Beginilah Cara Imam Ridha Menggagalkan Konspirasi Makmun!
-
Imam Ridha as
Pars Today - Imam Ridha as, Imam ke-8 Syiah ini tidak hanya dikenal karena keilmuannya, tetapi juga kecerdasan politiknya dalam membongkar rencana Khalifah Makmun. Berikut kisahnya.
Awal Imamah di Tengah Tekanan
Imamah Imam Ridha as dimulai pada tahun 183 HQ setelah syahadah ayahandanya, Imam Musa Al-Kadhim as, di penjara Baghdad. Sejarawan menggambarkan awal masa ini dengan ungkapan, "Dari pedang Harun masih meneteskan darah." Kekhalifahan Abbasiyah mengira ikatan antara umat dan imam telah terputus setelah penghilangan fisik Imam Kadhim.
Dalam situasi ini, para sahabat dekat Imam khawatir akan keselamatan beliau. Namun Imam Ridha dengan tegas menduduki posisi Imamah, menjawab syubhat kelompok seperti Waqifiyah yang mengingkari Imamah beliau. Dengan argumen Qur'ani dan kenabian, beliau memperkuat fondasi pemikiran Syiah sehingga aparat intelijen Harun sekalipun tak bisa menemukan alasan untuk bertindak langsung.
Menghadapi Tipu Daya Makmun
Setelah wafatnya Harun dan perang saudara antara putra-putranya (Amin dan Makmun), Makmun keluar sebagai pemenang. Makmun, yang dikenal sebagai khalifah Abbasiyah paling cerdik, merancang skema rumit untuk melegitimasi kekuasaannya yang goyah. Alih-alih konfrontasi fisik seperti para pendahulunya, ia menerapkan kebijakan "tarik dan serap".
Makmun memaksa Imam Ridha meninggalkan Madinah menuju Marv, lalu menawarkan kekhalifahan dan kemudian jabatan putra mahkota. Tujuannya: menjadikan Imam seolah sekongkol dalam pemerintahannya, dan menghancurkan kesucian beliau di mata masyarakat.
Imam Ridha, dengan pemahaman mendalam atas skema ini, awalnya menolak keras perjalanan itu. Namun ketika diancam akan dibunuh, beliau menerima jabatan putra mahkota dengan syarat yang tegas: tidak akan ikut campur dalam urusan pengangkatan, pemberhentian, peradilan, atau urusan eksekutif apa pun.
Sikap cerdas ini secara praktis menggagalkan rencana Makmun. Imam membuktikan bahwa kehadirannya di pemerintahan bukan karena keinginan akan kekuasaan, melainkan keterpaksaan politik.
Mematahkan Skema Makmun dengan Strategi Cerdas
Makmun berniat memanfaatkan kewibawaan Imam untuk menunjukkan kekuasaannya, tetapi beliau berhasil mematahkannya melalui berbagai strategi jitu:
Hadis Silsilah Emas (Silsilat adz-Dzahab), di Neishabur, Imam menyatakan bahwa syarat masuk dalam benteng keselamatan Allah (tauhid) adalah penerimaan terhadap wilayah dan Imamah beliau. Dengan ini, beliau menegaskan batas-batas ideologis di jantung wilayah Abbasiyah.
Salat Eid yang Mengguncang Rezim, Makmun meminta Imam menunaikan salat Eid. Imam setuju dengan syarat: akan dilakukan sesuai tata cara Rasulullah SAW. Imam keluar rumah dengan bertelanjang kaki, pakaian sederhana, dan bertakbir dengan suara menggema. Para prajurit yang tenggelam dalam kemewahan, saat melihat kesederhanaan dan kebesaran spiritual cucu Rasul, turun dari kuda dan mengikuti beliau dengan bertelanjang kaki. Makmun ketakutan dan membatalkan rencana itu.
Debat Ilmiah dengan Pemuka Agama Lain, Makmun mengira Imam akan kalah melawan para cendekiawan nonmuslim. Namun Imam justru mengalahkan mereka semua dengan merujuk pada kitab suci agama mereka sendiri. Ini memperkuat posisi ilmiah Imam dan menyebarkan ajaran murni Islam ke seluruh penjuru peradaban saat itu.
Khalifah licik yang bermaksud menjadikan Imam sebagai "tamu politik" untuk melegitimasi kekuasaannya justru kocar-kacir. Imam Ridha menunjukkan bahwa kekuasaan sejati bukan di atas takhta, tetapi di hati manusia. Setiap langkah Makmun, dari pelantikan paksa hingga uji debat, berhasil dibelokkan menjadi panggung bagi keagungan moral dan intelektual Ahlulbait.
Gagal dengan tipu daya halus, Makmun akhirnya kembali ke cara kuno pendahulunya: meracuni Imam Ridha pada tahun 203 HQ. Namun dengan bersemayamnya makam Imam di tanah Khorasan (Iran), justru makam itu menjadi pusat penyebaran ajaran Ahlulbait. Imam Ridha mengajarkan bahwa pemimpin sejati tetap, dan penguasa zalim hanya lewat sebagai noda sejarah. Makmun membunuh jasad, tapi Imam membunuh reputasinya untuk selamanya.(sl)