Kesiapan Indonesia Merespons Virus Corona
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i78530-kesiapan_indonesia_merespons_virus_corona
Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr Navaratnasamy Paranietharan mengatakan, Indonesia sudah siap merespons virus corona dan hingga kini belum ada data yang menyebut 2019-nCoV masuk ke Indonesia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 12, 2020 08:50 Asia/Jakarta
  • Ilustrasi virus corona.
    Ilustrasi virus corona.

Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr Navaratnasamy Paranietharan mengatakan, Indonesia sudah siap merespons virus corona dan hingga kini belum ada data yang menyebut 2019-nCoV masuk ke Indonesia.

“Kami sebagai WHO tidak mengambil kesimpulan hanya dari prediksi dan model, kami menunggu ada bukti, dan hingga kini belum ada bukti dari Indonesia terjangkit 2019-nCoV,” kata Paraneitharan saat menghadiri Seminar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Depok, Selasa, 11 Februari 2020.

Dia menyebut, belum adanya suspect virus corona atau 2019-nCoV ke Indonesia, karena pemerintah melakukan upaya yang baik dalam persiapan dan pencegahan terhadap masuknya virus tersebut.

Paranietharan menepis anggapan tim medis Indonesia tidak mampu mendeteksi virus corona. "Bersyukur sampai sekarang di Indonesia belum ada kasus. Itu artinya kami percaya dan yakin bahwa kapasitas medis di Indonesia siap menangani, dari rumah sakit hingga deteksi virus itu," ujarnya seperti dilansir situs Tempo.

Menurutnya, Indonesia telah memiliki kapasitas untuk mendeteksi virus 2019-nCoV karena sejak 14 Januari 2020 telah memiliki PCR atau Polymerase Chain Reaction sebagaimana negara Asia lainnya.

“PCR untuk coronavirus telah dimiliki Indonesia sejak 14 Januari sebagaimana negara Asia lainnya, jadi sebenarnya seluruh negara terdampak baru bisa mendeteksi 2019-nCoV mulai 14 Januari,” kata Paranietharan.

Paranietharan mengatakan PCR merupakan alat untuk mendeteksi 2019-nCoV. Cara kerja alat tersebut dengan cara melakukan genomic sequencing (pengurutan DNA) untuk kemudian dicocokkan dengan data 2019-nCoV.

“Prosedur PCR menggunakan RNA (semacam enzim) yang diekstraksi dan ditambah reagen, setelah itu masuk ke mesin PCR untuk menemukan kesamaan dengan 2019-nCoV berdasarkan data dari Cina,” kata Paranietharan.

Namun, kata Paranietharan, hasil laboratorium dari PCR membutuhkan waktu lama, paling cepat hasil keluar dalam waktu dua hari. “Dengan PCR hasilnya baru akan keluar paling cepat dua hari, namun dengan PCR spesifik hasilnya bisa didapatkan lebih cepat dalam hitungan jam,” kata Paraneitaharan.

Presiden Joko Widodo.

Jokowi Pastikan Pemeriksaan Terduga Korona Standar WHO

Presiden Joko Widodo memastikan 62 kasus terduga virus korona di Indonesia negatif. Proses pendeteksian virus mematikan tersebut dilakukan sesuai standar World Health Organization (WHO).

"Meskipun kemarin ada 62 yang suspect tapi setelah dicek semuanya negatif. Ini patut kita syukuri," kata Presiden Jokowi saat membuka sidang kabinet paripurna di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa, 11 Februari 2020.

Jokowi menyebut kerja keras seluruh kementerian dan lembaga, terutama Kementerian Kesehatan patut diapresiasi. Khususnya dalam mengantisipasi masuknya virus korona ke Tanah Air.

"Saya kira ini menunjukkan kewaspadaan kita, kehati-hatian kita, kerja keras ekstra sehingga virus itu tidak masuk ke Indonesia," ungkapnya seperti dilansir situs Medcom.id.

Meski demikian, seluruh kementerian/lembaga diminta aktif menginformasikan kepada masyarakat mengenai penanganan atau antisipasi virus tersebut.

Jokowi menekankan pemerintah sangat serius mewaspadai ancaman wabah virus korona yang telah merenggut 1.013 nyawa di dunia.

"Saya minta agar disampaikan ke media pagi, siang, malam, terus dilakukan sehingga informasi betul-betul konkret, ada faktanya, sehingga persepsi di luar kepada Pemerintah Indonesia betul-betul sangat serius dalam menangani ini," pungkas dia.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menemukan sekitar 62 kasus dugaan virus korona di Indonesia. Sebanyak 62 spesimen dari suspect itu telah dikirim dari 28 rumah sakit di 16 provinsi dan telah dilakukan pemeriksaan.

Saat ini pemerintah masih mengobservasi sebanyak 285 orang WNI yang pulang dari Wuhan, Tiongkok. Wuhan merupakan episentrum wabah virus korona. Hingga Selasa ini, seluruh WNI di Natuna dalam kondisi baik. (RM)