PSBB dan Lonjakan Pengangguran
-
Penyebaran Covid-19 di Indonesia
Jumlah kasus positif covid-19 di Indonesia terus bertambah. Data yang dipublikasikan kemarin bertambah 292 orang menjadi 10.843 orang.
Dari total kasus tersebut, sebanyak 1.665 orang berhasil sembuh, sedangkan 831 orang meninggal dunia akibat Covid-19. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan jumlah pasien sembuh bertambah 74 orang dibandingkan hari sebelumnya, sedangkan korban meninggal dunia bertambah 31 orang.
Beberapa daerah telah ditetapkan sebagai zona merah virus corona, meski tak diketahui berapa jumlahnya. Peningkatan jumlah kasus positif Covid-19, bersama jumlah korbannya berusaha ditekan pemerintah Indonesia dengan pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Masalahnya, parameter keberhasilan PSBB dinilai sejumlah kalangan tak jelas. Di Jakarta, penerapan PSBB tahap pertama ternyata tak cukup mampu menekan jumlah kasus positif covid-19. Jumlah positif terinfeksi covid-19 di Jakarta sebanyak 1.810 kasus. Hingga akhir pelaksanaan PSBB fase pertama atau 23 April, kasus positif di Jakarta justru melonjak hingga 3.506 kasus.
Tim Pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Pandu Riono menilai, ketidakjelasan parameter berbagai kebijakan itu tak lepas dari ketiadaan sikap pemerintah merumuskan rencana aksi nasional atau national plan of action dalam strategi penanganan covid-19.
Menurut Pandu, indikator keberhasilan PSBB seharusnya dapat diukur dengan pengumpulan data kuantitatif yang diperoleh dari pengamatan di lapangan. Misalnya persentase kerumunan orang, persentase orang yang bekerja di rumah, persentase orang yang menggunakan masker, dan sebagainya. Apabila pelanggaran masih tinggi, artinya penerapan PSBB itu tak berjalan efektif.
Namun selama ini indikator tersebut tak terukur dengan jelas. Padahal dalam penerapan kebijakan, menurut Pandu, harus ada kuantifikasi jelas agar berjalan maksimal. Hal ini pula yang menyebabkan penerapan PSBB tak berdampak signifikan pada jumlah kasus positif di Jakarta, meski belakangan diklaim melambat.
Selain itu, implementasi PSBB juga menimbulkan masalah di tengah masyarakat. Menyikapi masalah ini, Menko Polhukam RI Mahfud Md menanggapi keluhan masyarakat yang tidak dapat melakukan aktivitas dengan bebas saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Mahfud mengatakan pemerintah saat ini sedang memikirkan pelonggaran aturan PSBB.
"Kita tahu ada keluhan ini sulit keluar, sulit berbelanja dan sebagainya, sulit mencari nafkah dan sebagainya. Kita sudah sedang memikirkan apa yang disebut relaksasi PSBB," kata Mahfud hari Sabtu.
Masalah besar lain mengenai perekonomian. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan, jumlah pengangguran sudah melonjak akibat terganggunya roda perekonomian selama masa pandemi Covid-19.
Wakil Ketua Umum Kadin Suryani Motik mengatakan jumlah pengangguran sudah bertambah lebih dari 10 juta orang akibat pandemi Covid-19. Pengangguran baru tersebut utamanya disumbangkan oleh sektor hotel restoran pariwisata dan juga UMKM. Motik menjelaskan, sektor hotel memperkerjakan sekitar 15 juta tenaga kerja. Saat ini, sudah banyak hotel yang memutuskan untuk merumahkan karyawannya.
Pernyataan senada disampaikan Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean yang mengatakan bahwa tingkat pengangguran pun diprediksi berpotensi naik. Saat ini 56 persen angkatan kerja Indonesia berada di sektor informal. Tingkat pengangguran berpotensi naik dari kisaran 5,2 persen sampai 5,3 persen saat ini menjadi antara 7,7 persen dalam skala moderat dan 10,3 persen dalam skala berat. (PH)