Hizbullah: Badai Al-Aqsa Hidupkan Cita-Cita Palestina di Dunia Internasional
-
Hizbullah
Pars Today – Hizbullah Lebanon dalam sebuah pernyataan menekankan, pertempuran Badai Al-Aqsa adalah kejutan strategis besar yang menghidupkan kembali cita-cita Palestina di panggung internasional setelah upaya-upaya untuk menghapusnya.
Menurut laporan hari Rabu (7/10) IRNA yang dikutip dari Al-Mayadeen, Hizbullah Lebanon dalam sebuah pernyataan pada peringatan ketiga pertempuran "Badai Al-Aqsa" menekankan bahwa pertempuran ini memberikan kejutan strategis besar dan menghidupkan kembali cita-cita Palestina di panggung internasional setelah upaya-upaya untuk menghapusnya.
Dalam pernyataan ini disebutkan: Pertempuran ini juga menciptakan garis pertahanan alami dan sah terhadap ancaman-ancaman untuk memusnahkan rakyat Palestina dan menghancurkan hak-hak historis mereka.
Hizbullah menekankan: Pertempuran ini, mengganggu proses-proses yang gagal dan kompromis yang didorong kawasan di bawah tekanan Zionis dan Amerika. Meskipun tiga tahun kebiadaban dan genosida terhadap warga sipil di Jalur Gaza, satu-satunya pencapaian penjajah adalah keputusasaan dan mereka tidak mampu mengakhiri pertempuran atau menentukan masa depan politik dan hukum Jalur Gaza.
Perlawanan Lebanon menyatakan: Meskipun ada dukungan diplomatik dan militer Amerika dan Barat terhadap proyek Zionis, musuh tidak mampu menghancurkan gerakan Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan atau mematahkan kehendak rakyat Gaza. Musuh juga tidak mampu memanfaatkan keberhasilan taktisnya untuk mencapai posisi strategis yang aman. Kawasan sekarang menerima perubahan strategis yang lebih mendalam yang meluas melampaui Jalur Gaza dan melemahkan klaim-klaim perdamaian dan keamanan internasional.
Dalam pernyataan ini juga disebutkan: Badai Al-Aqsa mengungkapkan keagungan bangsa Palestina dan ketahanan legendaris mereka, sementara pada saat yang sama mengungkap wajah sebenarnya rezim Zionis dan pemerintah Amerika serta mengungkap ketidakberdayaan dan keterlibatan sistem internasional dan lembaga-lembaganya yang mengklaim membela hak asasi manusia dan keadilan.
Di bagian lain pernyataan ini disebutkan: Hizbullah sekali lagi menekankan komitmennya untuk mendukung dan membela bangsa Palestina dan perlawanan mereka yang teraniaya dan menganggap pemerintah Amerika dan negara-negara Barat yang mengikutinya bertanggung jawab langsung atas kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Hizbullah Lebanon meminta rakyat dan bangsa-bangsa merdeka di dunia untuk bangkit dan membela hak asasi manusia serta hukum internasional melawan para penguasa dominasi.
Di akhir pernyataan ini diminta semua kelompok perlawanan di Gaza dan Tepi Barat untuk berpegang pada pandangan nasional yang bersatu dan menggagalkan tujuan-tujuan para agresor dan juga memperingatkan para penguasa negara-negara di kawasan bahwa kebijakan pembiaran dan kompromi dengan rezim Zionis dan sekutu-sekutunya hanya akan melemahkan otoritas mereka dan memberdayakan penjajah untuk mengendalikan negara dan bangsa mereka di masa depan.
Menurut laporan IRNA, Gaza sejak tiga tahun lalu di bawah bayang-bayang keheningan dan ketidakpedulian beberapa negara dan pada saat yang sama dukungan negara-negara seperti Amerika terhadap para penjahat, telah menyaksikan kejahatan-kejahatan yang tak terhitung; wilayah ini hari-hari ini menghadapi krisis yang dimensinya tidak dapat dijelaskan hanya dengan menghitung jumlah syuhada dan korban luka. Hampir tiga tahun kejahatan terhadap rakyat tak berdaya wilayah ini, telah menghadapkan jalur ini pada saat yang sama dengan krisis kemanusiaan, keruntuhan infrastruktur, dan masalah besar untuk rekonstruksi.
Statistik terakhir Kementerian Kesehatan Gaza pada 5 Oktober 2026, mengumumkan jumlah syuhada sebanyak 74 ribu 243 orang dan korban luka 175 ribu 232 orang.
Sejak berlakunya gencatan senjata Oktober 2025 juga setidaknya seribu 460 warga Palestina gugur sebagai syahid dan lebih dari lima ribu 116 orang terluka; artinya gencatan senjata bukan berarti berakhirnya kejahatan-kejahatan. Di antara statistik keseluruhan, anak-anak, perempuan, dan lansia memiliki bagian yang besar.
Dalam data terakhir yang terperinci dari badan statistik Palestina pada 18 Juli 2026, 18 ribu 592 anak, 12 ribu 400 perempuan, dan 4 ribu 412 lansia tercatat dalam jumlah syuhada Gaza.
Data yang sama melaporkan tentang kesyahidan seribu 411 personel medis, 252 jurnalis, 800 personel pendidikan, 203 staf PBB, dan 113 personel pertahanan sipil. Sekitar 11 ribu 200 orang juga hilang dan hampir 4 ribu 700 dari yang hilang adalah perempuan dan anak-anak. (MF)