Ekspor Industri TPT Capai 7 miliar Dollar AS
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i44979-ekspor_industri_tpt_capai_7_miliar_dollar_as
Kinerja ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mencapai 7 miliar dollar AS pada semester I Tahun 2017, yang menunjukkan laju pertumbuhan untuk sektor padat karya ini positif.
(last modified 2026-05-06T17:35:17+00:00 )
Sep 27, 2017 08:57 Asia/Jakarta

Kinerja ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mencapai 7 miliar dollar AS pada semester I Tahun 2017, yang menunjukkan laju pertumbuhan untuk sektor padat karya ini positif.

"Ekspor TPT mengalami kenaikan 2,71 persen sehingga menjadi USD 7,12 miliar sampai dengan Juli 2017,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melalui keterangannya diterima di Jakarta, Selasa.

Airlangga menyampaikan hal itu ketika melakukan kunjungan kerja di PT Delami Garment Industries, Bandung, Jawa Barat.

Kementerian Perindustrian memproyeksikan, sampai akhir tahun 2017 ekspor TPT akan mencapai 12,09 miliar dollar AS dan pada tahun 2019 ditargetkan sebesar 15 miliar dollar AS.

“Peningkatan ekspor dan pasar domestik yang mulai menggeliat ini, ditandai dengan naiknya utilisasi produksi dari industri dalam negeri,” ujar Airlangga.

Di samping itu, guna meningkatkan daya saing dan produktivitas di sektor strategis ini, pemerintah tengah berupaya untuk mempermudah akses logistik dan menguatkan branding lokal.

“Saat ini, industri TPT kita sudah terintegrasi, 90 persen sudah diproduksi di dalam negeri. Untuk itu, peningkatan nilai tambah di Indonesia juga penting untuk memenuhi pasar domestik, selain ekspor,” tuturnya.

Dalam upaya melindungi merek nasional, Pemerintah Indonesia menggandeng Organisasi Hak Kekayaan atas Intelektual Dunia (World Intellectual Property Organizational/WIPO).

Dalam hal ini, pemerintah akan segera mengesahkan keikutsertaan Indonesia dalam Protokol Madrid, yakni protokol tentang sistem pendaftaran hak intelektual internasional.

Menperin juga menilai, industri TPT memiliki potensi yang besar untuk tumbuh dan berkembang pada masa depan.

Oleh karena itu, berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) pada 2015-2035, sektor ini diprioritaskan dalam pengembangannya agar mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Saat ini, industri TPT yang beroperasi di Indonesia telah terintegrasi dengan klasifikasi dalam tiga area. Pertama, sektor hulu yang didominasi menghasilkan produk fiber.

Kedua, sektor antara, perusahaan-perusahaan yang proses produksinya meliputi spinning, knitting, weaving, dyeing, printing dan finishing. Terakhir, sektor hilir berupa pabrik garmen dan produk tekstil lainnya.

Berdasarkan data United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-9 di dunia untuk Manufacturing Value Added. Posisi ini sejajar dengan Brazil dan Inggris, bahkan lebih tinggi dari Rusia, Australia, dan negara ASEAN lainnya.

Oleh karena itu, Airlangga menyampaikan, Kemenperin terus memacu hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Kementerian Perindustrian upayakan regenerasi pembatik

Kementerian Perindustrian mengupayakan regenerasi perajin batik di Indonesia, pasalnya sebagian besar pembatik telah berusian di atas 40 tahun.

"Jumlah anak muda yang mau menjadi perajin batik masih sangat terbatas," kata Sekjen Kementerian Perindustrian, Haris Munandar, di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, regenerasi pembatik menjadi hal yang penting untuk menjaga keberlanjutan industri batik, terlebih batik sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda oleh UNESCO.

Dia menyampaikan, pihak terkait harus meningkatkan sosialisasi dan memberikan edukasi keterampilan membatik kepada para generasi muda, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi.

"Kita juga harus dapat meyakinkan kepada para generasi muda bahwa profesi menjadi perajin batik atau bisnis di industri batik memiliki prospek yang menjanjikan," ujar Haris.

Dengan demikian, lanjutnya, warisan budaya batik asli Indonesia dapat tetap lestari.

Ia menambahkan, Kementerian Perindustrian terus berupaya mengembangkan industri batik, mulai dari peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia, pengembangan kualitas produk, standarisasi, fasilitas mesin hingga promosi dan pameran.

"Upaya itu untuk meningkatkan daya saing dan kapasitas produksinya," kata dia.

Untuk meningkatkan akses pasar, Kementerian Perindustrian juga memiliki Program e-Smart IKM, yang membuat batik dapat menembus pasar online dan jangkauan pasar uang lebih luas.

"Kami juga mendorong industri batik memanfaatkan berbagai fasilitas pembiayaan, seperti Kredit Usaha Rakyat, Lembaga Penjamin Ekspor Indonesia dan insentif lainnya untuk memperkuat struktur modal," kata dia.(MZ/Antaranews)