26 Hari Bersejarah yang Membawa Kemenangan Revolusi Islam Iran
-
Pawai 22 Bahman
43 tahun lalu tepatnya 22 Bahman 1357 Hs bertepatan dengan 11 Februari 1979, bangsa Iran dengan tekad baja dan tanpa bersandar pada kekuatan manapun, serta dengan tangan kosong dan hati teguh melawan rezim yang bersenjata lengkap beserta pendukungnya. Rakyat ini mengorbankan nyawanya dan melawan sehingga Revolusi Islam mencapai kemenangan.
Revolusi Islam Iran adalah hasil dari pilihan bersejarah. Bangsa revolusioner Iran sebenarnya mengambil langkah untuk menunjukkan rezim diktator dan kekuatan arogan bahwa mereka tidak akan pernah menyerah.
Setelah 26 Dey 1357 (16 Januari 1979), 26 hari bersejarah dan abadi berlalu bagi bangsa Iran dan pada 22 Bahman (11 Februari), Revolusi Islam berkat darah suci para syuhada revolusi berhasil meraih kemenangan.
Pada 16 Januari 1979 ketika Shah Pahlevi melarikan diri dari Iran, ia berharap seperti 25 tahun lalu, skenario kudeta AS-Inggris 28 Mordad 1332 Hs (19 Agustus 1953) akan terulang kembali dan jalan kembalinya ke Iran terbuka lebar. Tapi kali ini nasib rezim Shah ternyata berbeda.
Pembubaran Dewan Kerajaan, sehari setelah larinya Shah, kekalahan upaya Bakhtiar, perdana menteri Shah untuk mencegah kembalinya Imam Khomeini ke tanah air dengan menutup Bandara Udara Mehrabad merupakan peristiwa yang dengan cepat menghancurkan setiap prakarsa dan langkah sisa-sisa anasir Shah.
Dengan kembalinya Imam Khomeini ke tanah air pada 12 Bahman 1357 Hs (1 Februari 1979) setelah 15 tahun pengasingan dan dengan sambutan luar biasa warga, tanda-tanda kemenangan Revolusi Islam semakin nyata.
Imam Khomeini setibanya di Iran di pidatonya di Bandara Udara Mehrabad menilai kesatuan kata sebagai rahasia kemenangan revolusi dan mengatakan, "Kita harus berterima kasih kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa kemenangan revolusi ini berkat kesatuan kata. Kesatuan kata Muslim, seluruhnya, kesatuan kata minoritas agama dengan muslimin, persatuan universitas dan hauzah ilmiah, persatuan para ulama dan elit poiltik. Kita harus memahami seluruh rahasia ini bahwa kesatuan kata adalah kunci kemenangan, dan jangan sampai kita kehilangan kunci kemenangan ini."
Pada 16 Bahman (5 Februari 1979) melalui pembentukan pemerintahan sementara dan pemilihan Mehdi Bazargan sebagai perdana menteri pemerintahan sementara oleh Imam Khomeini, arus revolusi memasuki fase paling sensitif.
Ansir represif rezim Shah benar-benar putus asa ketika Imam Khomeini merilis statemen penting soal pemerintahan militer tidak lagi memiliki legalitas.
Baiat bersejarah sejumlah komandan angkatan udara Iran dengan Imam Khomeini dan bergabungnya miilter ke barisan rakyat telah menggoyahkan sendi-sendi rezim Shah.
Serangan berdarah Garda Imperial Iran (Garda Javidan/Pasukan Abadi) terhadap angkatan udara pada 20 Bahman (9 Februari 1979) dan eskalasi bentrokan bersenjata rakyat dan militer pada 22 Bahman (10 Februari 1979) serta pemberlakukan peraturan keras larangan lalu lalang di berbagai kota, tidak dapat memadamkan api kemarahan revolusi rakyat Iran.
Pada akhirnya 22 Bahman 1357 Hs (11 Februari 1979) saat militer mengumumkan sikap netralnya, pada akhirnya sistem monarki di Iran yang telah berumur 2500 tahun tumbang dan Revolusi Islam menang.
Apa yang memperkuat sendi-sendi revolusi selama hari-hari sulit melawan taghut dan kubu arogan adalah kehadiran rakyat di lapangan. Bangsa Iran meski menghadapi penumpasan berdarah dan adanya berbagai dukungan terhadap rezim Shah, tapi mereka tetap memilih jalur yang benar sehingga melalui kesatuan suara menunjukkan kepada rezim taghut dan pendukungnya bahwa mereka tidak akan pernah menyerah.
Bangsa Iran di saat-saat sensitif dengan kewaspadaan mengenal musuh, senantiasa menunjukkan bahwa mereka tidak akan pernah mengijinkan musuh mencapai tujuannya.
Kata-kata bangsa Iran hari ini adalah membela seluruh prinsip kehormatan Revolusi Islam dan bangsa Iran tidak akan pernah mundur. (MF)