejak tahun 1981. Jumlahnya kini meningkat beberapa kali lipat melampaui 37 juta orang.
Afrika Sub-Sahara menjadi kawasan terburuk yang terinfeksi, dengan perkiraan 21,6 sampai 27,4 juta orang kini hidup dengan HIV. Dua juta orang dari mereka adalah anak-anak yang usianya lebih rendah dari 15 tahun.
Sebanyak Lebih dari 64 persen dari semua orang yang hidup dengan HIV ada di Afrika Sub Sahara, lebih dari tiga per empat atau 76 persen dari semua wanita hidup dengan HIV. Pada tahun 2005, terdapat 12 juta anak yatim atau piatu yang menderita aids hidup di Afrika Sub Sahara.
Asia Selatan dan Asia Tenggara menjadi kawasan terburuk kedua yang terinfeksi dengan besaran 15 persen. Sebanyak 500.000 anak-anak mati di wilayah ini karena aids. Dua pertiga kasus infeksi HIV di Asia muncul di India, dengan perkiraan 5,7 juta terinfeksi, melewati perkiraan di Afrika Selatan yang sebesar 5,5 juta yang membuat negara ini terbesar jumlah pengidap infeksi HIV di dunia.
Masalah lain yang paling mempengaruhi penyebaran aids adalah ketidakperdulian penderita terhadap penyakit tersebut. Saat ini lebih dari 37 juta orang di dunia terjangkiti penyakit aids. Tapi 40 persen dari mereka tidak menyadarinya. Kebanyakan dari mereka baru menyadari terjangkiti penyakit ini setelah muncul tanda-tanda di tubuhnya yang diserang virus HIV.

Para ilmuwan telah lama meneliti obat untuk AIDS yang membuahkan berbagai hasil. Salah satu yang menjadi perhatian saat ini adalah hasil kerja para peneliti di San Diego School of Medicine yang menggunakan rekayasa genetika untuk membantu memberantas virus AIDS dalam tubuh manusia. Terobosan yang mereka lakukan sangat penting di bidang obat antiretroviral.
Obat-obatan antiretroviral yang ada selama ini menghambat virus AIDS menyebar ke tubuh manusia. hal Ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh memperbaiki dirinya sendiri terhadap kerusakan lebih lanjut. Namun, obat-obatan ini hanya melindungi tubuh selama pasien mengkonsumsinya.
Mengandalkan obat-obatan berarti virus AIDS dapat kembali lagi. Lebih buruk lagi, tubuh pasien mungkin menjadi kebal terhadap obat-obatan tersebut, sehingga tidak ada jaminan bahwa mereka akan bekerja di masa depan.
Namun, penelitian yang dilakukan para peneliti universitas San Diego menunjukkan bahwa metode ini dapat mencegah munculnya kembali AIDS, bahkan setelah penghentian obat antiretroviral. Menurut para peneliti, ini adalah pengobatan yang potensial, tetapi kami masih harus menunggu hasil uji coba untuk hewan.
Epidemi AIDS di tingkat global juga memiliki dampak yang menghancurkan karena skala dan konsekuensinya, yang menjadikan peran aksi global dan regional sangat penting.
AIDS melemahkan pertumbuhan sosial-ekonomi di seluruh dunia dan mempengaruhi semua tingkatan komunitas nasional dari level sosial, keluarga, dan individu. Oleh karena itu diperlakukan langkah komprehensif mulai dari kesadaran, pencegahan dan kemudahan akses terhadap pengobatan hingga kemajuan ilmu pengetahuan baru, yang membantu mencegah perkembangan penyakit dan memberi harapan pada pemberantasan penyakit ini di seluruh penjuru dunia. (PH)