Hari Ini, Indonesia Rayakan Hari Konferensi Asia Afrika
Hari ini, Senin 18 April diperingati sebagai Haاi Konferensi Asia Afrika yang dirayakan masyarakat Indonesia, terutama di Bandung.
Situs Pemerintah Daerah Bandung melaporkan, Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika ke-67 diselenggarakan di kota Bandung dengan berbagai kegiatan. Asia Africa Festival yang merupakan acara tahunan sejak 2015 juga akan dilaksanakan tahun ini, dengan tetap memperhatikan perkembangan kondisi pandemi COVID-19.
Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika ke-67 Tahun 2022 mengusung tema 'Pulih Bersama Bangkit Perkasa (Recover Together, Recover Stronger)'. Tema ini hadir sebagai pengenalan kepada publik tentang peringatan KAA sekaligus komitmen dari Museum KAA dalam mengemban visi untuk melestarikan nilai-nilai KAA yang bersumber dari Dasasila Bandung.
Berbagai kegiatan di Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika 2022 diadakan seperti: pengibaran 109 bendera negara peserta Konferensi Asia Afrika dan bendera PBB, jamuan teh petang bersama saksi sejarah KAA, peluncuran perangko peringatan 67 tahun KAA, peluncuran komik dan maskot KAA, serta konser sahabat Museum KAA.
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika yang lebih dikenal sebagai Konferensi Asia Afrika (KAA) digelar pada 18 sampai 24 April 1955 di Gedung Merdeka, kota Bandung, Jawa Barat.
Diawali dari Konferensi Colombo pada 28 April 1954, Indonesia melontarkan gagasan mengenai pertemuan negara-negara Asia-Afrika.
Peserta konferensi yang awalnya ragu pun pada akhirnya menyetujui ide tersebut.
Konferensi Asia Afrika ini digagas oleh lima negara, yakni Indonesia yang diwakili Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo, Ceylon (Srilanka) yang diwakili Perdana Menteri Sir John Kotelawala, Burma (Myanmar) diwakili oleh Perdana Menteri U Nu, Pakistan diwakili Perdana Menteri Mohammed Ali, dan India diwakili oleh Perdana Menteri Jawaharlal Nehru.
Selain itu, Konferensi Asia Afrika diikuti oleh 24 negara dari Asia dan Afrika, yakni Afghanistan, Kamboja, Republik Rakyat China (RRC), Mesir, Ethiopia, Pantai Emas (Gold Coast), Iran, dan Irak.
Kemudian Jepang, Yordania, Laos, Libanon, Liberia, Libya, Nepal, Filipina, Saudi Arabia, Sudan, Syria, Thailand (Muangthai), Turki, Republik Demokrasi Vietnam (Vietnam Utara), Vietnam Selatan, serta Yaman.
Sementara itu, tujuan digelarnya Konferensi Asia Afrika ini adalah untuk mempererat solidaritas negara-negara di Asia dan Afrika, Meninjau masalah-masalah hubungan sosial ekonomi dan kebudayaan dari negara-negara Asia dan Afrika, dan Menjalin kerukunan antar umat beragama di wilayah Asia dan Afrika.
Kemudian memberikan sumbangan untuk memajukan perdamaian dan kerja sama dunia, Mencanangkan gerakan politik untuk melawan kapitalisme asing, serta melawan kolonialisme dan neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, dan negara imperialis lainnya.
Tekanan terhadap perjuangan melawan kolonialisme, imperialis, serta dukungan terhadap negara-negara Asia-Afrika yang tengah memperjuangkan kemerdekaannya menjadi semangat KAA yang tak kunjung pudar sampai saat ini.
Salah satunya adalah dukungan para negara peserta kepada Palestina yang ditindas Zionis Israel.
Dukungan tersebut muncul dalam komunike terakhir KAA:
"Mengingat adanya ketegangan di Timur Tengah yang disebabkan karena keadaan di Palestina dan adanya bahaya bagi bagi perdamaian yang dirupakan oleh ketegangan ini, Konferensi Asia-Afrika menyatakan sokongannya kepada hak-hak bangsa Arab atas Palestina dan menyerukan dilaksanakan resolusi PBB mengenai Palestina dan dicapainya suatu penyelesaian dengan jalan damai dari masalah Palestina".
Bandung pun menjadi saksi bagimana para pemimpin Asia Afrika bersama-sama mengutuk kolonialisme atau penjajahan kekuasaan asing dalam penggalan komunike KAA lainnya.
Konflik Palestina-Israel yang kembali memanas saat ini kemudian mengingatkan kembali atas konferensi negara-negara Asia-Afrika di Bandung 67 tahun lalu tersebut.
Kemerdekaan Palestina, terbebasnya Palestina dari penindasan Israel, serta penyelesaian damai persoalan tersebut merupakan amanat yang mesti ditunaikan dan dilunasi KAA sebagai bagian dari Semangat Bandung melawan kolonialisme dan imperialisme di muka bumi.
Sayangnya, sampai saat ini 'utang' Konferensi Asia Afrika tersebut masih belum dapat diwujudukan.
Keadilan dan pembebasan Palestina dari penindasan Israel pun selamanya akan tetap menjadi utang untuk dilunasi Indonesia dan negara-negara peserta KAA lainnya yang pernah berikrar di Bandung.(pikiran rakyat, pemda bandung/PH)