Riset Kebencanaan Perlu Ditingkatkan
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i45241-riset_kebencanaan_perlu_ditingkatkan
Besarnya jumlah bencana alam di Indonesia harus diimbangi dengan peningkatan riset kebencanaan. Anggota Komisi VI DPR, Nyoman Dhamantra, menyatakan, pemerintah perlu meningkatkan jumlah riset mengenai kebencanaan, khususnya terkait potensi erupsi gunung api dan gempa bumi.
(last modified 2026-05-06T17:35:17+00:00 )
Okt 02, 2017 09:25 Asia/Jakarta

Besarnya jumlah bencana alam di Indonesia harus diimbangi dengan peningkatan riset kebencanaan. Anggota Komisi VI DPR, Nyoman Dhamantra, menyatakan, pemerintah perlu meningkatkan jumlah riset mengenai kebencanaan, khususnya terkait potensi erupsi gunung api dan gempa bumi.

Situs Antara Minggu malam melaporkan, Saat mengunjungi pos pengungsi Gunung Agung, di Banjar (dusun) Nyuh Aya, Desa Gelgel, Kabupaten Klungkung, Bali, Minggu, Nyoman Dhamantra mengatakan, Riset dan teknologi tentang kebencanaan ini penting, karena sebagian besar wilayah di Indonesia, khususnya Bali memiliki gunung api, dan berada di atas patahan lempeng bumi.

Anggota Komisi VI DPR asal Bali itu menambahkan, presiden kelima Indonesia, Megawati Soekarnoputri, telah cukup lama mengingatkan pemerintah, anggaran untuk penelitian dan pengembangan teknologi penting untuk menjadi prioritas. Dari sisi geologi dan vulkanologi, Indonesia ada di lingkar inti Cincin Api Bumi, yang melingkari Benua Asia, Amerika, dan Australia, yang mengepung Samudera Pasifik.

Situs Antara melaporkan, Gunung Agung memiliki ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut itu senantiasa menjadi tempat pelaksanaan ritual "Pekelem" rangkaian upacara besar di Pura Besakih yang digelar secara berkesinambungan setiap tahun.

Gunung yang berstatus awas (level IV) sejak 22 September lalu, kini tingkat kegempaannya semakin tinggi dalam seminggu terakhir kegempaan untuk vulkanik dalam mencapai 500 kali, vulkanik dangkal 300 lebih dan tektonik lokal 70 kali.

Bahkan hari Sabtu (30/9) dari pukul 06.00-12.00 Wita kegempaan mencapai vulkanik dalam mencapai 166 kali, vulkanik dangkal 50 dan tektonik empat kali.

Kondisi permukaan kawah Gunung Agung kini sudah mengalami retak yang diperkirakan memiliki panjang mencapai 100 meter, tutur Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gede Suantika.

Dengan demikian permukaan kawah Gunung Agung yang mengalami keretakan itu otomatis berubah dan sekarang bisa mengamati solfara dari Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Desa Rendang, Karangasem.

Keretakan kawah gunung tersebut diketahui setelah sebelumnya dilakukan pemantauan udara yang dilakukan PVMBG bersama Badan Nasionan Penanggulangan Bencana (BNPB), Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas sumatri dan Dandim 1623 Karangasem, Letkol INF Fierman Sjafrial Agustus.

Dengan munculnya gas oksida belerang atau solfatara itu menandakan bahwa ada perubahan di kawah gunung Gunung Agung yang sudah disterilkan dalam radius 12 km.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meningkatkan status Gunung Agung menjadi Awas, wilayah steril yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung itu, diperluas menjadi sembilan kilometer.

Selain itu ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah Utara, Timur Laut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sehingga kawasan yang berbahaya dalam radius 12 kilometer dari Gunung Agung yang harus dikosongkan.

Dari pengamatan visual PVMBG, menurut Gede Suantika ketinggian gas solfatara itu mencapai sekitar 50 meter. Munculnya solfatara akibat kawah yang retak disebabkan karena dorongan panas dari magma gunung yang selama ini keberadaannya disucikan umat Hindu Pulau Dewata.

Kondisi gunung yang semakin mengkhawatirkan itu menyebabkan masyarakat yang bermukim di lereng Gunung Agung semakin menjauh dan jumlah pengungsi mencapai 143.840 jiwa orang mengungsi tersebar di 471 titik di seluruh Bali hingga Sabtu malam (30/9).

Padahal Gubernur Bali Made Mangku Pastika berulang kali telah menegaskan dari 78 desa di Kabupaten Karangasem, 50 desa diantaranya dalam kondisi aman hanya masyarakat di 28 desa yang perlu mengungsi.

Sedangkan masyarakat di 50 desa tidak perlu mengungsi dan diharapkan mereka secepatnya pulang kembali ke rumah masing-masing dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) siap mengevakuasinya.

Ke-28 desa yang masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Agung yang diwajibkan mengungsi terdiri atas tujuh desa di Kecamatan Kubu meliputi Desa Tulamben, Kubu, Dukuh, Baturinggit, Sukadana dan Tianyar (Tianyar tengah dan barat aman).

Lima desa di Kecamatan Abang terdiri atas Desa Pidpid (bagian atas), Nawekerti, Kesimpar, Datah (bagian atas) dan Ababi (atas dan barat). Di Kecamatan Karangasem tiga desa meliputi Padangkerta, Subagan dan Kelurahan Karangasem (dekat Tukad Janga).

Di Kecamatan Bebandem terdapat empat desa yang warganya harus mengungsi meliputi Buwana Giri (bagian atas), Budekeling (dekat Sungai Embah Api), Bebandem (bagian atas) dan Jungutan.

Warga dari desa-desa di Kecamatan Selat dan Rendang juga wajib mengungsi yakni Duda Utara, Amerta Buwana, Sebudi, Peringsari, Muncan, Besakih, Menanga dan Pembatan.(PH/Antara)