Ali Al-Zaidi, Perdana Menteri Baru Irak
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i189080-ali_al_zaidi_perdana_menteri_baru_irak
Pars Today - Setelah Koalisi Kerangka Koordinasi Syiah Irak menunjuk Ali al-Zaidi sebagai kandidat mereka untuk jabatan tersebut, Presiden Nizar Amedi resmi menunjuknya sebagai formatur kabinet baru negara itu.
(last modified 2026-04-28T07:03:48+00:00 )
Apr 28, 2026 14:02 Asia/Jakarta
  • Ali Al-Zaidi, Perdana Menteri Baru Irak
    Ali Al-Zaidi, Perdana Menteri Baru Irak

Pars Today - Setelah Koalisi Kerangka Koordinasi Syiah Irak menunjuk Ali al-Zaidi sebagai kandidat mereka untuk jabatan tersebut, Presiden Nizar Amedi resmi menunjuknya sebagai formatur kabinet baru negara itu.

Ali Al-Zaidi memiliki latar belakang ekonomi. Ia adalah anggota Asosiasi Pengacara Irak dan meraih gelar master di bidang keuangan dan perbankan, dengan gelar sarjana di bidang yang sama dan juga hukum.

Selama bertahun-tahun, ia menjabat sebagai ketua dewan direksi National Holding Company, Universitas Al-Shaab, Institut Medis Ishtar, dan South Bank.

Ia adalah seorang miliarder Irak yang bergerak di bidang perbankan dan penyedia keranjang makanan untuk rakyat Irak yang melayani jutaan orang. Zaidi, yang relatif tidak dikenal dalam politik nasional dan belum pernah memegang jabatan publik, akan menjadi perdana menteri termuda Irak pada usia 40 tahun jika sukses.

Presiden Irak, Al-Amedi, memintanya untuk membentuk kabinet baru dalam waktu 30 hari.

Koalisi Kerangka Koordinasi mulanya menunjuk mantan Perdana Menteri Nouri Al-Maliki sebagai kandidat, tetapi upaya ini ditentang oleh Presiden AS Donald Trump, yang mengancam akan menghentikan semua dukungan AS ke Irak.

Irak terhindar dari kekosongan konstitusional, dan Washington bisa bernapas lega. Namun, kemenangan ini tidak diraih oleh uluran tangan AS, melainkan oleh tekanan nyata yang dipasang selama berminggu-minggu.

Ancaman Trump soal "pencabutan dukungan" membuat koalisi Syiah memilih opsi yang lebih aman: Zaidi, sang administrator, bukan Maliki yang dekat dengan Iran.

Namun stabilitas Irak tidak hanya diukur dari siapa yang menjadi perdana menteri. Dengan tekanan AS yang terus membayangi dan hubungan rumit dengan Iran, Zaidi yang berusia 40 tahun dan minim pengalaman politik kini memiliki waktu 30 hari untuk membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar "kandidat kompromi".(sl)