Nilai Keimanan dan Bermanfaat Bagi Sesama
-
Anak
Berdasarkan hadis Nabi Muhammad Saw, iman dan manfaat bagi sesama merupakan nilai tertinggi. Sebaliknya, syirik dan merugikan orang lain adalah dua perbuatan anti nilai.
قال رسول الله(ص): خصلتان لیس فوقهما من البر شی ء: الایمان بالله، و النفع لعباد الله، و خصلتان لیس فوقهما من الشر شی ء. الشرک بالله، و الضر لعباد الله.
Rasulullah Saw dalam sebuah riwayat bersabda, “Dua kebaikan tak tertandingi adalah iman kepada Allah dan bermanfaat bagi sesama. Dua keburukan tertinggi adalah syirik kepada Allah dan merugikan orang lain.”
Sistem nilai Islam menyebut keimanan dan bermanfaat bagi sesama sebagai nilai tertinggi. Sebaliknya, kesyirikan dan merugikan orang lain merupakan anti nilai dan ditentang keras oleh Islam. Artinya, cara memverifikasi seorang muslim sangat mudah. Bila tidak mampu mengetahui keimanannya, karena iman merupakan masalah batin dan hati setiap orang, maka yang dilakukan adalah dengan melihat lahiriahnya. Di sinilah masalah seberapa jauh orang tersebut bermanfaat bagi sekitarnya.
Pada saat yang sama, manusia yang anti nilai dapat dilihat dari dua hal; kesyirikan dan merugikan orang lain.
ثمان خصالٍ مَن عَمِلَ بِها مِن اَمّتی حَشَرهُ اللهُ مَعَ النَبیینَ و الصّدیقینَ و الشهداءَ و الصّالحینَ
قیل ما هِیَ یا رسول الله؟
فَقالَ مِن زَوَّدَ حاجّاً وزوج اعزبا و اَغاثُ مَلهوفاً و رَبّی یَتیماً و هَدی ضالاً و اَطعَمَ جائِعاً و اَروی عَطشاناً و صامَ فِی یَومِ حرٍّ شَدید.
Dalam teks-teks agama banyak menyinggung masalah bermanfaat bagi sesama. Rasulullah Saw bersabda, “Delapan perkara, bila seseorang melaksanakannya, maka Allah akan membangkitkannya bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin.”
Rasulullah ditanya, “Apakah kedelapan perkara itu wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda:
1. Orang yang membantu jemaah haji
2. Orang yang membantu pernikahan pemuda
3. Orang yang membantu siapa saja yang minta tolong
4. Mengasuh anak yatim
5. Menunjuki orang yang tersesat
6. Memberi makan orang lapar
7. Memberi minum orang haus
8. Berpuasa saat cuaca panas
Hadis ini secara tegas menyebutkan delapan perkara yang berhubungan erat dengan urusan sosial dan bagaimana membantu orang lain.
Disebutkan, suatu siang saya melihat Amirul Mukminin Ali as di bawah terik matahari. Menyaksikan itu saya bertanya, “Tuan, Anda mencari apa di bawah panasnya terik matahari ini?” Beliau menjawab, “Mungkin saja ada seseorang yang punya masalah ada urusan dengan saya. Saya sedang mencari orang seperti ini untuk saya selesaikan masalahnya.” Pada waktu itu seorang perempuan yang berselisih dengan suaminya datang menemui beliau. Imam Ali as mengikutinya dan pergi ke rumahnya. Beliau menasihati suaminya dan menyelesaikan perselisihan suami dan istri ini. (Safinah al-Bihar, jilid 2)
Membantu orang lain dan bermanfaat bagi sesama senantiasa menjadi kebiasan orang-orang besar dan para ulama.
Nabi Musa as mengatakan, “Di malam miqat Allah berfirman, “Hai Musa, tahukah engkau, siapa sajakah yang menjadi para pemimpin surga?” saya berkata, “Wahai Allah, saya tidak tahu.” Disampaikan, “Musa, para pemimpin surga adalah mereka yang menyenangkan orang-orang mukmin.”
Tentu saja menyenangkan orang mukmin dan setiap manusia dapat dilakukan dengan banyak cara.
Riwayat yang disampaikan oleh Rasulullah Saw tentang delapan perkara itu menyebut siapa saja yang melakukan delapan perkara tersebut, maka di Hari Kiamat ia akan dibangkitkan bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin. Sementara penjelasan sebab turunnya ayat yang menyebutkan mereka akan dibangkitkan bersama tersebut para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin sebagai berikut.
Suatu hari seorang bernama Tsauban datang menemui Rasulullah Saw. Dia sangat mencintai Rasulullah Saw. Kepada Rasulullah Saw dia berkata, “Wahai Rasulullah, saya sangat mencintai Anda. Namun ada sesuatu yang membuat saya khawatir dan membuat saya kepikiran.” Rasulullah Saw berkata, “Apa masalahnya?”
Tsauban berkata, “Anda berkata bahwa dunia ini terbatas. Kami bisa ketemu Anda dan berpisah. Bila hati kami rindu, maka kami datang kembali dan melihat Anda. Yang membuat saya kepikiran adalah bila pada Hari Kiamat, kami dibawa ke dalam surga dan kami dibawa ke tempat yang tidak akan bisa melihat Anda. Mengapa? Karena surga memiliki berbagai derajat dan keutamaan. Lalu apa yang harus kami lakukan? Wahai Rasulullah, hal inilah yang membuat saya kepikiran.”
Para ahli tafsir menulis bahwa setelah ucapan Tsauban tersebut, diturunkanlah ayat ini.
وَمَن يُطِعِ اللَّـهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَـٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّـهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـٰئِكَ رَفِيقًا
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS: Nisa: 69) (Emi Nur Hayati)