Pembunuhan Syahid Soleimani, Bumerang bagi AS dan Israel
https://parstoday.ir/id/news/iran-i112520-pembunuhan_syahid_soleimani_bumerang_bagi_as_dan_israel
Sebuah surat kabar Inggris menyatakan pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani, mantan Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah menjadi bumerang bagi Amerika Serikat dan Israel.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 04, 2022 11:38 Asia/Jakarta
  • Acara haul Syahid Soleimani di Tehran pada Senin, 3 Januari 2022.
    Acara haul Syahid Soleimani di Tehran pada Senin, 3 Januari 2022.

Sebuah surat kabar Inggris menyatakan pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani, mantan Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah menjadi bumerang bagi Amerika Serikat dan Israel.

Middle East Eye terbitan London dalam sebuah laporan pada Senin (3/1/2022), menyebut Syahid Soleimani sebagai pahlawan dalam melawan hegemoni Barat di kawasan dan pendukung utama perlawanan di Irak, Suriah, Lebanon, Afghanistan, Yaman, dan Gaza.

Jutaan orang turun ke jalan-jalan di Tehran dan kampung halamannya di Kerman untuk mengikuti upacara pelepasan jenazahnya.

Pemerintahan Donald Trump mengklaim bahwa Jenderal Soleimani dibunuh untuk mencegah serangan besar yang ia rencanakan. Ini sekarang telah dibantah. Tidak ada ancaman segera dari Iran terhadap personel AS di kawasan sehingga dapat membenarkan serangan yang dilakukan di Baghdad pada 3 Januari 2020.

Perdana Menteri Israel waktu itu, Benjamin Netanyahu, mengira dirinya pintar dalam membujuk Trump agar meninggalkan kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) dan membunuh Jenderal Soleimani. Namun, sekarang jelas bahwa tidak satu pun dari dua langkah itu yang melayani kepentingan nasional rezim Zionis, apalagi Amerika.

Jenderal Qasem Soleimani dan Wakil Ketua Hashd al-Shaabi Irak Abu Mahdi al-Muhandis, bersama dengan delapan pengawal mereka, gugur syahid dalam serangan udara pasukan teroris AS di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020.

Serangan teror ini dilakukan atas perintah langsung Presiden Donald Trump. (RM)