Tidak Ada Negara Seperti Indonesia
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i44769-tidak_ada_negara_seperti_indonesia
Wakil Presiden M Jusuf Kalla (JK) memberikan kuliah umum di Universitas Columbia New York, Amerika Serikat (AS), mengenai radikalisme dan kebhinnekaan di Indonesia.
(last modified 2026-05-06T17:35:17+00:00 )
Sep 23, 2017 10:46 Asia/Jakarta
  • Republik Indonesia
    Republik Indonesia

Wakil Presiden M Jusuf Kalla (JK) memberikan kuliah umum di Universitas Columbia New York, Amerika Serikat (AS), mengenai radikalisme dan kebhinnekaan di Indonesia.

"Tidak ada negara yang seperti Indonesia dengan jumlah penduduk nomor empat di dunia dengan berbagai etnis, suku dan budaya, serta tersebar dalam berbagai pulau, tetapi saling menghormati " kata Wapres M. Jusuf Kalla saat memberikan kuliah umum di Universitas Columbia, Jumat (22/9).

Wapres JK menjelaskan hal itu terjadi karena di Indonesia sejak dahulu hidup dalam harmoni.

Ditambahkannya, "Kami memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika, meski berbeda-beda, tapi tetap satu."

Wapres menjelaskan perbedaan agama tidak menjadi masalah, dan jika mendengar ada beberapa konflik di Indonesia, maka persoalannya bukan karena agama, tetapi karena kesenjangan, bahkan soal demokrasi atau politik.

Sebagai contoh, menurut Wapres JK, kasus di Poso dan Ambon terjadi konflik justru karena demokrasi. Sebelumnya, pemimpin di wilayah tersebut ada harmoni antar-umat beragama jika kepala daerahnya muslim, maka wakilnya non-muslim, dan sebaliknya.

Wakil Presiden RI M. Jusuf Kalla (JK) mengatakan bahwa terorisme tumbuh di negara-negara gagal karena mereka merasa tidak punya harapan dan banyaknya pengangguran.

Dijelaskannya,"Terorisme dan radikalisme datang dari negara-negara gagal, karena mereka merasa tidak ada harapan. Begitu mudah dijanjikan masuk surga, mereka dengan senang hati melakukannya.”

Wapres menjelaskan negara-negara gagal tersebut antara lain terjadi karena serbuan Amerika Serikat (AS), seperti yang terjadi di Irak, Suriah, Lebanon dan Afganistan.

Munculnya ISIS, menurut Wapres, juga berasal dari negara-negara gagal tersebut.

Wapres juga menjelaskan saat ini di Indonesia telah dilakukan program de-radikalisasi terhadap lebih dadi 10.000 mantan teroris yang dipenjara di 72 penjara di seluruh Indonesia.(MZ/Antaranews)