Jalali: Diskursus Iran Digemari Banyak Orang di Dunia
Des 18, 2024 15:49 Asia/Jakarta
-
Dubes Iran untuk Rusia Kazem Jalali
Partsoday – Duta Besar Republik Islam Iran, untuk Rusia, mengatakan, perseteruan Iran dan Rusia, dengan Barat, memiliki akar sejarah yang mendalam.
Para mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Persahabatan Rakyat Rusia, RUDN, Rabu (18/12/2024) berkunjung ke Kedutaan Besar Iran, di Moskow, dan bertemu dengan Dubes Kazem Jalali.
Dalam pertemuan itu salah satu masalah yang dijelaskan oleh Dubes Iran, untuk Rusia, adalah masalah konflik Iran dan Rusia, dengan Barat.
Menurut Jalali, arena internasional adalah arena perbedaan dan persamaan, hal ini memainkan peran determinan dalam konsep-konsep pembagian blok dan kubu negara-negara dunia.
Ia menambahkan, “Revolusi Islam Iran, dengan jargon intinya ‘tidak timur tidak barat’, berusaha menghidupkan identitas independen, dan karena menentang struktur tidak adil satu kutub dunia dengan poros Amerika Serikat, maka Iran, menerima berbagai macam sanksi keras.”
Pada saat yang sama, Dubes Iran untuk Rusia, menjelaskan bahwa diskursus Republik Islam Iran, banyak digemari orang di dunia.
“Kata-kata logis kami adalah jika AS mengklaim demokrasi, lalu mengapa tekad bangsa-bangsa dunia tidak boleh mendominasi di arena internasional, dan jika diktatorisme di dalam sebuah negara buruk, lalu mengapa harus ada diktator di arena internasional,” imbuhnya.
Jalali juga menekankan bahwa setelah tumbangnya Uni Soviet, banyak upaya dilakukan oleh para politisi Rusia, untuk menjalin hubungan dengan Barat.
Ia menerangkan, “Meski sudah dilakukan upaya-upaya jujur oleh para politisi Rusia, untuk menjalin interaksi dengan Barat, tapi dalam praktiknya, Barat, tidak mempertimbangkan ulang kebijakan-kebijakannya, dan perilaku Barat, seperti ‘Senyuman Monalisa’.”
Di sisi lain, Dubes Iran, menyinggung pidato Presiden Rusia, pada 24 Februari 2022, dan mengatakan, “Pemerintah Tuan Putin, awalnya menetapkan kebijakan berinteraksi dengan Barat, tapi di kemudian hari, kepada Barat, ia mengatakan, ‘Kami datang untuk menjadi anggota Uni Eropa atau bahkan NATO, tapi Anda menolaknya’.”
Kazem Jalali, juga menyoroti akar penyebab perseteruan Rusia, dengan Barat, dan penentangan Amerika Serikat, atas partisipasi aktif Iran dan Rusia, di arena internasional.
“Konflik Iran dan Rusia, dengan Barat, memiliki akar budaya yang mendalam, dan alasan penentangan AS, atas partisipasi aktif Iran dan Rusia, di arena internasional, adalah perbedaan mendasar budaya,” ujarnya.
Ia menegaskan, “Kami tidak bisa menjadi pengikut demokrasi liberal AS, pasalnya kami adalah negara yang memiliki peradaban tinggi lebih dari 3.000 tahun, sementara AS baru memiliki peradaban 1.000 tahun.” (HS)