Raisi: Iran Prioritaskan Hubungan dengan Negara Tetangga
Presiden Republik Islam Iran menyatakan bahwa kebijakan memprioritaskan hubungan dengan negara-negara tetangga demi menghadapi menetralisir sanksi sebagai strategi Republik Islam Iran.
Presiden Republik Islam Iran, Sayid Ebrahim Raisi dalam pertemuan dengan para wakil Iran di luar negeri yang berfokus pada negara-negara tetangga hari Sabtu (11/12/2021) mengatakan, "Mengingat kapasitas Iran yang ada, interaksi dengan negara tetangga harus diperluas, dan kontribusi kementerian luar negeri dalam hal ini sangat penting,".
Menyinggung dua strategi Republik Islam Iran untuk menetralisir dan mencabut sanksi, Presiden Iran menegaskan, "Ada yang mengatakan bahwa Republik Islam tidak mau berunding, maupun mengklaim bahwa Iran tidak berpartisipasi dalam negosiasi yang serius atau tidak memiliki rencana. Tapi faktanya Republik Islam berpartisipasi dalam negosiasi dengan bermartabat dan menunjukkan dengan menghadirkan teks yang disampaikan secara serius dalam negosiasi,".
"Jika pihak lain bertekad untuk mencabut sanksi yang menindas terhadap Iran, kesepakatan yang baik akan tercapai dan Republik Islam Iran pasti akan mencari kesepakatan yang baik," ujar Raisi.
Di bagian lain pidatonya, Presiden Republik Islam Iran mengkritik normalisasi hubungan antara beberapa negara di kawasan dengan rezim Zionis, dan menjelaskan, "Normalisasi ini tidak memberikan keamanan bagi negara-negara ini atau rezim Zionis,".
"Beberapa negara mencoba untuk menormalkan hubungan mereka dengan Zionis, dan membawa Israel lebih dekat ke perbatasan negara-negara di kawasan. Tetapi tindakan ini tidak akan menguntungkan mereka," paparnya.
Raisi menyebut Republik Islam Iran beritikad baik kepada negara-negara kawasan. Ia mengungkapkan, "Komunikasi yang dijalin Republik Islam dan interaksinya dengan pihak lain di berbagai bidang dapat membantu mewujudkan keamanan dan menyebarkan perdamaian di kawasan,".
Presiden Republik Islam Iran juga mengaitkan masalah Afghanistan dengan kehadiran pihak asing di negara itu dan menyatakan, "Afghanistan belum memiliki hari yang baik setelah kehadiran NATO dan Amerika Serikat,".(PH)