IMF Peringatkan Perang Panjang dan Gangguan Pasar Energi
-
IMF
Pars Today – Pejabat senior Dana Moneter Internasional (IMF) hari ini Kamis (15/10) tanpa merujuk pada agresi Amerika terhadap Iran sebagai penyebab timbulnya ketegangan di kawasan, memperingatkan: Perang-perang panjang di Asia Barat dan gangguan lebih lanjut dalam produksi energi, jalur pelayaran, dan infrastruktur vital, akan menciptakan bahaya terbesar bagi ekonomi Asia Barat dan Asia Tengah.
Menurut laporan IRNA, kantor berita Reuters menulis: Jihad Azour, Direktur Asia Barat dan Asia Tengah Dana Moneter Internasional kepada para wartawan mengatakan: Perang telah menimpakan guncangan ekonomi yang sangat tidak merata pada negara-negara kawasan pada tingkat yang lebih luas yang secara langsung merugikan negara-negara yang berada di bawah tekanan berat.
Azour dalam konferensi pers di sela-sela pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia di Bangkok mengatakan: Masa depan sangat bergantung pada seberapa cepat produksi energi dan normalisasi perdagangan akan berjalan dan sejauh mana negara-negara akan mampu mempertahankan stabilitas ekonomi makro.
Reuters mengklaim: Kelebihan produksi sebelum perang, jalur-jalur alternatif, penyesuaian permintaan membantu menahan dampak guncangan energi akibat serangan gabungan Amerika dan (rezim) Israel terhadap Iran dan tindakan lanjutan Teheran menutup Selat Hormuz.
Ia mengatakan: Perisai-perisai ini membeli waktu, tetapi terbatas. Persediaan telah berkurang, kapasitas berlebih menjadi lebih terbatas dan timbulnya gangguan-gangguan baru dapat menyebabkan perubahan yang jauh lebih besar pada harga.
Reuters mengutip Azour menulis: Proyeksi global menunjukkan kontraksi ekonomi yang dalam sebesar 1,3 persen di Asia Barat, Afrika Utara, dan Pakistan setelah pertumbuhan 3,3 persen pada tahun 2025.
Azour mengatakan, pertumbuhan ekonomi kawasan ini diperkirakan akan meningkat menjadi 6,6 persen pada tahun 2027.
Menurut tulisan Reuters, negara-negara pengekspor minyak yang terkena dampak langsung perang, akan menghadapi kontraksi ekonomi yang parah pada tahun 2026 dan dengan normalnya produksi energi ekonomi mereka akan kembali bangkit pada tahun 2027 tetapi produksi mereka diperkirakan akan tetap berada pada tingkat sebelum perang.
Kantor berita ini menambahkan: Kawasan Kaukasus dan Asia Tengah relatif berkinerja baik dalam mencegah guncangan ekonomi dan inflasi di negara-negara ini diperkirakan akan menurun. Dengan proyeksi Dana Moneter Internasional, pertumbuhan ekonomi di kawasan ini diperkirakan akan menurun menjadi 5,2 persen pada tahun 2026 dan menjadi 5 persen pada tahun 2027. Pertumbuhan ekonomi kawasan ini pada tahun 2025 adalah 6,2 persen.
Menurut laporan IRNA, pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia di Thailand dari 12 hingga 18 Oktober 2026 (20 hingga 26 Mehr 1405) sedang berlangsung dengan kehadiran pejabat-pejabat ekonomi dan keuangan negara-negara anggota.
Dana Moneter Internasional sebelumnya dalam laporan dua tahunannya dengan merujuk pada penurunan cadangan darurat energi dan peningkatan tekanan pada anggaran pemerintah-pemerintah, memperingatkan bahwa ketahanan global mungkin akan segera diuji.
Lembaga keuangan ini dalam laporan dua tahunannya yang berjudul "Prospek Ekonomi Dunia" mengumumkan bahwa pertumbuhan global dalam 6 bulan terakhir telah bertahan lebih baik dari yang diperkirakan terhadap konflik-konflik di Asia Barat. Berdasarkan pengumuman dana ini, pengalihan jalur pasokan minyak dari Selat Hormuz dan pelepasan cadangan strategis energi, berperan dalam mengendalikan dampak perang Amerika dan Iran terhadap harga minyak.
Tetapi lembaga keuangan global ini pada saat yang sama memperingatkan bahwa cadangan darurat sekarang telah habis dan tingginya tingkat utang serta defisit anggaran banyak negara dapat membatasi kemampuan pemerintah-pemerintah untuk melindungi konsumen dari setiap lonjakan harga di masa depan. (MF)