Pulau Komodo Jadi Destinasi Ekslusif Seperti ‘Jurrasic Park’
-
Komodo
Taman Nasional Komodo merupakan salah satu tempat wisata andalan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak populer beberapa tahun belakangan, jumlah pengunjung taman nasional ini terus bertambah.
Angka pengunjung yang semakin banyak itu justru bisa menganggu habitat komodo secara tidak langsung. Hal itu ikut memicu wacana penutupan sementara Taman Nasional Komodo pada 2020.
Fakta Rencana Penutupan
1. Penataan Taman Nasional Komodo
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskoda menutup sementara Taman Nasional Komodo guna menata ulang taman itu agar jadi indah, aman, dan lebih teroganisir dari sebelumnya.
Mulai dari menata ketersediaan makanan komodo agar terjamin, melestarikan hutan, juga lingkungan guna menjaga habitat komodo. Penataan taman ini juga dilakukan untuk melindungi komodo dari kepunahan.
2. Banyaknya Wisatawan yang Datang
Sejak tahun 2010, jumlah pengunjung Taman Nasional Komodo tercatat sekitar 44.672, tahun 2011 ada 48.010 pengunjung, tahun 2012 ada 49.982 pengunjung, 63.801 pengunjung di tahun 2013, dan tahun 2014 ada 80.626 pengunjung.
Angka semakin meningkat pada 2015, yakni 95.410 pengunjung dan tahun 2016 ada 107.711 pengunjung. Sementara hingga bulan September 2017 jumah pengunjung mencapai 98.305 orang.
Banyaknya pengunjung yang datang ke taman ini mengganggu habitat komodo secara tidak langsung. Gerak-gerik wisatawan yang datang ke taman ini tak memberi perlindungan yang baik dan merusak habitat hewan purba tersebut.
3. Jadi Tempat Wisata Eksklusif
Turis yang datang ke Taman Nasional Komodo akan dibatasi dan biaya masuknya akan mengalami perubahan jadi lebih mahal dari sebelumnya.
4. Menjamin Makanan Komodo
Karena rusa merupakan makanan utama Komodo dan banyak perburuan liar terhadap rusa, otomatis jumlahnya berkurang. Ditutupnya taman ini diharapkan akan mengurangi perburuan liar dan meningkatkan populasi rusa agar makanan utama komodo lebih terjamin.
5. Maraknya Perburuan Liar
Penutupan taman ini dapat mengurangi pemburuan liar, serta meningkatkan populasi komodo. Pasal, apabila hewan ini punah, maka taman wisata ini pun akan kehilangan 'atraksi' utamanya.
6. Meningkatkan Populasi Komodo
Pemerintah akan meningkatkan populasi komodo dengan memperbaiki habitatnya dan menjamin makanan agar tidak ada Komodo memakan komodo sehingga dapat meningkatkan populasi hewan ini.
Penutupan Pulau Komodo Jadi Sorotan Media Asing
Wacana penutupan Pulau Komodo menjadi sorotan beberapa media asing. Berita ini mencuri perhatian media Amerika hingga Inggris, sebab banyaknya turis asing yang berkunjung ke Indonesia, termasuk Labuan Bajo.
Tak hanya karena itu, Pulau Komodo juga sudah terdaftar sebagai salah satu warisan dunia di UNESCO.
Dari Amerika, media online asing CNN menulis isu tersebut dengan artikel bertajuk "Indonesia's famed Komodo Island may close for one year". Dalam situs tersebut, disebutkan bahwa Pulau Komodo akan ditutup untuk para pengunjung selama setahun.
Sementara dari Inggris, situs berita online BBC menyorot berita ini dalam tulisan berjudul, "Komodo: Tourists must pay $1,000 to enter 'Dragon Island'. Dalam artikelnya, dituliskan bahwa teknis penutupan lokasi wisata tersebut masih dalam proses perencanaan.
Dari benua yang berbeda, media online Timur Tengah, Al Jazeera pun membahas perihal ini melalui unggahan sebuah video di laman Facebook dengan tajuk, "Indonesia's Komodo Island to be closed in 2020".
Media online Jerman, dw.com, turut mengunggah video dengan topik yang sama.
Pulau Komodo Destinasi Khusus
Pulau Komodo ditegaskan tidak akan ditutup. Justru Pulau Komodo akan menjadi wisata eksklusif, di mana wisatawan yang masuk menjadi terseleksi demi menjaga kelestarian Pulau Komodo.
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan karena komodo bagaikan dinosaurus, Pulau Komodo bakal dijadikan macam taman nasional di film Jurassic Park.
Mulai dari penginapan dan fasilitas mewah akan dibangun, lengkap dengan pusat riset komodo untuk melestarikannya.
"Kita tinggal koordinasikan, kita lihat perusahaan yang mengelola itu. Harusnya perusahaan yang bonafide. Baik itu perusahaan luar atau dalam," ujar dia Jakarta, Jumat (11/10/2019). Sebagaimana dipantau Parstodayid dari Liputan6, Sabtu (12/10/2019).
Sebagai warisan dunia, berwisata ke Pulau Komodo nantinya akan merogoh kocek yang cukup dalam. Tetapi, penerimaan tiket akan diputar kembali untuk pengelolaan taman komodo, juga untuk kesejahteraan warga sekitar.
"Itu seperti Safari di Kenya, orang datang saja bisa USD 3.500 per malam. Ini sekaligus untuk melindungi agar warga sejahtera dan daerah sekitar kawasan," ujarnya. (Detik/Liputan6)